Beda Angkanya, Sama Korbannya

Sejak krisis ekonomi global melanda, menurut Dinas Tenaga Kerja Batam setidaknya 8.000 buruh kehilangan pekerjaan. Apindo menyebut yang terkena PHK mencapai 175 ribu orang.
***
Papan pengumuman lowongan kerja di Community Centre (CC) Batamindo, Mukakuning, itu menyedot begitu banyak perhatian. Senin pekan lalu, puluhan mata memandang tak lepas pada 21 lowongan kerja yang ditempel di sana. Begitu satu orang pergi, rombongan lainnya datang.

Dari pagi sampai siang, kerumunan di depan pengumuman itu tak pernah berkurang. Rata-rata, mereka adalah para pendatang baru yang hendak mengadu nasib di Batam. Satu-dua lainnya adalah mantan karyawan yang baru saja habis kontrak kerjanya.

Di antara kerumunan itu, Dodi, 21, dan Cahyono, 21, duduk lemas di bangku panjang, tepat di depan papan tersebut. Bergantian, mereka meneguk sebotol teh dingin yang dibeli di kios sebelah. ”Semua untuk cewek. Tak ada lowongan buat cowok,” kata Dodi.

Sebanyak 21 lowongan pekerjaan yang dipasang di papan itu memang rata-rata mencari operator perempuan. Ada yang membutuhkan tenaga 50 orang, ada juga yang membutuhkan 25 orang. Meski begitu, tetap saja banyak juga laki-laki yang memelototi pengumaman itu. Termasuk Dodi dan Cahyono.

Dodi dan Cahyono sudah membaca lowongan itu dari pagi. Karena tak ada lowongan yang pas buat mereka, keduanya lalu berkeliling ke sejumlah perusahaan di Batamindo, berharap ada lowongan kerja yang ditempel di depan perusahaan. Namun hingga siang, apa yang mereka cari tak ada, sehingga memutuskan kembali lagi ke CC Batamindo.

Dodi baru datang dari Sumatera Barat, sebulan lalu. Ia lulusan SMK tahun 2007. Dua tahun di Padang ia berdagang, lalu karena terus merugi ia bermaksud merantau ke Batam, tinggal bersama pamannya di Batuaji. Sama seperti Dodi, Cahyono juga lulusan SMK tahun 2007. Ia sempat membuat paspor dan hendak kerja menjadi pelaut. Tapi, cita-citanya itu pupus karena ia ternyata menjadi korban penipuan.

Jika Dodi belum dapat pekerjaan, Cahyono sudah dua minggu menjadi pekerja di galangan kapal di kawasan Tanjunguncang. Senin pekan lalu, Cahyono ketinggalan truk yang mengangkut para pekerja dari Batuaji ke Tanjunguncang, karena itu ia memutuskan mencari lowongan lain di Batamindo.

“Kalau ada pekerjaan yang lebih baik, saya akan pindah,” katanya.

Cahyono mengaku datang ke Batam karena Batam terkenal sebagai kota industri dan banyak teman-temannya sudah lebih dulu bekerja di Batam. Sama halnya dengan Dodi, ia datang ke Batam karena teman-temannya banyak yang bekerja di kota ini. ”Daripada di kampung tak ada kerja, lebih baik cari kerja di Batam.”

Begitu juga dengan Erwin, 23, yang baru saja berhenti kerja karena habis kontraknya. Ia mendatangi CC Batamindo untuk mencari pekerjaan baru. ”Sudah dua minggu jalan cari lowongan, belum juga ketemu. Dulu, tak sesusah ini,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Ahmad, 27, memandangi lowongan yang terpasang di sana. Ahmad mengaku baru dua hari menganggur. Sebelumnya, selama enam tahun ia bekerja sebagai marketing di sejumlah perusahaan. ”Saya pindah-pindah terus,” katanya.

Sampai saat ini, Batam terus menjadi magnet yang menarik para pendatang untuk mengadu nasib. Padahal, menurut catatan Dinas Tenaga Kerja Batam, sejak Oktober 2008 sampai Juli ini, ada sekitar 8.000 pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global.

”Saya lupa angka pastinya. Sejak akhir 2008 sampai sekarang, kira-kira ada pengurangan karyawan sekitar 8.000 orang. Itu di perusahaan-perusahaan elektronik dan manufaktur seperti di Mukakuning dan lainnya,” kata Kadis Tenaga Kerja Batam Rudi Sakyakirti, Selasa pekan lalu.

Pengurangan karyawan itu, kata Rudi, akibat imbas krisis ekonomi global. Banyak perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk ekspor tujuan Eropa, Jepang maupun Amerika yang tak lagi beroperasi atau mengurangi produksi karena order juga berkurang.

Pola pengurangan karyawan itu, biasanya dilakukan perusahaan terhadap pekerja yang habis masa kontraknya. Begitu kontrak mereka habis, kontraknya tak lagi diperpanjang. Bahkan, banyak perusahaan yang memilih memulangkan karyawannya tapi tetap membayar gaji mereka sesuai kontrak karena tak bisa berproduksi lagi. Ada juga perusahaan yang memberhentikan pekerjanya (PHK).

