Habis Gelap, Terang Tak Dapat

Sinar kemerahan matahari sore perlahan redup. Suara muadzin dari Masjid Babussalam, di Perumahan Griya Pramuka Permai, berlatar jembatan Dompak dan laut lepas, mengalun lewat pengeras suara. Adzan, tanda masuknya waktu salat magrib menunggu detik.

Senin pekan lalu, jarum jam melewati pukul enam sore. Listrik tiba-tiba padam. Kegelapan menyelimuti perumahan di Jalan Pramuka itu. Terhenti pula suara muadzin. Senyap.

Di ujung gang, sebuah keluarga melewatkan salat magrib ditemani lampu darurat (emergency lamp) yang dipasang di atas lemari ruang tengah. Lampu itu tak cukup terang, namun bisa menerangi penghuninya agar tak meraba-raba dalam gelap. Di dapur, lampu teplok membantu penerangan.

Lampu teplok itu kemudian pindah ke ruang depan. Dua kakak beradik bersimpuh di situ, Ikhsan, 9, dan Mutiah, 8. Keduanya siswa SDIT Al Madinah. Malam itu, mereka ingin mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Dengan pencahayaan minim itu mereka membaca dan menulis. ”Saya ada PR pelajaran agama,” kata Mutiah. ”Kalau saya PR bahasa arab,” Ikhsan menimpali adiknya.

Menurut Laila, 39, ibu mereka, sebenarnya anak-anaknya sudah dibiasakan belajar sore. Setiap kali pulang sekolah, ia meminta Ikhsan dan Mutiah belajar dulu. Tujuannya satu, agar jam belajar mereka tak terganggu pemadaman listrik.

”Tapi, namanya anak-anak, pulang sekolah mereka kan ingin main sama teman-temannya juga. Kadang capek karena sekolah sampai sore, saya tak paksa mereka untuk langsung belajar,” katanya.

Pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi di Tanjungpinang, kata Laila, tak hanya menganggu proses belajar anak-anaknya. Dia yang juga seorang guru SMP, ikut merasakan dampaknya. Terutama berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai guru.

”Kadang kan ada tugas-tugas sekolah yang harus dicek di rumah. Sementara listrik hidup mati-hidup mati begini,” ujarnya.

PLN Tanjungpinang memang melakukan kebijakan pemadaman bergilir sejak salah satu pembangkitnya dalam masa pemeliharaan. Senin itu, Perumahan Griya Pramuka Permai yang masih dalam kawasan Jalan Pramuka, mendapatkan giliran pemadaman pukul 17.00-20.00 WIB.

Namun sore itu, pemadaman baru terjadi lewat pukul enam. Esoknya, Jalan Pramuka kembali diumumkan sebagai kawasan yang listriknya akan dipadamkan. ”Biasanya, pemadaman bergilir dua hari sekali,” kata Laila.

Beberapa kilometer dari rumah Laila, Jhony Handoko juga dibikin repot. Pemilik mini market dan lapangan olah raga Mahakam Badminton Centre itu harus berlari menyalakan genset jika listrik tiba-tiba padam.

”Saya tak pakai sistem otomatis. Kalau listrik mati, saya lari hidupin genset. Diputar secara manual. Kalau pakai otomatis, mahal,” katanya.

Di temui di lapangan badminton, Senin malam pekan lalu, Jhony mengaku sudah menyediakan genset berkekuatan 15.000 KVA sejak membuka usaha mini market dan lapangan badminton tahun 2006. Genset itu, ia gunakan untuk menerangi dua usahanya itu.

Masih di tempat yang sama, Jhony sebenarnya juga menyewakan puluhan kamar kos yang letaknya di antara mini market dan lapangan bulu tangkisnya itu. ”Cuma kos-kosan tak saya aliri genset. Tak kuat. Kalau listrik mati, ya kos-kosan gelap,” tuturnya.

Senin malam itu, kebetulan mini market Jhony tidak menjadi sasaran pemadaman. ”Minggu kemarin, listrik di sini padam. Malam ini, hidup.”

Ditanya apakah pemadaman listrik bergilir ini merugikan bagi seorang pengusaha seperti dirinya, Jhony mengangguk. Menurutnya, pemakaian listriknya tak menurun meski listrik sering padam. Setiap bulan, tagihan listrik yang ia bayar tetap sama seperti saat tak ada pemadaman.

