Biar Antre, Asal Tak Kebakaran

Antrean panjang warga membeli minyak tanah kini makin sering terlihat, terutama menjelang pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji. Mereka mengaku takut tak kebagian minyak tanah, sekaligus takut mengalami kebakaran jika berganti ke elpiji.
***
Ramsina, 44, hampir saja terjatuh saat hendak turun dari boncengan sepeda motor. Dengan memegang jirigen di tangan kanannya, ia bergegas melewati jalan basah menuju Pangkalan Minyak Sabariah. Selasa pagi pekan lalu, pangkalan di Kampung Becek, Seiharapan, Sekupang, itu sudah dipenuhi antrean puluhan warga lainnya.

Antrean pembeli minyak tanah itu melengkung berbentuk huruf L. Rata-rata mereka adalah ibu rumah tangga, mengenakan daster, bersandal jepit. Beberapa di antaranya menggendong anak. Satu-dua, ikut juga mengantre bapak-bapak.

“Isteri lagi masak di rumah,” kata seorang bapak dengan kumis tebal yang ikut dalam antrean.

Di antara antrean panjang itu, Ramsina berdiri paling belakang. Makin lama antrean makin panjang. Jika tadinya Ramsina berdiri di belakang, makin siang ia mulai beringsut ke tengah.

Akhirnya, setelah berdiri lebih setengah jam, jirigennya terisi juga. Pagi itu, penjual makanan di kawasan Pelabuhan Sekupang itu mendapatkan minyak tanah 5 liter. “Ini sebenarnya tak cukup buat satu minggu. Tapi, gimana lagi, jatahnya segitu,” katanya.

Imel, 33, warga Kampung Becek, juga mendapatkan 5 liter minyak tanah. Jika pembeli tak banyak, ia sering mendapatkan sepuluh liter. “Kalau hanya untuk kebutuhan memasak, 5 liter cukup seminggu. Tapi, kan saya sering juga bikin kue, jadi kadang tak cukup,” tuturnya.

Imel mengaku saban minggu mengantre minyak tanah. Setiap lori minyak masuk pangkalan, ia pasti datang. Sejak kabar bakal adanya pergantian minyak tanah ke gas elpiji berhembus, ia makin tak tenang. “Kalau boleh, saya ingin beli minyak tanah sebanyak-banyaknya,” katanya.

Namun karena sudah dijatah, setiap pembelian minyak tanah di pangkalan dibatasi. “Kadang 5 liter, kadang 10 liter. Tergantung banyak tidaknya pembeli,” tukas Desi, 33, warga lainnya.

Jika Ramsina dan warga Kampung Becek di Seiharapan, Sekupang, kebagian minyak tanah, nasib Rokia, 33, dan belasan warga lain yang tinggal di rumah liar di seputar Pasar Pagi, Jodoh, beda lagi. Selasa pekan lalu, mengantre di tengah terik matahari, Rokia tak kebagian minyak tanah. Minyak di Pangkalan Lubis, Jodoh, itu habis ketika Rokia dan kawan-kawannya bertahan di antrean hampir satu jam.

“Sampai kami mau kelahi-kelahi tadi. Sudah ngantre panas, tak kebagian juga,” katanya. Rokia, mengantre sambil menggendong putrinya, Tika.

Senasib dengan Rokia, Laila, 29, juga tak kebagian. Biasanya, menurut Laila, lori minyak baru datang sekitar pukul sepuluh. “Tapi tadi kepagian. Saya telat dikasih tahu, pas datang antrean sudah panjang,” tuturnya.

Padahal untuk sampai ke Pangkalan Lubis itu, kata Laila, ia harus berpanas-panas jalan kaki. “Anak saya, saya titipkan ke tetangga agar dapat minyak. Eh, malah tak dapat.”

Minyak tanah, kata Laila, sangat mereka butuhkan untuk keperluan memasak. “Bertahun-tahun di Batam, saya tak pernah pakai elpiji. Tak ada duit,” tukasnya.

Di waktu yang sama, jauh di Kampung Gang Lestari, Batuaji, antrean panjang pembeli minyak tanah juga mengular. Di Pangkalan Minyak T Sembiring itu, ratusan jirigen sudah dijejerkan, berjam-jam sebelum lori minyak datang.

“Sudah dua hari warga ngantre,” kata Upik, wakil ketua RT 02 RW 04 Kampung Gang Lestari.

Menurut Upik, warga menyerbu pangkalan karena minyak tanah sulit didapatkan. Pasokan minyak ke pangkalan kadang datang dua atau tiga minggu sekali. Karena itu, begitu lori minyak masuk, warga berebutan menyerbu.

“Pasokannya tak cukup, ada yang tak kebagian. Ibu-ibu ini mau berkelahi,” tuturnya.

