Kreatif+Berani Gagal+Sukses

Ide usaha mereka belum pernah terpikirkan oleh yang lain. Memulai semuanya dari nol, sempat putus asa dan kini bersiap menyambut sukses.
***
Ahmad Bruri, 57, masih ingat betul bagaimana ia enggan menyambangi kebun rosella di belakang rumahnya. Selama seminggu ia hanya melamun, tak melakukan apa-apa. Perasaannya berkecamuk, antara kecewa, marah dan putus asa.

Selama hampir dua tahun menjajakan kelopak rosella, tanaman herbal yang bisa diseduh seperti teh, tak satupun pembeli berminat menikmati kesegaran kelopak berwarna merah berasa manis asam itu. Sudah tak terhitung, berapa rumah yang ia datangi. Juga sudah tak terhitung berapa duit dan tenaga yang ia habiskan untuk mengenalkan tanaman herbal itu ke masyarakat.

Hasil penjualan tanaman sayur di kebunnya ia gunakan membeli gula sebagai campuran minuman rosella itu. Berbekal minuman segar itu dan hasil panen kelopak rosella, ia berkeliling. Pada bulan Ramadan lalu, sambil membawa bergelas-gelas teh rosella dingin, ia datangi musalla dan masjid. Ia perkenalkan minuman herbal hasil kebunnya.

Namun, masyarakat tak kunjung tertarik. Padahal, uang belanja di rumahnya juga hampir habis. Dapurnya terancam tak mengepul. Ia lunglai. ”Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Kebun seminggu tak saya tengok. Saya melamun terus,” kata pria yang biasa dipanggil Cak Dikin, itu.

Untungnya, isteri Cak Dikin tak ikut putus asa. Ia menyemangati suaminya. ”Mungkin belum waktunya. Jangan putus asa.”

Mendapat dukungan isteri, Dikin kembali tertantang. Ia cepat mengambil cangkul, kembali ke kebun rosellanya. Besoknya, ia tawarkan lagi rosella itu ke rumah-rumah dan pasar.

Pembeli pertama pun datang, akhir tahun lalu. Ia membeli satu ons rosella. Karena belum tahu harga rosella di pasaran, Dikin menjualnya Rp10 ribu. ”Nama pembeli pertama saya itu, saya catat. Kalau seandainya nanti saya sukses, dialah yang akan saya beri hadiah,” katanya.

Dikinpun mengajak ibu-ibu PKK Tiban Lama dan Lurah Tiban Lama. Merekalah yang kemudian ikut membantu pemasaran rosella itu. Munculnya pemberitaan di televisi soal khasiat dan manfaat teh rosella bagi kesehatan, membuat permintaannya makin kencang. Apalagi kemudian ia ikut pameran pada sejumlah ekspo di Batam.

Kalau dulu Dikin harus ke datang ke rumah-rumah, kini sejumlah restoran dan hotel menjadi pelanggannya. Rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, kini ramai. Ia menyuplai kelopak rosella segar dan kering ke sejumlah tempat. Bahkan, tingginya permintaan membuat ia tak mampu lagi memenuhinya.

Sejumlah rekannya ia ajak menanam rosella. Di Tiban Lama, kini sudah 25 petani yang ikut serta dan menghasilkan 50 kilogram rosella per hari. Hasil itu tak cukup, karena permintaannya mencapai 300 kilogram per hari. Karena itu, ia mengajak petani lain di kawasan Tembesi, Galang, Seitemiang dan Dapur 12 untuk menanam rosella.

”Seandainya dulu saya putus asa, mungkin tak akan ada rosella merek D’Kam dari Batam,” katanya.

Dikin mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi petani rosella. Semuanya berawal kala Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengirimnya ikut pelatihan di Palembang, tahun 2006. Di sana, pematerinya memberikan sejumlah alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan, salah satunya rosella yang bisa menjadi teh herbal. Karena di Batam belum ada petani rosella, ia memutuskan menanam rosella.

Pulang dari Palembang ia membawa lima kilogram bibit rosella. Antara ragu dan ingin mencoba, ia menanam sekitar 500 bibit. Empat bulan dirawat, rosella mulai dipanen. ”Karena baru, saya pakai dulu untuk minuman keluarga. Pagi, siang dan malam, keluarga kami minum rosella hampir selama empat bulan. Manfaatnya terasa, badan lebih sehat dan enak,” tuturnya.

Cerita hidupnya kemudian mengalir seperti film-film india. Dua tahun menjajakan rosella tanpa hasil, ditertawakan orang, dianggap gila dan sempat putus asa. ”Semua pengalaman itu menempa saya. Kalau mau sukses, harus susah dulu, harus putus asa dulu,” katanya, sambil tersenyum.

