Jeruji, Rumah Kedua Kami

Puluhan anak berumur di bawah 17 tahun mendekam di penjara. Ada yang dibui karena mencuri rokok, dijerat kasus pencabulan hingga melakukan pembunuhan.
***
Malam terasa gerah. Di kamarnya yang sempit, Sur, 15, siswa kelas 1 Madrasah Aliyah, gelagapan terbangun dari tidurnya. Wajahnya berkeringat. Ia baru saja terbangun dari mimpi. Mimpi punya ponsel seperti teman-teman sekolahnya yang lain.

Sur termenung, terbayang mimpi indahnya tadi. ”Kapan saya bisa punya ponsel,” tanyanya dalam hati. Ia lalu berbaring, mencoba melanjutkan tidurnya lagi. Matanya terpejam, tapi hatinya berkelana ke mana-mana. Sur tak bisa tidur nyenyak lagi.

Di sekolah, Sur tak lagi betah. Ia merasa rendah diri setiap kali melihat teman-temannya menenteng ponsel. Ia sempat ingin minta dibelikan ponsel ke ibunya, namun ia batalkan karena tahu orang tuanya tak punya duit. Tapi keinginannya punya ponsel tak pernah kendur.

”Saya sempat nekat mau nyuri, tapi tak berani,” katanya, saat ditemui di Rumah Tahanan Baloi, Senin pekan lalu.

Hingga di hari Rabu itu, 4 Februari 2009, dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit milik pamannya ia mengelilingi Perumahan Puri Agung, Tanjungpiayu. Di depan sebuah rumah Nomor 21, di Blok A2, ia melihat Wiwin 16, berdiri memegang ponsel.

Mendadak muncul bisikan di hati Sur. Keinginannya memiliki ponsel seperti teman-temannya yang lain, meluap. Ia gelap mata. ”Seperti ada yang nyuruh. Saya nekat,” tuturnya.

Dengan hati berdebar, ia menghentikan sepeda motornya. Lalu setengah berlari, mendekati pintu dan mengetuknya. Wiwin keluar menyambut. Kepada Wiwin, Sur mengaku diminta pemilik rumah mengambil mobil yang parkir di garasi.

Wiwin mengaku tak tahu letak kunci mobil itu. Tapi, Sur yang sudah duduk di sofa terus mendesak. Kunci mobil akhirnya berpindah ke tangan Sur. Tapi Sur yang mengincar ponsel Wiwin, tak bergegas pergi. Ia menunggu Wiwin lengah.

Tak lama kemudian Wiwin menuju dapur sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Sur tak menyia-nyiakan kesempatan. Ponsel itu disambarnya. Tapi belum sempat ia berlari, Wiwin memergoki aksinya. Sur diteriaki maling.

Tak mau kelakuannya ketahuan orang, Sur mencabut pisau dapur di saku belakang celananya. Tanpa berpikir lagi, Wiwin ditusuknya hingga tersungkur di lantai. Setelah itu ia berlari keluar.

Malang, kaki Sur menyenggol kepala Auriel Mega Safitri, 6, anak pemilik rumah, yang tidur di ruang tamu. Auriel terbangun, lalu berteriak kaget. Sur tak kalah kagetnya. Pisau bermandi darah di tangannya ia hunjamkan lagi ke dada Auriel.

”Saya tak ingat lagi berapa kali (tusukan). Saya panik, takut ketahuan,” tutur Sur.

Sesudah menikam dua korbannya, Sur mengambil terpal penutup mobil di garasi. Terpal itu ia gunakan menutup tubuh korban-korbannya. Ia mengacak-acak lemari, mencari harta lain, tapi tak banyak yang ia temukan. Karena itu, ia nekat melarikan mobil Honda Civic, milik ayah Auriel. Tapi karena tak terbiasa, ia menabrak sepeda motor tetangga rumah.

”Saya tak tahu lagi (apa yang terjadi). Tahu-tahu saya dipukuli warga. Kepala dan dada saya luka, sakit semua waktu itu,” katanya.

Sur menuturkan kembali kisah hidupnya itu, dengan sedikit berbisik. Ada beberapa penggal kasus pembunuhan itu yang tak ia ingat lagi. Berapa orang yang ia tusuk, atau siapa nama korbannya, misalnya, tak ia ingat. Ia hanya ingat, saat itu sudah kebelet ingin punya ponsel.

”Saya menyesal sekali telah membunuh orang, sudah membuat malu keluarga. Gara-gara saya, mereka sengsara, ” tukas remaja yang 27 Juni ini tepat berumur 16 tahun. Sur divonis sembilan tahun penjara.

Bersama Sur, ada 23 anak lainnya yang kini mendekam di Rumah Tahanan Klas II A Baloi. Umur mereka antara 13 tahun hingga 16 tahun. Senin pekan lalu, beberapa di antaranya kami rekam kisah hidupnya.

Vina, 14, nama samaran, misalnya, satu-satunya anak gadis di antara mereka. Tubuhnya imut, hitam manis. ”Karena ketahuan bawa ineks di dompet, saya divonis dua tahun,” tuturnya.

Vina tak pernah membayangkan bakal hidup di tahanan. Waktu keluarganya pertama kali pindah ke Batam, akhir Desember 2007, mereka tinggal di sebuah rumah liar di Bengkong Abadi. Orang tuanya kerja tak menentu, sehingga Vina terpaksa tak melanjutkan sekolah. Ia putus sekolah di kelas 2 SMP.

