Melepas Ketegangan di Lapangan Futsal

bermain futsal

bermain futsal

Tiada hari tanpa futsal. Itu mungkin gambaran pas untuk fenomena yang kini berdenyut di Batam. Olah raga ala sepak bola di lapangan yang lebih kecil, itu kini menjadi bagian dari gaya hidup remaja dan eksekutif muda di Batam. Penyuka olah raga ini tak hanya cari keringat, tapi sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Sulton (30-an) jatuh terduduk saat menahan bola yang meluncur deras ke arahnya. Bola dapat ditangkap dengan baik di dekapannya. Ia bangkit, kemudian melempar kembali bola warna kuning itu ke tengah lapangan.

Sulton melepas nafas. Keringatnya bercucuran dari ujung dahinya. Namun, tak ada waktu untuk berleha-leha, bola kembali datang menerjang gawangnya. Jumat pagi itu, di lapangan V Futsal, SPBU Tiban, Sulton kebobolan belasan gol.

Supir Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika itu bermain futsal bersama rekan-rekannya, pagi itu. Di antaranya ada Arfandi, ajudan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dan sejumlah pegawai Satpol PP Kota Batam. Hampir dua jam mereka bermain, sebelum akhirnya menyudahinya dengan minum teh botol.

”Lagi diajak teman-teman. Udah lama gak main,” tukas Sulton.

Jika Sulton dan kawan-kawannya baru kembali ke lapangan futsal setelah berbulan-bulan vakum, tidak halnya dengan Rinaldy dan kawan-kawannya. Pegawai Bank Mega itu hampir setiap Sabtu pagi mencari keringat, sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Tempat yang dipilih Rinaldy adalah lapangan futsal Family Arena di bekas restoran Ikan Daun, Batam Centre. Sejak enam bulan terakhir, saban minggu para karyawan bank itu bermain futsal. Rinaldy dan kawan-kawannya itu malah sudah memiliki tim sendiri, Mega Club.

”Dulu suka main bulu tangkis. Namun, enam bulan terakhir dialihkan ke futsal,” kata Rinaldy, koordinator tim futsal Mega Club.

Saat ditemui kemarin, Rinaldy dan kawan-kawannya baru saja usai bermain. Sambil melepas lelah, mereka duduk berselonjor di lapangan hijau berumput sintetis. Kaos yang sudah basah keringat, mereka lepas. Maka, sambil menunggu hilangnya rasa penat, mereka mengisinya dengan obrolan ringan.

Menurut Joni, rekan Rinaldy, bermain futsal tak hanya sekadar olah raga mencari keringat. Banyak hal yang tak bisa dilakukan di olah raga lain, bisa saja dilakukan di futsal. Misalnya, bermain sambil tertawa-tawa.

”Di sini kita bebas. Mau tertawa juga bisa. Istilahnya, setelah kerja seminggu, di sini kita bisa melepas ketegangan,” tukas Joni yang juga diamini Fauzi, rekan mereka.

Bermain futsal juga lebih simple dibandingkan olah raga lain. ”Cukup datang ke lapangan bawa sepatu. Yang lain sudah disediakan,” tuturnya.

Bermain futsal, kini memang sudah menjadi gaya hidup warga Batam. Minimnya lapangan sepak bola yang memadai, membuat penyuka olah raga sepak bola mengalihkan hobinya ke lapangan futsal. Apalagi, futsal tak butuh banyak pemain, cukup lima orang per tim.

Biaya bermain futsal antara Rp100 ribu sampai Rp225 ribu per jam, tak jadi masalah. Banyak yang memilih patungan antar pemain. Ada juga yang bermain futsal dibiayai perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan, setahun ada yang diberi anggaran sampai Rp20 juta untuk bermain futsal.

Maka, tak heran jika futsal kini ”mewabah”. Mulai dari anak SD, pekerja bank, pekerja pabrik, wartawan, hingga polisi menggandrungi olah raga bola sepak ini. Saking banyaknya, untuk bermain tak bisa langsung datang ke lapangan tanpa pesan tempat terlebih dahulu.

Tingginya minat warga Batam akan futsal bisa dilihat dari banyaknya warga yang bermain di lapangan futsal. Di Family Arena, salah satu lapangan futsal terbesar di Batam, hampir tak ada hari tanpa permainan futsal. Sebanyak tujuh lapangan yang ada di sana, selalu penuh terpakai. Terutama di jam-jam padat, pukul empat sore hingga pukul dua belas malam.

Kehadiran Family Arena sendiri, menurut pengelolanya Sardiman, juga karena tingginya animo warga untuk bermain futsal. ”Dari hasil survei, warga yang ingin main futsal itu banyak. Makanya, itu jadi salah satu alasan berdirinya Family Arena ini,” tuturnya.

Awal tahun lalu, kata Sardiman, Family Arena resmi berdiri. Di tahun pertama itu, Family Arena memiliki empat lapangan, dua lapangan super futsal dan dua lapangan futsal. Lapangan super futsal berukuran besar, sementara futsal ukurannya lebih kecil.

Ternyata, empat lapangan yang ada tak mampu menampung permintaan. Sehingga, Family Arena menambah tiga lapangan lagi. Saat ini, Family Arena sudah memiliki lima lapangan super futsal dan dua lapangan futsal.

Family Arena mematok tarif reguler per jam antara Rp95 ribu sampai Rp150 per jam di hari Senin-Jumat dan Rp150 sampai Rp185 ribu per jam di hari Sabtu-Minggu dan hari libur. Sementara tarif super futsal, antara Rp125 ribu sampai Rp225 ribu.

Untuk pelanggan khusus, Family Arena menerapkan paket member, delapan jam bermain dengan masa berlaku dua bulan. Biaya paket member futsal Rp650 sampai Rp1,1 juta. Sedangkan paket member super futsal Rp800 ribu sampai Rp1,4 juta.

”Untuk anak sekolah ada harga khusus. Anak SD tarifnya Rp5 ribu per jam per orang,” tukasnya.

Paket itu, kata Sardiman, sudah komplet. Pemain futsal cukup datang ke Family Arena membawa sepatu. Kaos, bola, peluit dan papan skor disediakan Family Arena. ”Kalau sudah pesan tempat, cukup datang langsung main,” katanya.****

One response to “Melepas Ketegangan di Lapangan Futsal

  1. fusal itu lagi terkenal jadi saya usul di adakan kejuaraan antar pelajar se nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s