“Selama pengurangan karyawan itu sesuai dengan aturan yang ada, seperti hak-hak mereka dipenuhi sesuai aturan, tak ada masalah. Ini murni karena imbas krisis global,” tukas mantan Kabag Hukum Pemko Batam, itu.

Namun, pengurangan ribuan karyawan itu bukan kiamat bagi pencari kerja di Batam. Di antara gelombang pengurangan karyawan itu, ada juga sejumlah perusahaan yang sudah mengajukan permohonan akad ke Dinas Tenaga Kerja Batam untuk mendatangkan pekerja dari luar, untuk kebutuhan tahun 2010, mendatang. Ancar-ancarnya, mereka membutuhkan sekitar 500 hingga 1.500 pekerja.

”Mudah-mudahan tahun depan bisa normal lagi,” ujarnya.

Ternyata, angka pengurangan karyawan akibat krisis ekonomi global yang dipunyai Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam lebih gawat lagi. Ketua Apindo Abidin menyatakan, ada sekitar 175 ribu pekerja di Batam yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global sejak November 2008 sampai Juli ini.

”Ini bukan omong kosong. Terbukti pada Pemilu lalu, berapa banyak pekerja Mukakuning yang terdaftar di DPT namun tak datang ke TPS karena sudah dipulangkan,” katanya, Rabu pekan lalu.

Krisis ekonomi global saat ini, kata Abidin, merupakan krisis terhebat sejak era perang dunia II berakhir. Awalnya, ia memprediksi krisis ini akan terjadi selama tiga tahun. Namun, melihat kinerja pemerintahan AS di bawah pimpinan Barrack Obama dan kinerja tim ekonomi Indonesia yang cukup baik, ia berharap ekonomi bisa pulih di tahun 2010.

Industri di Batam, kata Abidin, yang hampir 99 persen produknya berorientasi ekspor ke negara-negara yang terempas krisis ekonomi sangat merasakan dampaknya. “Bohong, kalau Batam dibilang tak terkena imbas krisis ekonomi global.”

Setidaknya, kata Abidin, ada sekitar 15 perusahaan yang tutup. Tujuh di antaranya terekspos ke publik, namun sembilan perusahaan kecil lain yang tutup tak sampai terdengar ke permukaan. ”Ada sekitar 20 perusahaan lain yang saat ini dalam posisi bertahan,” ujarnya. Perusahaan apa saja, Abidin enggan membukanya.

Jika sampai krisis ini terus terjadi sampai tahun depan, kata Abidin, tidak menutup kemungkinan 20 perusahaan yang kini bertahan dalam hempasan krisis itu akan tutup. ”Kalau ini terjadi, sekitar 15 ribu hingga 20 ribu pekerja di perusahaan-perusahaan itu bisa kehilangan pekerjaan,” katanya.

Jika melihat apa yang sudah terjadi, perkiraan Abidin bisa saja terbukti. Di PT Infineon saja, perusahaan yang memproduksi IC otomotif di Mukakuning, menurut Bendahara PUK SPMI Infineon Nikson Sitorus, sudah mulai tak memperpanjang kontrak karyawan yang habis masa kontraknya akibat order di perusahaan itu yang berkurang.

”Produksi pernah anjlok sampai 50 persennya karena order berkurang. Sekarang perlahan mulai tumbuh lagi,” katanya.

Kerja lembur atau OT (overtime) yang biasanya ada, katanya, sudah dihentikan. ”Tapi sekarang perusahaan mulai rekrut pekerja baru,” tukasnya.

Disnaker dan Apindo boleh saja berbeda soal data, tapi korbannya tetap sama: pekerja yang butuh hidup dan makan. Lepas dari data siapa yang akurat, kata Agus Sriono, Ketua PC SPEE FSPMI Batam, banyak karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global. Kenapa pengurangan karyawan besar-besaran itu tidak terlalu mencolok karena tak terjadi sekaligus. Ada perusahaan yang terkena imbas krisis ekonomi global di akhir 2008 karena negara tujuan ekspor mereka mengalami krisis, ada juga yang baru merasakan dampaknya di tahun 2009.

”Dampaknya tidak berbarengan. Itu terjadi karena perusahaan satu dengan yang lain produksinya berbeda dan pasarnya juga berbeda,” katanya.

Akhir Desember 2008 lalu misalnya, Batam Pos pernah memberitakan tentang 700 pekerja PT Schneider Electric di Mukakuning, khususnya bagian operator, yang dirumahkan akibat order kurang. Untungnya, ratusan pekerja yang dirumahkan itu masih menerima gaji pokok. “Kalau order (sudah) normal, kami akan dipanggil lagi,” kata Andri, salah seorang karyawan.

Sebulan sebelumnya, PT Shinetsu Batam dan sejumlah perusahaan sejenis juga melakukan kebijakan yang sama, merumahkan ratusan pekerja.

Di awal tahun 2009, sekitar 100 karyawan PT Nu Tune dan PT TEC yang tinggal di dormitori Blok P dan R, Batamindo dipulangkan karena habis masa kontrak kerjanya. Perusahaan-perusahaan itu tak memperpanjang lagi kontrak mereka karena terempas krisis ekonomi global. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s