Kisah Seorang Ibu yang Mencari Keadilan

Kematian Ronal Aritonang, warga Kembang Sari, Lubukbaja, setelah diperiksa polisi, hampir setahun lalu, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Ibunya, Hj Mimi Farhimi terus mencari keadilan, berusaha mengungkap fakta sebenarnya.

***
Tangis Mimi pecah di ruang tengah itu, saat memandangi foto Ronal dalam bingkai merah hitam yang ditempel di dinding. Kakinya bergetar, tangannya kaku berpegangan pada sofa. ”Saya tak kuat. Saya pasti menangis seperti ini,” katanya.

Senin malam pekan lalu, tadinya Mimi meminta Batam Pos melihat sendiri foto Ronal. Ia mengaku tak sanggup memandangi foto putra bungsunya itu. Namun, setelah diajak ke ruang tengah untuk diambil gambarnya, ia ikut juga. Di sanalah ia terisak, sebelum akhirnya beranjak kembali ke ruang depan.

Ia terguncang. Tangisnya kembali pecah. ”Mata saya rusak akibat banyak menangis. Mungkin yang keluar bukan lagi air mata, tapi darah,” tuturnya.

Malam itu, tak hanya sekali dua kali ia menangis. Saat menceritakan momen-momen terakhir perjalanan hidup Ronal, ia tersedu-sedu. Mimi mengaku biasanya selalu didampingi anak keempatnya, Romel, jika bercerita soal Ronal. Namun, malam itu Romel sedang keluar.

Itu membuat Mimi tak bisa lepas bercerita. Wawancara tersendat-sendat karena ia sering menangis. Beberapa kali ia melepas kaca mata, menyeka air matanya. Terlihat ada bintik-bintik kelabu di matanya, sesuatu yang ia akui baru muncul setelah ia terus-terusan menangis.

Untuk menenangkan diri, ia minta izin menghisap sebatang rokok. ”Sebelum kejadian ini saya tak pernah merokok. Saya tahu rokok berbahaya buat kesehatan, tapi untuk kasus seperti saya, dokter tak melarang.”

Mimi ternyata menyimpan sejumlah kliping koran yang memuat berita kematian Ronal. Ia menyodorkan sejumlah kliping itu. Memperlihatkan surat dari Komisi Hak Asasi Manusia, Komisi Kepolisian Nasional dan hasil visum atas tubuh Ronal dari RS Otorita Batam.

Mimi ingat betul hari terakhir pertemuannya dengan putranya itu. Sabtu, 27 September 2008, bulan Ramadan, ia hendak ke Surabaya. Pukul 11.00 WIB, dengan diantar Ronal, mereka meluncur dari rumahnya di Kembang Sari ke Bandara Hang Nadim.

Langit saat itu mendung. Ronal mengkhawatirkan penerbangan ibunya dan berniat ikut ke Surabaya. Namun, Mimi memintanya tak usah khawatir. ”Kalau begitu setelah mama sampai di Surabaya, nanti saya telepon,” kata Ronal, ditirukan Mimi. Mama adalah panggilan Ronal pada ibunya.

Begitu mendarat di Surabaya, ponsel Mimi berdering. Ronal menanyakan penerbangan ibunya. ”Mama, bagaimana cuaca Surabaya. Mama, kabarnya bagaimana.” Kata-kata itu masih terngiang-ngiang terus di telinga Mimi.

Pukul enam sore, Ronal menelepon lagi. Kali ini, ia mengabarkan baru pulang dari Tanjungpinang. Di sana Ronal membeli cendol untuk berbuka puasa. ”Saya beli cendol enam bungkus. Saya tadi lupa kalau mama di Surabaya, saya kira mama di Batam,” kata Ronal pada ibunya.

”Tak apa-apa, Nak. Simpan saja cendolnya di kulkas,” jawab Mimi.

Seperti Mimi, Ronal adalah pengusaha muda, seorang kontraktor yang mewarisi bakat ibunya. Pemuda yang masih melajang di usianya yang 32 tahun itu, lulusan Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Yogyakarta, tahun 2000. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak kecil Ronal ditinggal mati ayahnya, John Aritonang, sehingga Mimilah yang membesarkannya seorang diri. Kepadanyalah, Mimi berharap banyak.

Dekatnya hubungan ibu-anak itu, membuat Ronal hampir selalu mengungkapkan aktivitasnya pada ibunya. Pukul delapan malam, kembali Ronal menelpon Mimi. Ia mengabarkan baru saja berbuka puasa. ”Mungkin nanti saya pergi tarawih, Ma. Lihat keadaan.”

Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Ronal pada Mimi. Pukul sebelas malam, Mimi dikabari kalau Ronal sedang koma di RS Otorita Batam. Mimi kaget, tak menyangka anaknya akan mengalami nasib seperti itu. Mimi galau, pagi-pagi sekali ia kembali ke Batam.

Dua hari di RS Otorita Batam, Ronal tak sadarkan diri. Ia tak lagi mengenali ibunya. Ia kemudian dipindahkan ke RS Awal Bross. Namun, nyawa Ronal tak tertolong lagi. ”Saya pingsan. Tulang-tulang saya seperti lepas,” tutur Mimi.

Kematian Ronal yang begitu tiba-tiba itu mengguncang Mimi. Berhari-hari ia tak sadar, dan sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Baru berbulan-bulan kemudian, di awal tahun 2009 ini, kesehatan Mimi membaik.

