Madzhab Cinta

lovesuatu saat dalam sejarah cinta kita

kita tidur saling memunggungi

tapi jiwa berpeluk-peluk

senyum mendekap senyum

suatu saat dalam sejarah cinta kita

raga tak lagi saling membutuhkan

hanya jiwa kita sudah lekat menyatu

rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita hanya mengisi waktu dengan cerita

mengenang dan hanya itu

yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita mengenang masa depan kebersamaan

kemana cinta kan berakhir

di saat tak ada akhir

====+====

Sajak di atas sengaja kutulis di blog ini. Sajak itu ada di buku Serial Cinta, yang pernah muncul bersambung di majalah Tarbawi, ditulis oleh Anis Matta, dan kemudian menjadi buku tersendiri.

Suatu saat, Anis menulis cinta sepasang kekasih. Betapa dahsyat, tulisnya, goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur, tak ada lelah. Tak ada takut, tak ada aral. Tak ada jarak. Yang ada hanya tekad, hanya rindu, hanya hasrat, hanya puisi, hanya keindahan.

Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Suatu ketika, ia menulis soal cinta Khalid bin Walid akan jihad. Ia bukan menikmati ”saat-saat membunuh orang”. Ia mencintai pekerjaannya, karena itu niscaya untuk mencapai misi dakwah. Maka, ia mencintai kesulitan-kesulitan itu lebih dari apapun jua.

”Berada pada suatu malam yang dingin membeku, dalam suatu pertempuran, lebih aku sukai dari pada tidur dengan seorang gadis di malam pengantin,” katanya.

Lalu, Umar ingin memproklamirkan betapa dalamnya cintanya pada Muhammad, nabi agung itu. ”Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain, kecuali diriku sendiri,” katanya.

Tapi, jawaban Muhammad, sungguh di luar dugaannya. ”Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.”

Itulah cinta. Cinta yang akan membuat kita berada di surga-surga, suatu saat nanti. Sungguh, bukan amal-amal kita yang penuh pamrih itu. Maka, mari kita bermadzhab cinta.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s