Pasokan minyak tanah di pangkalan tersebut tak sebanding dengan jumlah rumah yang dilayani. Setiap kali datang, pasokannya 2.000 liter, sementara yang dilayani 300 hingga 400 rumah. “Dulu pasokan bisa sampai lima ton (5.000 liter). Tapi sekarang cuma dua ton, jadi tidak cukup,” ujarnya.

Pasokan minyak tanah yang kurang itu, membuat warga pusing. Untuk mengakalinya, warga rela membayar di depan. “Satu minggu sebelum minyak datang, kami sudah bayar ke pangkalan,” kata Yanti, warga Kampung Terokah, Tanjunguncang.

Di temui di kantornya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral KOta Batam Ahmad Hijazi mengungkapkan, fenomena antrean panjang pembelian minyak tanah di Batam bukan karena minyak tanah mulai langka. “Itu hanya akibat panic buying. Masyarakat berebut membeli minyak tanah karena menganggap minyak tak ada, padahal stoknya banyak. Saya sudah konfirmasi ke Pertamina, stok kita cukup,” tukasnya.

Takut Kebakaran

Segepok formulir yang berisi survei soal konversi minyak tanah ke gas elpiji itu diterima Udin Sallo, Ketua RT 08 RW IV, Baloi Indah, Lubukbaja, dari ketua RW, awal Juli, lalu. Formulir itu diminta dibagikan kepada warga pengguna minyak tanah yang tinggal di RT 08, Kampung Dalam, Baloi Indah, tersebut.

“Tapi tak cukup. Formulirnya cuma seratus, sementara warga saya di sini sekitar 203 KK. Semua pengguna minyak tanah,” katanya. Karena tak cukup, Udin hanya membagikan formulir itu ke seratus orang. “Saya termasuk yang tak kebagian,” tuturnya.

Survei konversi minyak tanah yang bertujuan menyisir pengguna minyak tanah agar bisa mendapatkan paket gas elpiji itu memang tak menyentuh semua warga. Di Baloi Indah misalnya, menurut Lurah Baloi Indah, Ridwan Affandi, dari 15.897 warganya, hanya 2.577 keluarga saja yang mendapatkan formulir. “Kami di kelurahan hanya memfasilitasi saja,” katanya.

Toh, tak semua warga menyambut baik program tersebut. Seperti di RT08 RWIV misalnya, tak semua mendukung sepenuhnya program konversi minyak tanah ke gas elpiji tersebut. Ada juga warga yang masih ingin tetap menggunakan minyak tanah seperti saat ini. “Termasuk saya. Selama bertahun-tahun tinggal di Batam, saya selalu menggunakan minyak tanah,” kata Nuraini.

Nuraini, isteri Udin, mengaku lebih sreg mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah daripada harus beralih ke gas elpiji. “Takut terbakar,” katanya.

Pengakuan yang sama juga diutarakan puluhan warga yang ditemui Batam Pos saat mengantre minyak tanah. Eli, 39, warga Tanjunguma mengaku takut mengalami kebakaran kalau nanti harus beralih menggunakan gas elpiji. “Tahu sendiri Mas, kami tinggal di ruli (rumah liar). Kalau meledak, bisa habis rumah kami,” tukasnya.

Selama enam tahun tinggal di Batam, Eli mengaku selalu menggunakan kompor sumbu berbahan bakar minyak tanah. Mulai dari menanak nasi, menggoreng ikan sampai memanaskan air, ia tak pernah berpaling dari kompor minyak. “Kami masyarakat kecil, manalah mampu beli elpiji,” tuturnya.

Desi, 35, warga Kampung Becek Seiharapan, juga mengungkapkan ketakutan yang sama. Menurut dia, dari berita-berita tayangan televisi yang biasa ia tonton soal penggunaan elpiji 3 kilogram itu, banyak yang meledak. “Makanya, kalau boleh milih, lebih enak pakai minyak tanah saja,” tuturnya.

Selain tak perlu khawatir meledak, kata Desi, menggunakan minyak tanah juga tak perlu khawatir tak punya duit karena harganya murah dan bisa dibeli eceran. “Kalau lagi tak punya duit, masih bisa kita beli minyak tanah seliter. Kalau gas, harus beli satu tabung,” katanya.

Beda dengan Ramsina. Meski bertahun-tahun menggunakan minyak tanah, ia mengaku siap mengikuti program pemerintah, beralih ke gas elipiji. “Kalau aturannya sudah begitu, saya ikut saja,” tukas wanita asal Sumatera Utara, itu.

Namun kalau bisa memilih, kata Ramsina, ia memilih menggunakan minyak tanah. “Ngantre lama, tak masalah,” tukasnya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s