Repotnya Mengusir Nyamuk Penjemput Maut

Hingga pertengahan tahun ini demam berdarah dengue (DBD) di Batam telah memakan 1.015 korban. Sepuluh di antaranya meninggal dunia. Setara dengan jumlah kasus sepanjang 2008.
***
Pasha Zafa Akbar, 4,8, tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Setelah asyik bermain bersama teman-teman sebayanya, sambil berlari-lari kecil mengitari komplek Taman Raya Tahap II, Batam Centre, ia merasa capek. Tak menunggu lama, ia pulang ke rumahnya.

“Kepala abang pusing,” kata Pasha, Sabtu dua pekan lalu, kepada Dewi, 32, ibunya.

Wajah Pasha yang tadinya segar berkeringat, terlihat kuyu. Suhu badannya pun tinggi. Termometer yang dipasang Dewi di ketiak Pasha menunjuk angka 38 derajat celcius. Karena mengira demam biasa, Dewi memberi anak sulungnya itu obat pereda panas. Efek obat, membuat Pasha langsung tertidur.

Sorenya, begitu dicek kembali, ternyata suhu badan Pasha makin naik mendekati angka 40 derajat celcius. “Makanya, langsung saya bawa ke dokter,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Oleh dokter, Pasha diberi obat penurun panas dan diminta dikompres. Namun makin malam, suhu badan Pasha makin tinggi, mencapai 42 derajat celcius. Anak sulung pasangan Suwardi dan Dewi itu menggigil, mengalami halusinasi.

Dewi panik setengah mati. Tak menunggu lama, ia dan suaminya membawa Pasha ke Unit Gawat Darurat RS Budi Kemuliaan, di Seraya. Di sana, Pasha diambil sampel darahnya, namun belum ketahuan apa penyakitnya.

“Baru setelah dua kali diambil darahnya, ia ketahuan positif DBD,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Hampir seminggu lebih Pasha dirawat di rumah sakit dengan selang infus di lengannya. Meski suhu badan Pasha sempat turun dan kondisinya membaik, Dewi tak berani membawa pulang anaknya. Ia baru membawa pulang Pasha setelah dokter memastikan benar-benar sehat.
“Sekarang saya sudah bisa sekolah,” kata Pasha yang tahun ini untuk pertama kalinya masuk Taman Kanak-kanak.

Dalam dua tahun terakhir, ada dua orang di keluarga Dewi yang menjadi korban DBD. Sebelum Pasha, Dewi juga pernah digigit nyamuk Aedes Aegypti. Saat itu, Dewi sedang hamil anak keduanya. “Padahal, kami selalu mencoba hidup bersih. Kamar mandi di rumah tak pakai bak, ruangan juga selalu saya semprot,” tutur Dewi.

Dewi bahkan meminta juru pemantau jentik (jumantik) memeriksa rumahnya. Ia ingin tahu, apakah ada sarang jentik atau tidak di rumahnya itu. Namun setelah diperiksa, si jumantik tak menemukan sarang jentik. “Kalau di rumah ini memang tak ada. Tapi di sekeliling komplek, banyak.”

Pekan itu, Perumahan Taman Raya Tahap II memang sedang dilanda DBD. Selain Pasha, ada enam orang lagi yang jadi korban di antaranya Ana, 30, Mika,5, Rabindra,29, Ben Harun,36, dan Dhika, 35. Tapi karena terbentur biaya, banyak di antara mereka yang tak berlama-lama di rumah sakit. Mereka sudah pulang tanpa menunggu benar-benar sembuh.

Muji, Ketua RT 02 RW XI Belian, sempat panik dengan kondisi yang menimpa warganya itu. Bersama warga lainnya, ia menghubungi Puskesmas dan Dinas Kesehatan meminta penyemprotan atau fogging. “Namun birokrasinya berbelit. Harus ini, harus itu,” kata Muji.

Untungnya, ada salah satu warga Taman Raya yang menyimpan nomor ponsel Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika. Respon Ria positif, dan berjanji akan menurunkan tim kesehatan ke sana. Besoknya, orang-orang dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas berbondong-bondong datang ke Taman Raya. Selain memberikan penyuluhan, juga melakukan fogging.

Warga Taman Raya juga rajin bergotong royong. Gorong-gorong dibersihkan, bak kamar mandi dikuras, kaleng-kaleng yang menjadi tempat endapan air dibuang. “Sekarang sudah agak bagus. Sudah tak ada lagi warga kami yang kena,” tukas Muji.

Kepanikan juga melanda Perumahan Taman Raya Tahap III di seberang jalan. Di sini, ada dua warganya yang kena DBD. Warga resah. Mereka berharap ada fogging di lingkungan perumahan mereka. Namun, permintaan fogging ke Dinas Kesehatan Batam tak kunjung ditanggapi.
“Kami akhirnya fogging sendiri. Biayanya dari swadaya masyarakat,” kata Ketua RT 1 RW XVII Belian, Herman.

