Dua Nama Tiga Generasi

Hari jadi itu jatuh tiap 10 Agustus. Senin besok. sebelas tahun sudah Batam Pos terbit menyuguhkan berita dan informasi kepada para pembacanya, Anda semua.

***
Pertemuan Sabtu siang itu, rapat umum biasa. Dihadiri awak redaksi, bagian umum, iklan dan pemasaran. Suasana meriah, celutukan sering terdengar, terutama ditujukan kepada mereka yang datang belakangan.

Undangan pertemuan yang ditempel di dinding pengumuman, tak menyebut topik. Tapi semua karyawan sudah menduga-duga, pasti tak jauh dari momen ulang tahun Batam Pos ke-11. Ternyata, pertemuan itu berisi pengumuman dari manajemen soal peraturan perusahaan yang baru, diselingi ajakan untuk merenungkan perjalanan sebelas tahun koran ini.
Direktur Utama Batam Pos Marganas Nainggolan hadir bersama Pimpinan Umum Socrates dan Pimpinan Perusahaan Usep RS. Hadir pula para manajer. Semua bersila, lesehan di lantai 6 Graha Pena.

Suasana rapat awalnya agak kaku. Namun Marganas selalu bisa mencairkan suasana. Video perjalanan Batam Pos sejak terbit pertama kali dengan nama Sijori Pos 10 Agustus 1998, berganti nama jadi Batam Pos di tahun 2003 hingga kini diputar. Pemutaran video diselingi lagu Josh Groban, You Raise Me Up.

Terlihat wajah para senior yang ikut andil membesarkan Batam Pos di awal-awal pendirian. Beberapa di antaranya masih aktif sampai sekarang, seperti Marganas, Usep RS atau Herman Mangundap. Sejumlah wartawan di tahun-tahun pertama Batam Pos berdiri, nongol di video.

Marganas menyebut ada tiga generasi atau tiga fase perjalanan Batam Pos, yakni fase pendiri, pengembang dan penerus. Sambil menikmati alunan lagu, ia mengajak para karyawan merenung, di fase apa masing-masing mereka memberi andil.
Batam Pos terbit untuk pertama kalinya pada 10 Agustus 1998. Koran pertama di Kepri ini tidak bisa dilepaskan dari induknya, Riau Pos yang diterbitkan PT Riau Pos Intermedia, di bawah bendera Jawa Pos Grup yang terbit pertama kali 17 Januari 1991.

Sebelum Batam Pos terbit, Riau Pos beredar di Kepulauan Riau, saat itu masih satu provinsi dengan Riau. Riau Pos memiliki sejumlah kantor perwakilan di antaranya di Dumai, Tanjungpinang, Batam dan Sumatera Barat.

Seiring dengan makin pesatnya pembangunan di Batam, Riau Pos mengembangkan sayap, menerbitkan koran sendiri di Batam dengan nama Sijori Pos, 10 Agustus 1998. Nama Sijori Pos dipilih terkait dengan pengembangan kawasan segi tiga Singapura, Johor dan Riau.

Sebagai koran nasional pertama, Sijori Pos melesat cepat. Pimpinan Umum Batam Pos Socrates, mengingat betul bagaimana edisi perdana koran ini dicetak. Saat itu, ia masih koordinator liputan. Malam menjelang terbit, ia bersama Mafirion, Taufik Muntasir, Mega bagian pra cetak, menunggu di kantor lama Batam Pos, Orchid Point, Jodoh.

“Kami mengeluarkan segala kemampuan untuk menyelesaikan edisi perdana itu. Sampai-sampai tak sadar, deadline terlewati,” kata Socrates. Edisi perdana baru naik cetak menjelang subuh.

Tak ada persiapan khusus peluncuran koran edisi perdana itu. Namun ada peristiwa penting di Batam, tepat pada peluncuran perdana Sijori Pos, Presiden Habibie akan meresmikan Jembatan Barelang. “Kami berharap, edisi perdana Sijori Pos ditandatangani Habibie. Bang Marganas dan Depan Maju Sihite serta saya, hadir pada saat peresmian jembatan itu. Sayang, acara Habibie padat. Ia tak sempat menandatangani koran perdana itu,” tuturnya.

Menurut Socrates, selain Rida K Liamsi, banyak nama yang berjasa menghadirkan koran ini. Pertama, Marganas yang sejak awal bekerja sangat keras mengembangkan koran ini masuk ke Batam. Marganas sangat piawai soal bisnis, menguasai masalah manajemen keuangan serta seorang wartawan yang jago menulis feature.

Kedua adalah Akmal Atatrick di Tanjungpinang, yang mengurus percetakan dan distribusi koran sebelum akhirnya dipindahkan ke Batam. Kemudian, Mafirion, pemimpin redaksi Sijori Pos yang pertama. Mafirion dikenal bekerja lugas dan cepat. Taufik Muntasir yang akrab disapa Bang Ace juga tak dilupakan Socrates. Ace, orang dengan etos kerja tinggi.

Di bagian iklan, ada Usep RS, yang memiliki jaringan dan relasi yang luas. Pria asal Sunda ini dikenal supel dan pergaulannya luas. Ia berpengalaman di divisi iklan, jauh sebelum Sijori Pos terbit. Di bagian pemasaran, ada Herman Mangundap, lelaki asal Manado yang sejak awal sudah terbiasa dan bertahun-tahun bergelut di bagian distribusi dan sirkulasi.

