Banjir di Anggaran, Kering di Kinerja

Sudah bertahun-tahun, Medan, 57, merasa diayun-ayun setiap kali keluar masuk jalan lebar di kawasan Kavling Pelopor, Seilekop, Sagulung. Tubuhnya yang tinggi besar bergoyang di atas sepeda motor akibat melewati jalan tanah berbatu sepanjang kira-kira satu kilometer itu.

”Kalau dihitung-hitung, sudah 14 tahun tinggal di sini, jalannya begini terus. Tak pernah diaspal-aspal. Badan saya sakit kalau lewat sini,” katanya, Senin pekan lalu.

Jalan yang dimaksud Medan adalah pintu masuk ke Kavling Pelopor yang padat penduduk. Jalan itu bersentuhan dengan jalan beraspal di depan Kantor Lurah Seilekop. Kondisinya tidak rata, tertutup bauksit.

Menurut Medan, sejak tahun 1995 warga memperjuangkan agar jalan tersebut diaspal. Saat itu warga mengadu ke Otorita Batam. Berkali-kali tak tembus, warga mengadukannya ke Pemko Batam. Saat itu ada respon, Pemko menjanjikan bakal mengaspal jalan itu.

Saat kampanye calon Gubernur Kepri 2004 silam, warga Kavling Pelopor kembali dijanjikan bakal dapat pengaspalan jalan. Namun, karena yang berjanji tak duduk di kursi Gubernur, janji itu tak pernah terealisasi.

Tahun 2007, warga mengadu ke Komisi III DPRD Batam. Hasilnya, pengaspalan jalan di tempat itu dimasukkan ke APBD Batam 2007. Namun, tahun itu pengaspalan tak berjalan. Kemudian dimasukkan lagi ke APBD Batam 2008. Lagi-lagi warga Kavling Pelopor harus mengelus dada, karena di tahun itu tak satupun proyek peningkatan jalan di Dinas Pekerjaan Umum Batam berjalan. Semua mandeg, termasuk proyek peningkatan jalan di Kavling Pelopor tersebut.
”Sampai ketua RW kami meninggal, pengaspalan jalan ini belum juga terealisasi,” tutur pria asal Sumatera Barat, itu.

Tahun ini, Medan dan ribuan warga Kavling Pelopor mendapatkan angin segar. Di APBD Batam 2009, peningkatan jalan sepanjang 1 kilometer tersebut bakal kembali dilaksanakan. Anggarannya, Rp2,4 miliar.

Tak jauh dari Kavling Pelopor, Fredi, 36, warga RT 2 RW 16 Seilangkai, harus ekstra hati-hati setiap kali melewati jalan di Perumnas Baru Batuaji, Sagulung di depan MIN Batam. Jalannya berlubang di sana-sini. Lengah sedikit, bisa tersungkur. Kalau hujan, air menggenang di lubang-lubang itu.

”Kalau panas, debunya beterbangan. Rusak parah,” katanya, Senin sore pekan lalu.

Seperti yang dialami warga Kavling Pelopor, warga Perumnas Baru Batuaji juga harus menunggu bertahun-tahun agar jalan raya yang membelah perumahan mereka diperbaiki. Sudah sempat dianggarkan tahun lalu, namun proyek pembangunannya mandeg.

”Kami tak lagi berharap. Nunggu musim kampanye, siapa tahu ada yang mau mengaspal,” tuturnya.

Di APBD Batam 2009, bersama enam kawasan lainnya, peningkatan jalan di Perumnas Baru itu masuk di kegiatan peningkatan jalan wilayah V Kota Batam. Khusus di Perumnas Baru, jalan yang bakal diaspal sejauh 1,4 kilometer dengan anggaran Rp3,36 miliar.

Tak kalah parah kondisi di jalan raya dua jalur di Baloi yang memisahkan Perumahan Baloi Mas Asri dan Baloi Mas Indah. Mulai dari simpang empat Penuin hingga SPBU Coco Seiladi ruas jalan penuh lubang. Bentuk lubang tak beraturan dan dalam.

Padahal jalur tersebut merupakan jalur padat lalu lintas. Batam Pos mencatat, di jam-jam sibuk, dalam satu menit ratusan kendaraan melintas. Tak ada yang berani melaju cepat, semuanya melambat akibat melewati lubang yang tak bisa lagi dihindari.

Pengendara sepeda motor, paling susah jika melintas di jalan itu. Harus hati-hati dan pandai mengendalikan motor karena mau tak mau harus melewati lubang-lubang yang bertaburan di jalan tersebut. Tak ada jalan mulus di jalur sepanjang kira-kira 2 kilometer itu.

