Maaf, Mak, Saya Masih Dibooking

psk rentan hiv/aids”Maaf Mak, masih dibooking sama Abang,” kata Juwita, 21, sebut saja begitu, seorang PSK, dari ujung telepon ke Anna Trilinda Marnowati, seorang konselor HIV/AIDS Klinik Keluarga Kita di bilangan Nagoya, Selasa pagi, pekan lalu.

Pagi itu, Juwita bersama Dewi, 20, juga nama samaran, tadinya akan diantar Anna melakukan tes HIV/AIDS ke RS Budi Kemuliaan. Surat pengantar sudah disiapkan. Begitu juga surat pernyataan kesediaan mengikuti tes HIV/AIDS, sudah diteken dua gadis itu

Namun tes urung dilaksanakan karena keduanya sedang di-booking pria Singapura. Juwita mengaku tak bisa meninggalkan pria yang menyewanya. Begitu juga Dewi, masih melayani pria hidung belang yang tergila-gila akan kesintalan tubuhnya.

”Saya memaklumi. Kalau memang mereka belum siap, saya harus menunggu sampai mereka ada waktu,” tutur Anna.

Anna sudah bertahun-tahun jadi konselor di Klinik Keluarga Kita yang bernaung di bawah Yayasan Komunikasi Informasi Edukasi Batam. Ia tak sekadar memberi konseling seputar HIV/AIDS tapi juga jadi tempat curhat, terutama oleh para wanita malam yang tinggal di sekitar klinik. Anna pun sering kali dipanggil Mak, Bunda atau Mami.

Hampir setiap hari ada yang datang ke kliniknya. Mulai dari yang hanya konsultasi sampai yang memeriksakan diri. Ada yang hanya tanya-tanya seputar HIV/AIDS, ada yang menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS) sampai terinfeksi HIV/AIDS. Tak sedikit, pria-pria pelanggan para PSK itu ikut memeriksakan diri.

”Rata-rata yang datang para wanita pekerja malam,” tuturnya.

Seperti Juwita dan Dewi misalnya, mereka adalah wanita-wanita pekerja malam yang sudah pernah konsultasi dan siap melakukan tes HIV/AIDS. Juwita dan Dewi sudah lebih setahun bekerja di bar, sekaligus menjual kepuasan seks. Pelanggannya sudah tak terhitung, selalu berganti-ganti.

Sementara di sisi lain, mereka tak pernah tes HIV/AIDS. Kepada mereka yang beresiko tinggi inilah, Anna selalu menganjurkan agar jangan sungkan memeriksakan diri. ”Ini untuk kebaikan mereka sendiri,” katanya.

Para pekerja malam itu, kata Anna, sudah menyadari pekerjaan mereka beresiko mendatangkan mudarat. HIV/AIDS, penyakit yang sampai saat ini belum ada obatnya bisa menyerang setiap waktu. Beberapa di antara mereka ada yang ikut tes, namun beberapa orang lainnya kesulitan mengatur waktu. Godaan uang mengalahkan keinginan mereka untuk memeriksakan diri.

”Karena itu, konselor itu harus sabar-sabar. Kami ini ibarat bermain layang-layang, tarik ulur-tarik ulur, sampai mereka benar-benar siap.”

Dewi dan Juwita akhirnya datang keesokan harinya. Diantar Anna, mereka melakukan tes HIV/AIDS di RSBK. ”Hasilnya baru ketahuan besok,” kata Anna.

Rahasia mereka, kata Anna, ditutup rapat. Klinik keluarga Kita misalnya, memiliki dua ruangan, untuk ruang konsultasi dan pemeriksaan. Ruang konsultasi ditempatkan lebih ke dalam, agar kalau ada yang datang konsultasi atau bercerita, pembicaraan mereka tak didengar orang.

Pernah di bulan April, Anna kedatangan seorang gadis dengan tubuh kurus kering. Gadis itu batuk-batuk terus. Anna kaget, karena paras gadis itu asing di matanya. Ternyata, gadis itu Lili, 25, nama samaran, yang setahun lalu pernah konsultasi di kliniknya. Setahun lalu, Anna bertubuh montok dan terlihat sehat.

“Ia menderita TB. Setelah dicek ke laboratorium, ia juga sudah menderita HIV. Sekarang anaknya sudah pulang kampung ke Jawa Tengah,” tukasnya.

