Utang Anggota Dewan

uang-rp50-ribuMenjadi anggota Dewan di Batam, berarti memiliki penghasilan besar. Selain mendapatkan uang representasi, ada sejumlah tunjangan yang mereka terima. Ancar-ancarnya, sebulan mereka dapat belasan juta rupiah.  Cukup besar untuk orang kebanyakan. Tapi, bagi mereka ternyata tak cukup.

Surat itu tergeletak begitu saja di meja sekretariat Komisi II DPRD Batam, pertengahan tahun lalu. Selembar surat biasa yang diketik di atas kertas putih kwarto. Tak ada yang istimewa, jika kita tak melihatnya dengan cermat. Isinya, ternyata tentang peminjaman uang.

Surat itu dari seorang anggota Dewan. Ditujukan kepada Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Batam. Anggota Dewan itu berniat meminjam uang Rp5 juta kepada Setwan, dengan jaminan Setwan memotong gajinya di akhir bulan nanti.

Surat itu menjadi istimewa karena diajukan seorang anggota Dewan yang di mata masyarakat memiliki penghasilan besar. Cukup besar, jika kita menghitung penghasilan mereka seperti tercantum dalam PP Nomor 37 Tahun 2006.

Yang terdiri dari uang representasi, tunjangan keluarga, tunjangan beras, uang paket, tunjangan jabatan, tunjangan Panitia Musyawarah, tunjangan komisi, tunjangan Panitia Anggaran, tunjangan Badan Kehormatan dan tunjangan Alat Kelengkapan lainnya. Tunjangan itu masih ditambah lagi dengan tunjangan komunikasi intensif dan tunjangan perumahan.

Di DPRD Batam, setiap hari ada saja warga yang datang menemui anggota Dewan. Ada yang berasal dari kader partai anggota Dewan tertentu, ada juga yang datang dari kawasan pesisir untuk meminta bantuan dana dan pertolongan lain. Namun, rata-rata meminta sumbangan.

Belum lagi, biaya-biaya politik yang mereka keluarkan. Sehingga, sejumlah anggota DPRD Batam memilih berutang atau meminjam uang ke Setwan dan lainnya.

Sejumlah anggota Dewan yang pernah saya tanya mengaku pernah meminjam uang untuk memberi sumbangan atau untuk kepentingan politik mereka. Mereka pinjam uang, biasanya karena ada kepentingan mendadak atau tak lagi memiliki uang di dompet saat ada kader partai mereka atau warga datang meminta sumbangan.

”Politik itu cost-nya tinggi. Kita juga harus care, jika ada yang datang meminta sumbangan,” kata M Zilzal, Sekretaris Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Batam.

Menurut Zilzal, ia meminjam uang jika ada pengeluaran di luar perkiraan. Seperti, ada warga yang meminta sumbangan tadi, di luar alokasi yang sudah dipersiapkan. ”Kadang pinjam ke komisi. Bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga banyak,” tukasnya.

Setyasih Priherlina dari Fraksi PAN mengaku sering pinjam uang ke Setwan. Bahkan, katanya, ia terpaksa harus menyicil untuk melunasi pinjaman-pinjaman uangnya itu. Biasanya, ia membayar pinjamannya dengan memotong gajinya di akhir bulan.

Untuk apa saja pinjaman uang itu digunakan? ”Ya, macam-macam. Tapi, paling banyak untuk sumbangan tadi,” tuturnya.

Wardi Atmowiyono dari Fraksi PDI Perjuangan juga mengaku pernah meminjam uang ke Setwan. ”Tapi, tak sering. Setahun, sekali-dua kalilah. Saya bayar tanpa harus potong gaji,” tukasnya.

Meski banyak anggota Dewan yang pinjam uang dan membayar dengan potong gaji, ada juga yang anti berutang. Reinhard Hutabarat dari PDS misalnya, ia memilih tak berutang. ”Prinsip saya, saya tak mau berutang. Kalau ada yang minta sumbangan, kalau ada uang saya kasih. Kalau tak ada, ya saya tak mau memaksakan diri ngasih sumbangan lewat uang pinjaman,” ujarnya.

Pernah suatu hari, ada seorang ketua komisi mendatangi rekan-rekannya untuk meminta bantuan uang. Ia membuka dompetnya dan memperlihatkan isinya yang kosong. Setelah dapat beberapa lembar uang 50-an ribu rupiah, anggota Dewan itu menggunakan uangnya untuk mengajak sejumlah warga yang datang ke fraksinya makan nasi bungkus. ”Sisanya, untuk ongkos pulang.”

Sekwan DPRD Batam Guntur Sakti mengakui, ada sejumlah anggota Dewan yang pinjam uang ke Setwan. Biasanya, mereka membayarnya dengan potong gaji di akhir bulan. ”Tak banyak. Setiap bulan ada satu dua orang,” kata Guntur.

Anggota DPRD Batam sebenarnya punya utang harus mengembalikan rapelan tunjangan komunikasi intensif. Besarnya, setiap orang harus mengembalikan uang sebesar Rp64,26 juta sampai sebulan sebelum tugas mereka berakhir.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s