Herman mengaku kecewa pada Dinas Kesehatan yang tak berbuat banyak untuk mencegah terjadinya DBD. Masyarakat, katanya, tak butuh banyak penyuluhan karena dari tahun ke tahun DBD selalu menjadi momok dan merenggut banyak nyawa.

“Masyarakat sudah tahu 3M. Yang diperlukan sekarang adalah langkah kongkret pemerintah mengatasi ini,” tuturnya. DBD memang sudah banyak memakan korban. Data yang dihimpun Batam Pos dari berbagai rumah sakit di Batam, sejak Januari sampai pertengahan Juli, korbannya sudah mencapai 1.015 orang. Jumlah ini hampir menyamai jumlah korban di tahun 2008 yang mencapai 1.100 kasus.

Begitu juga yang meninggal, sudah sepuluh orang atau juga dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Juga hampir seluruh kecamatan di Batam ini tak lepas dari DBD. Sagulung, sebagai kecamatan yang paling padat penduduknya merupakan kawasan yang paling banyak terkena DBD.

Pada awal musim penghujan seperti pertengahan tahun, kasus DBD makin banyak. Hampir setiap hari, rumah sakit kedatangan pasien DBD. Bulan ini saja, ada 35 orang yang dirawat di RS Budi Kemuliaan. Belum lagi di RSOB, RSUD dan rumah sakit-rumah sakit lainnya.

Seperti Ade Sri Yuliani, misalnya, putri Martalini yang tinggal di Kartini II, Seiharapan, tergolek di RSOB akibat terkena DBD. Ade sempat demam selama dua hari, sebelum dipastikan positif DBD. “Anak saya malah sempat masuk ruang isolasi perawatan,” tutur Martalini. Di tempat yang sama, RSOB ternyata tak hanya merawat pasien Batam. Ada juga anak-anak dari Seiguntung, Indragiri Hilir, Riau, yang dirujuk dari RSUD Indragiri Hilir.

Nyamuk Aedes Aegypti ini juga tak memilih-milih korban. Mereka yang tinggal di kawasan kumuh maupun elit, hampir tak bisa lepas dari gigitannya. Repotnya, hampir sebagian warga tidak bisa membedakan gejala DBD dengan gejala flu biasa ataupun penyakit lain, karena semuanya memiliki kemiripan. Gejala seperti timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, yang dulu sempat didengung-dengungkan sebagai tanda terkena DBD, juga tak selalu bisa ditemui pada pasien penderita DBD.

Bahkan, tak jarang petugas medispun kerap salah menduga. Banyak dokter yang tak bisa langsung mendiagnosa seorang pasien terkena DBD atau tidak. Seperti yang dialami Pasha misalnya, dokter pertama yang memeriksanya tak menyimpulkan bocah itu menderita DBD. Baru setelah dua kali sampel darahnya diambil, Pasha ketahuan positif DBD.

Menurut dr Dindin Hadim, dokter spesialis penyakit dalam RS Budi Kemuliaan, tak semua dokter bisa langsung menyimpulkan seseorang terkena DBD atau tidak. Penyebabnya, karena penyakit DBD gejalanya hampir sama dengan penyakit malaria atau demam biasa. “Dokter kan biasanya cuma meraba-raba, sehingga kadang juga salah menyimpulkan. Ini tergantung pengalaman si dokter,” tukasnya. Biasanya seorang pasien DBD baru ketahuan positif, kalau sampel darahnya dicek di laboratorium.

Bila ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi, Dindin menyarankan untuk secepatnya diberi obat pereda panas selama dua atau tiga hari. Kalau belum juga sembuh, baru bawa ke dokter atau ke rumah sakit. “Penyakit DBD tingkat I, itu belum berbahaya. Kalau cuma demam, beri saja obat pereda panas. Baru kalau dua atau tiga hari belum sembuh, cepat bawa ke dokter,” katanya.

Ada tiga faktor, menurut Dindin, yang mempengaruhi berjangkitnya penyakit DBD ini, yakni manusia, lingkungan dan nyamuk itu sendiri. Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, membuang atau menimbun benda-benda tak berguna yang menampung air, menaburkan serbuk abate pada bak mandi dan tempat penampung air lainnya. Pengasapan atau fogging untuk mengantisipasi mewabahnya kasus DBD ini, bukanlah solusi terakhir.

Kadis Kesehatan Kota Batam Mawardi Badar menolak instansinya disalahkan akibat bejibunnya korban gigitan yamuk ini. Kunci terbebasnya masyarakat dari DBD, kata dia, adalah dari masyarakat sendiri. “Tidak selamanya kita yang disalahkan kalau ada warga meninggal akibat penyakit ini, karena kita juga sudah mengimbau secara terus menerus,” ujarnya.

Sejak tahun 2007 silam, Pemko Batam sudah pernah melaksanakan program Gerakan Berantas Demam Berdarah atau Gebrak. Seremoni program ini dilakukan meriah dengan pengasapan dan gotong royong oleh Wali Kota Batam dan jajaran Muspida lainnya di Sagulung. Namun, dari tahun ke tahun bukannya menurun, korban DBD makin bertambah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s