Lili hanya satu nama yang terkena HIV. Data di Kasper HIV Centre di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam mulai tahun 2000 hingga 2007, ada 694 orang yang terinfeksi HIV dan 222 di antaranya masuk dalam tahapan AIDS. Sepanjang tahun itu, 127 orang terenggut nyawanya.

Sepanjang tahun 2009, sudah 130 orang positif HIV dan 60 orang yang terkena AIDS. Yang meninggal 26 orang. Parahnya, dari 130 orang yang terinfeksi HIV, 73 orang berjenis kelamin laki-laki. Bahkan, dari 60 orang yang terkena AIDS, 44 laki-laki. Itu artinya, laki-laki yang merupakan pelanggan para PSK itu kini beresiko lebih tinggi terkena HIV/AIDS dibandingkan para pekerja seks itu sendiri.

Menurut Ketua Pokja HIV Centre RSBK dr M Yamin, mereka yang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS adalah PSK, pelanggan seks dan penderita narkoba yang menggunakan jarum suntik. Karena itu, mereka yang beresiko tinggi itu atau pernah punya masa lalu yang berkaitan dengan penyimpangan seksual atau penggunaan jarum suntik, ia minta untuk memeriksakan diri.

Tingginya angka penderita HIV/AIDS membuktikan dua hal, yakni menandakan banyaknya pengidap HIV/AIDS di Batam dan mulai munculnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Data di Kasper HIV Centre RSBK misalnya, sepanjang tahun 2009 ada 1173 yang melakukan konseling dan 1132 di antaranya berakhir dengan ikut tes HIV/AIDS.

Dari adanya konseling dan tes HIV itulah ketahuan penderita HIV/AIDS di Batam yang berjumlah 130 positif HIV dan 60 di antaranya AIDS. ”Makanya saya menggugah agar mereka yang beresiko tinggi memeriksakan diri,” kata Yamin.

Jika dibandingkan-bandingkan lagi dengan teori fenomena gunung es, menurut Kadis Kesehatan Batam Mawardi Badar, jumlah 130 orang itu mewakili 13.000 penderita HIV. ”Artinya, ada 13.000 penderita HIV di luar sana yang tak terdeteksi.”

Ikut tes HIV, cukup berliku. Sebelum orang benar-benar ingin ikut tes, lebih dahulu harus mengikuti konseling. Konseling ini, kata Yamin, selain untuk mengetahui latar belakang orang, juga untuk menyiapkan mental jika nanti mereka positif HIV. Setelah itu, mereka meneken surat pernyataan bersedia tes HIV/AIDS.

Jika oke, baru kemudian berlanjut pada tahapan ikut tes. Hasil tes muncul, masih ada konseling kedua atau biasa disebut postest counseling. Konseling ini untuk lebih memantapkan mental penderita HIV tadi. ”Tapi, jika hasilnya negatif mereka harus tes lagi enam bulan kemudian.”

Karena HIV/AIDS menyerang kekebalan tubuh, pemeriksaan daya tahan tubuh juga dilakukan. Biasanya, jika CD4 (komponen darah putih) kurang dari 200, mereka harus rutin mengkonsumsi obat ARV antiretroviral (ARV). ”Tidak ada kata sembuh (bagi penderita HIV/AIDS), belum ada obat yang bisa mengobati. Makanya mereka harus minum obat seumur hidup,” kata Yamin.

Yamin menganjurkan penderita HIV untuk tidak memakan makanan mentah atau suntik imunisasi dengan kuman yang dilemahkan seperti imunisasi polio dan sebagainya. ”Juga harus berperilaku hidup sehat, dengan tidak melakukan hubungan seks.”

Seringkali, penderita HIV/AIDS terlambat ditangani akibat mereka enggan membuka diri atau tak mau memeriksakan diri. Pernah, kata dr Fransisca L Tanzil, rekan M Yamin di Kasper HIV/AIDS RSBK, ada seorang bapak yang menularkan HIV kepada isteri dan anaknya, kemudian anaknya menularkannnya ke menantunya. Bahkan, ada satu keluarga yang baru ketahuan terkena HIV setelah bayi mereka diperiksa.

”Ibu dan bapaknya itu ketahuan kena HIV, setelah anaknya ketahuan. Kalau seandainya sudah memeriksakan diri sejak dini, mungkin masih bisa dicegah,” ujarnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s