”Pemakaian genset ini seperti biaya ekstra. Setiap bulan, untuk beli solar saja sekitar Rp4 juta. Sementara bayar listrik, hidup atau mati sama terus,” tukasnya.

Pemadaman listrik yang paling dirasakan akibatnya oleh Jhony, terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2008, silam. Saat itu pemadaman listrik hampir terjadi tiap malam. Durasinya juga lebih lama.

Sejumlah penjual genset di kawasan Jalan Pasar dan Temiang juga sempat meraup untung di bulan Juli-Agustus tersebut. Di toko Watsun misalnya, setiap hari rata-rata tujuh unit genset terjual.

”Kalau sekarang sudah tak ada lagi yang beli genset. Karena orang Tanjungpinang ini sudah banyak yang punya dan rata-rata sudah biasa dengan pemadaman. Kalau ada yang datang, biasanya mau servis,” kata penjual genset di toko Watsun, Senin pekan lalu.

Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang Rudi Chua, krisis listrik yang sudah terjadi bertahun-tahun itu memukul pengusaha, termasuk pengusaha hotel dan restoran. Saking seringnya byer pet, sistem penyalaan otomatis genset yang ada di hotel-hotel rusak.

”Sekarang banyak hotel yang menghidupkan genset secara manual karena sistem otomatisnya rusak gara-gara listrik sering byar pet.”

Yang repot, katanya, kalau ada suatu acara yang digelar di hotel. Tiba-tiba listrik padam. Sementara karena sistem penyalaan otomatisnya rusak, untuk mengoperasikan genset harus dilakukan secara manual. Dengan cara manual itu, butuh waktu hingga lima menit untuk menyalakan listrik seperti kondisi semula.

”Citra Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi kan terganggu karena krisis listrik di sini belum teratasi. Belum lagi investor yang mau usaha, berpikir panjang,” kata pemilik Pelangi Resort, itu.

Tambah repot, kata Rudi, karena jadwal pemadaman sering tak sesuai jadwal. ”Jadwal pemadaman jam lima, sebelum jam lima sudah mati duluan,” tuturnya.

Setiap bulan, rata-rata hotel di Tanjungpinang menghabiskan 700 hingga 800 liter solar untuk pengoperasian genset, kala listrik padam. Belum lagi harus mengeluarkan biaya pemeliharaan dan lainnya.

”PHRI juga sudah beberapa kali mengeluhkan dan mengungkapkan kondisi ini baik ke PLN maupun ke pemerintah. Namun, sampai saat ini belum teratasi,” tukasnya.

Belum lagi banyaknya alat elektronik yang rusak akibat listrik byar pet itu. Selain dialami hotel-hotel, warga juga banyak mengalami hal itu. Ada yang rusak kulkasnya, televisi atau komputernya.

”Kalau punya kakak saya yang rusak alat penerima parabolanya. Penyebabnya ya gara-gara listrik mati hidup-mati hidup,” kata Giono, 32, pengemudi mikrolet.

Manajer PLN Tanjungpinang Nuryasfin mengatakan, kebijakan pemadaman bergilir tak bisa dihindari karena PLN mengalami pengurangan pasokan listrik akibat salah satu mesin pembangkitnya dalam masa pemeliharaan berkala.

Jika biasanya PLN beroperasi dengan pasokan listrik 36,5 mega watt (MW), sejak satu mesin di-over hall, berkurang jadi 31,5 MW. Sementara beban puncak sebesar 34,5 MW. ”Saya harap warga bersabar dan memahami masalah ini,” katanya.

Sekitar bulan Juni dan bulan Juli 2009 mendatang, katanya, PLN Tanjungpinang akan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kekuatan 2×15 MW. ”Kalau dua mesin itu sudah beroperasi, insya Allah teratasi.”***

One response to “Habis Gelap, Terang Tak Dapat

  1. Masih mendingan bro dpat giliran padam lampu. didaerah saya “PANYABUNGAN” mah lebih parah lagi 1 hari itu aja bisa-bisanya mereka “PLN” memadamkan lampu 5-15 kali perharinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s