”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Cuma kalau saya sekolah, bisa-bisa adik saya yang tak sekolah. Keluarga kami tak mampu,” katanya. Untuk membantu orang tuanya, Vina bekerja sebagai penjaga pakaian di sebuah toko di DC Mall dan Jodoh Centre.

Hingga suatu hari ia bertemu seorang gadis, sebut saja bernama Nina, 16, yang mengajaknya dugem ke Diskotek Planet. Di sanalah, untuk pertama kalinya Vina berkenalan dengan pil berwarna pink yang bisa membuatnya seperti berayun-ayun. ”Saya tak beli sendiri. Teman saya itu yang ngasih,” katanya.

Hari naas itu akhirnya datang juga. Sabtu sore, 20 Desember 2008, Vina berkumpul dengan temannya di Hotel Andi, Bengkong. Mereka menegak ineks. Tapi Vina memilih menyimpannya di dalam dompet. Saat itulah polisi datang menggerebek. Kawan-kawan Vina berlarian. Vina yang kebingungan ditangkap polisi dengan dua butir ineks di dompetnya.

”Saya tak pernah menyangka bakal begini. Jangan sampai ini terjadi pada teman-teman saya yang lain,” tukasnya.

Arfan, 16, nama samaran, beda lagi kisah hidupnya. Remaja yang tahun lalu putus sekolah dari SMP 12 Batam itu, terjerat kasus pencabulan. Saat itu, Arfan bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jodoh-Punggur.

Suatu hari, Arfan melihat Vivi, 15, pacarnya yang masih duduk di bangku SMP melamun di Pelabuhan Punggur. Ia kemudian mendekati Vivi dan menanyakan kenapa pacarnya itu seorang diri di sana.

”Ia mengaku diusir orang tuanya. Saya tanya kenapa, dia diam saja. Karena takut terjadi apa-apa, saya bawa dia ke rumah,” kata Arfan.

Dua hari Vivi bermalam di rumah Arfan, di Nongsa. Dua malam itu pula, dua remaja itu tidur seranjang. ”Tapi kami tidak berhubungan. Kami cuma ciuman saja,” tukas Arfan.

Tanpa diketahui keduanya, orang tua Vivi lapor polisi. Arfan ditangkap. Vivi kemudian divisum. Ternyata selaput dara gadis SMP itu sudah robek. ”Tapi, bukan saya yang melakukannya. Mungkin dia sudah tak perawan sebelum berpacaran dengan saya,” kelak Arfan.

Tapi, hakim tak percaya. Arfan dikenai hukuman tiga tahun. Di Rutan Batam, Arfan menyesali hidup. ”Setelah keluar nanti, saya ingin jadi orang baik-baik.”

Yang mengenaskan nasib Suro, 14, juga nama samaran. Remaja kelas 2 SMP ini tubuhnya paling kecil dibandingkan teman-temannya yang lain. Karena ikut temannya mencuri rokok di sebuah kios di Food Court Windsor, ia harus mendekam di penjara selama delapan bulan. ”Delapan slop rokok, delapan bulan kurungan,” tuturnya.

Suro ditangkap gara-gara temannya terkena razia preman akibat tak punya KTP. Dari temannya itulah polisi mendapat keterangan kalau mereka pernah membobol kios rokok. Suro akhirnya diciduk polisi di rumahnya.

Hendri juga bernasib sama. Remaja kelahiran 18 April 1994 itu awalnya datang ke Batam mengadu nasib seorang diri. Ia menumpang tinggal di kontrakan temannya. Karena tak kunjung dapat kerja, uang sangu dari orang tuanya habis.

Ia bingung, kerja tak dapat, uang juga tak punya. Dalam kebingungan itulah ia melihat sebuah rumah kosong. ”Saya ambil lemari di situ untuk saya jual buat makan. Besoknya, saya ditangkap polisi,” katanya.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), anak-anak yang belum dewasa seperti mereka harusnya tak perlu dihukum penjara. Dalam pasal 45 misalnya, tuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa yang berumur di bawah 16 tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah itu dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, tanpa dikenakan suatu pidana apa pun.

Atau memerintahkan supaya yang bersalah itu diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apa pun, bila perbuatan tersebut merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503-505, 514, 517-519, 526, 531, 532, 536, dan 540, serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di alas, dan putusannya telah menjadi tetap atau menjatuhkan pidana kepada yang bersalah.

Mengacu pada pasal 45 KUHP itu, kata Kepala Rutan Klas IIA Batam Philip Parapat, pihaknya sering mengusulkan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Pemberian pidana itu alternatif terakhir,” katanya.

Pihak Rutan memiliki Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang mendampingi anak-anak yang terjerat hukum mulai dari pemeriksaan di kepolisian hingga sidang di pengadilan. PK melakukan penelitian seperti soal latar belakang kasus dan kehidupan anak itu. Atas dasar itulah, kemudian Rutan mengajukan usulan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Namun, sampai saat ini tak pernah dikabulkan.”

Anak-anak itu sendiri berharap punya kehidupan baru setelah keluar dari tahanan. Dari 23 anak yang mendekam di sana, mengaku masih punya harapan meraih masa depan yang lebih baik. Ada yang ingin sekolah lagi, ada juga yang ingin kerja.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s