Di bagian administrasi dan keuangan ada Syarifah Harani atau Nani. Nani di Batam Pos sejak masih berkantor di Windsor. Tentu saja masih banyak lapis kedua yang bekerja keras mengembangkan Sijori Pos. Sebut saja di redaksi ada Depan Sihite, Tariden Turnip, Lilis Lishatini, Lisya Anggraini, Umi Kalsum, Johan Howan dan sebagainya.

Dua tahun kemudian, 14 Februari 2000 Sijori Pos menerbitkan ”anak”nya Batam Pos, koran kriminal pertama di Batam. Batam Pos cepat menerobos pasar Batam. Koran ini dikenal berani dan blak-blakan.

Menurut Socrates, ada keputusan manajemen yang unik, sekaligus menjadi kasus marketing yang jarang terjadi. Nama Sijori Pos dikubur berganti jadi Batam Pos, mengambil nama koran kriminal, itu. “Itu terjadi Januari 2003.”

Sengitnya persaingan media, membuat Batam Pos menyiapkan media alternatif, sebuah situs berita http://www.batampos.co.id. Situs berita ini dimulai pada Juni 2003 dengan domain harianbatampos.com dikelola di kantor lama Batam Pos di kawasan Seijodoh.

Lalu pada Mei 2006, situs berita ini mengganti brand domain menjadi batampos.co.id dan terus dipergunakan hingga sekarang. Hingga kini batampos.co.id tidak kurang meraih 100 ribu klik setiap hari.

***
KINI, sebelas tahun sudah Batam Pos berdiri. Banyak perubahan terjadi. Marganas misalnya, sudah menjadi Dirut. Posisi Socrates sebagai pimpinan perusahaan digantikan Usep RS. Di redaksi, Hasan Aspahani sebagai Pemred dibantu tiga wakil Pemred, yakni Arham, Riza Fahlevi dan Putut Ariyo Tejo.

Di bawah mereka ada empat kompartemen plus edisi minggu. Kompartemen nasional dipimpin Ismed Safriadi, kompartemen pro kepri dipimpin Tunggul Manurung, kompartemen metropolis dipimpin Priya Ribut Santoso, kompartemen pro bisnis dipimpin Anwar Saleh dan Batam Pos edisi minggu dipimpin M Iqbal. Para Redpel itu dibantu asisten Redpel dan para redaktur.

Ada para redaktur ahli. Ada kantor-kantor perwakilan dan biro. Ada Koordinator Liputan dan Asisten Koordinator Liputan yang membawahi para reporter. Di bawah Korliplah, pencarian berita itu dikendalikan.

***
PEMILIHAN calon reporter di Batam Pos, cukup unik. Para calon reporter itu, awalnya tak ada yang benar-benar menguasai jurnalisme. Semua yang melamar rata-rata nol pengalaman.

Seperti Sri Murni yang lulusan ilmu kelautan dan perikanan Universitas Riau, William Seipatiratu lulusan fakultas pertanian Universitas Pattimura atau Evi Risdianti lulusan biologi Universitas Padjajaran.

Proses belajar untuk memahami jurnalisme atau menekuni bidang yang ditugaskan kepada mereka dilakukan sambil jalan. Sesekali kantor menyelenggarakan diskusi tentang masalah ekonomi makro, atau membicarakan situasi terkini, masalah politik dan lainnya dengan nara sumber kompeten.

Semuanya untuk membekali wartawan agar tak canggung turun ke lapangan. Maka tak aneh, jika Ahmadi yang lulusan sastra inggris di Universitas Hasanuddin, fasih menulis kasus-kasus kriminal. Atau Suparman yang lulusan sastra inggris Universitas Islam Negeri Malang, menulis soal gaya hidup warga metro.

***
ADA tradisi yang dibangun Batam Pos setiap kali merayakan hari jadinya, yakni melibatkan pembacanya untuk ikut berbahagia. Salah satunya adalah menyelenggarakan Rally Wisata.

Tahun itu, tahun 2001 untuk pertama kalinya Batam Pos, yang masih bernama Sijori Pos, menayangkan iklan jitu otomotif. Sebuah wadah promosi jual beli kendaraan. Sebagai sebuah awal, ternyata iklan jitu mendapatkan reaksi positif. Para pemilik kendaraan, menyambut baik iklan tersebut.

“Dari situ muncullah ide, bagaimana menyelenggarakan acara rally keluarga sekaligus mendekatkan Batam Pos dengan pembacanya,” kata Usep RS, yang sudah sembilan kali menjadi ketua panitia.

Tahun pertama itu, rally bernama Fun Rally. Peserta diajak keliling Batam bersama keluarganya. Syaratnya mudah, dokumen kendaraan lengkap dan mau menaati aturan lalu lintas. Di luar dugaan, pesertanya membeludak.

Maka, jadilah Fun Rally itu digelar setiap tahun, bertepatan dengan hari jadi Batam Pos. Tradisi itu mengekal, Fun Rally berganti nama jadi Rally Wisata. Kini, di ulang tahun Batam Pos ke sebelas, Rally Wisata digelar untuk ke sembilan kalinya.
Selalu ada yang baru, itulah penyelenggaraan Rally Wisata. Kali ini, peserta tak sekadar diajak wisata keliling kota. Tapi juga diajak berempati pada sesama, juga peduli pada alam.

“Peserta diminta membawa bibit tanaman. Kami ingin mengajak peserta ikut serta menciptakan green city,” kata Usep. Peserta juga akan diminta membawa sembako. Sembako ini nantinya akan diserahkan ke yayasan dan panti asuhan. “Nanti peserta sendiri yang akan memberikan.” ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s