Dikin mengaku ingin membudayakan tanaman rosella. Siapapun yang ingin menanam sendiri rosella, silakan datang ke rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama. ”Saya siapkan bibit gratis.”

Kemasan rosella kini tak lagi hanya untuk diseduh sebagai teh. Dikin membuat dodol, manisan dan sirup. Bahkan, ia kini membuat wine dari kelopak rosella segar.

”Kemarin, ada orang dari Filipina memesan wine dari rosella ini. Sekarang wine-nya saya tanam, baru bisa diambil tahun depan,” katanya.

Kalau Dikin baru sukses setelah dua tahun menanam, Wendy, 19, termasuk yang baru hendak memulai usaha. Pemuda yang baru lulus SMA itu memilih usaha cuci mobil dengan nama Fast-1 di SPBU Sukajadi. Usaha cuci mobil yang ia masuki beda dengan cuci mobil-cuci mobil lain di Batam, karena pengendara yang masuk ke tempat Wendy tak perlu keluar dari mobil. Bahkan, mungkin sistem cuci mobil milik Wendy termasuk yang pertama di Batam.

”Juga ditanggung cepat, sekitar 12 menit sudah kelar,” katanya.

Wendy mengaku nekat terjun ke dunia usaha setelah mengikuti Entrepreneur Camp. Jiwa wirausahanya berontak. Tak butuh waktu panjang, ia langsung memutuskan usaha cuci mobil saat teringat tulisan Jaya Setiabudi soal cuci mobil di Johorbahru. ”Makanya langsung saya coba. Saya tak takut gagal,” ucapnya.

Dua bulan yang lalu, usaha cuci mobilnya beroperasi. Agar menarik perhatian, tempatnya ia desain sedemikian rupa mirip dock mobil balap. Di pintu masuk ada tulisan Fast-1, Cuci Mobil Tercepat Nomor Dua di Dunia.

Sukses tak langsung menyapa usaha Wendy. Di hari-hari pertama, tak satupun mobil masuk ke usaha tempat cucinya. Bahkan, hampir satu bulan mobil yang datang cuma satu dua. Optimisme yang menggebu di dada Wendy sempat hendak runtuh. Ia bingung, gundah.

”Saya takut gagal. Takut mengecewakan orang tua,” ujarnya.

Saat kalut datang, ia menenangkan diri dengan menghirup dan menahan nafas beberapa kali. Dibukanya buku-buku. Di salah satu halaman buku, ia mendapat inspirasi. ”Sekarang saya tak lagi takut gagal. Kenapa harus dipikirin.”

Usaha cuci mobilnya yang dulu sepi, kini mulai ramai. Wendy sudah memiliki sejumlah pelanggan tetap yang secara berkala datang ke Fast-1-nya.

Nekat, juga menjadi modal utama Windu Terkelin, 28, saat membuka usaha kerajinan tangan di rumahnya di Beverly Park, Batam Centre. Windu tak punya keahlian di bidang kerajinan tangan. Ia hanya termasuk orang yang suka pada handy craft-handy craft yang biasa ia lihat di Bali dan Yogyakarta.

”Di Batam jarang saya lihat ada handy craft yang bagus. Makanya saya ingin membuat handy craft yang simple tapi menarik dan bahan-bahannya mudah didapat dan murah,” tutur karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi, itu.

Awal 2009 lalu, usahanya mulai jalan dengan mempekerjakan sekitar lima orang karyawan. Ia membuat mini garden dari koran bekas dan kulit pisang, kerang-kerangan, keranjang kertas dan vas bunga.

”Tapi, selama tiga bulan berproduksi tak ada satupun penjualan. Nol,” katanya.

Karena tak laku, semua ongkos produksi dan uang membayar gaji karyawannya ia ambilkan dari gaji dan tabungannya sendiri. Ia pun sempat bimbang antara meneruskan usahanya atau berhenti. Tapi, saat terpikir kalau ia terjun ke usaha handy craft untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan kerajinan tangan khas Batam, ia buang-buang jauh rasa bimbang tadi. ”Saya optimis. Masa handy craft bagus gini tak laku.”

Maka, mulailah ia memperkenalkan produk handy craftnya kepada teman-teman kantornya. ”Ternyata teman-teman suka. Ada yang beli hiasan dinding, ada yang beli keranjang kertas dan lainnya.”

Pintu sukses seakan terbuka, saat ia mengikuti pameran di Gedung Promosi Sumatera. ”Kini sudah ada hotel dan resort yang mau menjadikan produk handy craft kami sebagai buah tangan khas hotel mereka. Permintaan kerang dan aksesoris kulkas juga mulai berdatangan.”***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s