Namun, ia masih dijauhkan dari berita-berita seputar kematian Ronal yang ditulis media. ”Oleh anak-anak, saya tak boleh baca koran. Baru setelah saya agak baik, anak-anak memperbolehkan.”

Dari membaca koran itulah Mimi tahu apa yang terjadi. Malam terakhir itu, setelah mengabarkan padanya kalau sudah berbuka puasa, Ronal ternyata menuju Polsek Sekupang. Ia dimintai keterangan terkait masuknya laporan ke polisi soal utang piutang yang melibatkan dirinya dan seorang pengusaha, Su.

Di Polsek Sekupang, polisi mempertemukan Su dan Ronal. Namun, baru dua jam di sana, Ronal mendadak pingsan. Ia mengalami stroke hingga harus dibawa ke rumah sakit. Inilah yang membuat Mimi sakit hati. Ada dugaan, Ronal sempat dianiaya. ”Pasti ada apa-apanya. Kenapa anak saya yang sehat tiba-tiba sakit setelah dua jam di sana. Ini harus diungkap, diperjelas dan pelakunya ditindak,” katanya.

Dengan menggandeng pengacara dari Jakarta, Junaidi Manurung SH, Mimi ingin membuka kasus kematian anaknya itu. Ia menyurati kepolisian. Namun jawaban kepolisian yang menyatakan tak ada penganiayaan terhadap Ronal tak memuaskannya.

Bersama pengacaranya, ia membawa kasus anaknya itu ke Jakarta. Ia menyurati Komnas HAM. Komnas HAM kemudian menyurati Irwasda Polda Kepri dan meminta klarifikasi atas kejadian yang menimpa Ronal itu. Dalam suratnya bernomor 1.207/K/PMT/III/2009, Komnas HAM meminta klarifikasi Irwasda terkait hasil pemeriksaan lanjutan oleh P3D Poltabes Barelang terhadap Kanit Reskrim Polsek Sekupang Ipda Syamsurizal. Komnas HAM juga memberi waktu 30 hari kepada Irwasda Kepri untuk menjawab suratnya itu, tertanggal 30 Maret 2009.

Ditemui Selasa pekan lalu, di Mapolda Kepri, Irwasda Polda Kepri Komisaris Besar Winarno AS mengaku sudah menjawab surat Komnas HAM tersebut. ”Sudah saya jawab, sudah selesai. Tapi, saya tak bisa ngasih keterangan di sini karena peranan saya interen. Kalau mau tanya soal ini, ya ke Pak Kapolda atau ke Kapoltabes,” katanya.

Tak cukup ke Komnas HAM, Mimi lewat Junaidi, mengadukan kejadian itu ke Komisi Kepolisian Nasional. Kemudian dalam acara Jalur 259, Mimi dan Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan difasilitasi Kompolnas tampil satu meja di TV One, pertengahan Juni lalu.
Jalur 259 adalah jalur bagi masyarakat untuk menyampaikan saran dan kritik mereka soal polisi. Di sini biasanya, masyarakat bisa mengungkapkan saran dan kritiknya terhadap kinerja polisi atau menyampaikan keluhan-keluhan berkaitan dengan pelayanan kepolisian.

Meski sudah tampil di Jalur 259, Mimi belum puas. Ia menginginkan oknum kepolisian dan orang-orang yang terlibat yang menyebabkan kematian anaknya itu ditindak tegas. ”Jangan sampai apa yang saya alami menimpa orang lain. Saya akan terus berjuang mencari keadilan,” katanya.

Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan sendiri, mengakui, anggota penyidik yang menangani kasus almarhum Ronal Aritonang itu, bersalah dalam menjalankan tugasnya.
Namun demikian, kesalahan yang dilakukan anggotanya itu hanya kesalahan prosedur. Ronal, menurut Kapoltabes, saat itu dipanggil tidak sesuai mekanisme pemanggilan untuk dimintai keterangan berupa surat panggilan menghadap. Kala itu, Ronal dipanggil melalui telepon tanpa didampingi saksi atau pengacara.

”Anggota memang terbukti melakukan pelanggaran dan telah ditindak tegas. Ia (penyidik, red) memanggil orang tanpa surat panggilan atau didampingi saksi atau pengacara,” ujarnya, Jumat pekan lalu.

Sebagai konsekwensinya, oknum penyidik yang menangani kasus tersebut telah diberikan saksi tegas berupa demosi, pencopotan jabatan dan penundaan kenaikan pangkat selama satu periode.

Hasil visum et repertum bernomor R/40/RS/X/2008 yang dikeluarkan RS Otorita Batam atas diri Ronal menyatakan, Ronal tiba di instalasi gawat darurat (IGD) dalam keadaan tidak sadar. Setelah dilakukan pemeriksaan, dr Lydiawati S yang memeriksa mengambil kesimpulan Ronal diduga mengalami stroke hemoragik dan hypertensi emergensi. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak.

Ini yang menurut Mimi aneh karena anaknya selama ini sehat dan tak memiliki penyakit hipertensi. ”Sampai ke ujung dunia akan saya kejar. Saya ingin keadilan ditegakkan. Orang-orang yang menyebabkan kematian anak saya harus ditindak,” katanya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s