Andika, 26, punya pengalaman buruk saat melintas di jalan Baloi tersebut. Sepeda motor warga Tiban itu sempat terperosok dan bannya pecah. Ia tersungkur mencium aspal. Wajahnya luka, kakinya gosong terkena knalpot.

”Sudah jalannya berlubang-lubang, lampu jalannya mati pula. Pokoknya kalau tak hati-hati, lewat, ” katanya, sambil tangannya memperagakan tanda orang tersungkur.

Jalan di Baloi itu, sudah dikeluhkan warga sejak tiga tahun terakhir. Karena tak kunjung diperbaiki, warga pernah menanam pohon di jalan tersebut. Pemko Batam sempat beralasan jalan tersebut merupakan jalan protokol yang menjadi kewajiban Otorita Batam. Namun karena di desak terus, Pemko akhirnya bersedia memperbaikinya.

Kepada Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika, Kadis Pekerjaan Umum Batam Harry Roekanto sempat menjanjikan bakal menyelesaikan penambalan jalan Baloi tersebut akhir Desember 2008. Namun, sampai sekarang jalan tersebut terus memakan korban.

Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov menunjuk jalan Baloi sebagai bukti lambannya kinerja Wali Kota Batam. ”Masa memperbaiki jalan saja tak becus. Sangat lamban,” katanya. Tiap tahun, kata dia, pemerintah mengajukan anggaran besar untuk proyek fisik. “Kesannya, kan mau uangnya saja, tapi nggak mau kerja,” ujarnya.

Tahun ini, Pemko Batam kembali menganggarkan peningkatan jalan dua jalur di Baloi itu, mulai dari simpang Baloi Centre hingga simpang Universitas Internasional Batam atau sepanjang 4,8 kilometer. Nilainya tak tanggung-tanggung, Rp10,56 miliar.

Namun, berdasarkan laporan Dinas Pekerjaan Umum ke Komisi III DPRD Batam, pengerjaan jalan tersebut saat ini proyeknya masih dalam tahap proses lelang. Inilah yang membuat Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam M Zilzal pesimis.

”Saya khawatir, proyek itu tak terealisasi lagi karena waktunya sudah mepet,” katanya.

Khusus proyek pembangunan fisik di Dinas Pekerjaan Umum, tahun ini Pemko Batam menganggarkan dana Rp197,242 miliar untuk pengerjaan sepuluh program dan puluhan kegiatan. Di antaranya pembangunan jembatan beton dan pelantar beton, pemeliharaan jalan berkala dan rutin maupun pemeliharaan lampu jalan.

Lalu ada proyek pembangunan drainase seperti di depan Perum Villa Mukakuning, pembangunan drainase sekunder di Sagulung Sentosa di samping Puskesmas Seilekop, di MKGR Batuaji, di Bengkong Asrama PLTD X, Perumahan Putri Tujuh, di depan DC Mall dan lainnya.

Kemudian ada proyek peningkatan jalan di enam wilayah. Seperti peningkatan jalan di simpang Masjid Quba sampai dengan Perumahan Duta Mas, peningkatan jalan dua jalur di Bengkong Seken, Peningkatan jalan di Perumahan Mekar Sari, peningkatan Jalan di Mangsang Tanjungpiayu, peningkatan jalan di Kavling Pelopor Sagulung, peningkatan jalan di Pandawa dan lainnya.

Ada proyek penyediaan sarana air bersih dan sanitasi air bersih dan limbah di kawasan-kawasan hinterland. Atau pembangunan pengaman tebing pantai di tempat itu.

Dan hampir sebagian besar proyek tersebut merupakan proyek yang seharusnya dilaksanakan tahun 2008. Seperti proyek pembangunan drainase dan jalan di Bengkong PLTD RW X misalnya, sudah bertahun-tahun ditunggu masyarakat Bengkong.

”Dulu sempat diukur-ukur, entah kenapa tak kunjung dibangun. Jalannya rusak, kalau hujan banjir. Air meluap karena drainasenya kekecilan,” kata Een (30-an) warga Bengkong Asrama.
Itu artinya, ”Kalau dikerjakan sejak awal, masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya. Itu utang pemerintah daerah ke masyarakat,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Batam Onward Siahaan.

Uniknya, sepanjang 2008, tak satupun proyek pembangunan kantor camat dan lurah yang mandeg. Dengan senyum mengembang, Wali Kota Ahmad Dahlan meresmikan penggunaan sepuluh kantor lurah dan empat kantor camat di Kantor Lurah Tiban Baru, pertengahan Februari 2009, lalu. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s