Mencintai Kampung Halaman

Pria itu sosok bersahaja. Sudah berpuluh-puluh tahun ia menetap di negeri jiran Malaysia, namun tak pernah melupakan kampung halamannya. Desa Kumalasa, Bawean.

Saya bertemu dengannya delapan tahun lalu, di Kampung Pandan, Malaysia. Umurnya sudah lebih dari setengah abad. Keriput terlihat di sebagian besar wajahnya. Jalannya sedikit bungkuk, dipandu tongkat kayu.

Namun, kecintaannya akan kampung halamannya membuat ia tak pernah diam. Ia keliling menyambangi saudara-saudaranya seperantauan asal Kumalasa, yang ratusan tersebar di Kampung Pandan. Bukan sekadar silaturrahmi.

Ia aktif menjadi panitia pembangunan. Misalnya, jika ada pembangunan masjid atau musalla di Kumalasa yang perlu dana, ia biasa terlibat di dalamnya. Usia yang menua, dan tubuh yang tak lagi muda, bukan halangan. Ia benar-benar mencintai kampung halamannya. Bertahun-tahun lalu, ia meninggal. Meninggalkan sebuah nilai tak terharga.

Sosok kedua adalah Wali Kota Batam. Di setiap pertemuan dengan paguyuban atau organisasi massa lainnya, ia rajin mengajak mereka untuk menjadikan Batam sebagai kampung halaman pertama. ”Kampung yang jauh di sana, itu kampung halaman kedua.”

Wali Kota Batam itu mengungkapkan itu bukan karena ia lahir dan besar kemudian berkarir di Batam. Tapi, ia ingin membuka ruang pikir, ia ingin para perantau yang ratusan ribu berdatangan ke Batam, menjadikan Batam sebagai kampung halamannya. Bukan sekadar tempat mencari penghidupan.

Dua sosok tadi, sama-sama menerjemahkan makna mencintai kampung halaman dengan cara berbeda. Namun, niat mereka sama. Apa yang bergemuruh di hati mereka sama. Sama-sama mencintai kampung halaman.

Jika kini, bermunculan paguyuban di Batam, didirikan oleh orang-orang perantauan di tanah Melayu itu, bisa jadi itu juga bagian dari mencintai kampung halaman. Orang Jawa mendirikan paguyuban Jawa. Orang Batak mendirikan paguyuban Batak. Orang Padang mendirikan paguyuban Padang. Orang Bawean juga membentuk paguyuban Bawean.

Saya jadi teringat enam tahun lalu, saat saya baru lulus kuliah. Bersama teman-teman mahasiswa sekampung, saya berniat melakukan semenisasi jalan setapak menuju pemandian umum yang panjangnya kira-kira 1,5 kilometer.

Maka dibuatkan kepanitiaan. Tanpa modal apapun. Semuanya dimulai dari nol. Kami pontang-panting mencari dana. Hampir setiap malam, saya membawa proposal mendatangi rumah-rumah warga yang cukup ”berada”. Saya minta sumbangan semen. Benar-benar hanya sumbangan semen.

Sebulan berkeliling, semen yang ada baru terkumpul 13 sak. Belum memadai untuk jalan sepanjang 1,5 kilometer itu. Kami pasrah. Namun, apa yang sudah kami rintis, tak boleh berhenti. Kami boleh jadi tak mampu mengumpulkan sumbangan, tapi jalan harus diperbaiki.

Lewat rapat, akhirnya pembangunan jalan itu kami bawa ke rapat desa. Desa yang akhirnya turun tangan. Teman-teman mahasiswa banyak tak setuju. Tapi, saat itu kami bulat. Tak peduli siapa yang berbuat, yang penting jalan setapak itu disemen.

Kerja keras itu berbuah. Semenisasi berlangsung dengan mengerahkan seluruh pemuda di desa kami. Saya lega. Walaupun di pojok pemandian, nama kami sama sekali tak disebut. Ini bentuk kecintaan akan kampung halaman.

Atas nama cinta kampung halaman pula, di sela-sela persiapan membuat jalan, saya menjadi guru komputer di pesantren. Tak dibayar. Saya membagi ilmu gratis. Bahagia, rasanya. Hingga akhirnya, saya meninggalkan kampung halaman itu. Di Batam, di kota ini akhirnya saya berlabuh.****

5 responses to “Mencintai Kampung Halaman

  1. “membuka ruang pikir” itu memang istilah yang tepat tuk menggambarkan prinsip yg harus dipegang oleh perantau. Bukan brmaksud utk lebih mencintai negara/kampung halaman lain, tp utk membagi perhatian dan tgjwab antara tanah tempat tumpah darah, dan juga tanah tmpat kita diam dan hidup, mungkin juga tmpat kita mati.

    Jadi perantau memang sulit. Tantangannya lumayan byk. Tapi, tidak lah terlalu sulit jika kita siap berbagi dan membuka ruang pikir utk sesuatu apa pun yg memberi kemaslahatan kpd lingkungan, terutama org Bawean sendiri.

    Salut bro, ama tulisannya!

    -bawean malaysia-

  2. saya menulis ini karena kini saya tak bisa lagi berbuat banyak untuk kampung halaman. Saya mencintai dalam hati, cinta selemah-lemahnya cinta.
    Banyak perantau yang berjuang untuk kampung halamannya. Termasuk perantau-perantau asal Bawean. Banyak perkumpulan didirikan oleh teman-teman kita dari Bawean itu. Termasuk nanti, mereka akan membikin ICMAB Kepri. Kita dukung yuk, saudara-saudara kita yang punya komitmen tinggi itu…

  3. Salam Kenal.. Wara wiri di weblog, than i found this site .. bius rinduku pada kampung itu makin kental..Bawean oh Bawean

  4. aslm
    tulisan anda mengingatkan saya pada tiap hal yang anda jadikan kenangan. satu lagi orang kumalasa menemui anda. oya, bagaimana pendapat anda tentang perayaan maulid? saya berp[ikir, mungkin kita punya pendapat yang sama.
    senang sekali jika blog saya anda sertakan di blog ini. he 8x.
    wsalm

  5. waduhhh
    ternyata orang Bawean juga ya
    saya pikir bukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s