Tempat Singgah Favorit Imigran Asing

Pelabuhan tikus di Batam tak hanya jadi tempat penyelundupan barang-barang, atau jalur TKI ilegal dari Malaysia. Tapi juga jadi pintu masuk para imigran gelap. Mereka transit di Batam, sebelum menuju negara ketiga.

***
Dari tepi pantai, rumpun bambu berwarna hijau kekuning-kuningan itu melambai. Daunnya basah, sisa dari gerimis yang baru saja berlalu. Senin siang pekan lalu, suasana di tempat itu begitu sunyi.

Rumpun bambu tadi adalah penanda, disitulah letak Tanjungbuluh atau Tanjungbambu. Diapit perkampungan Teluk Mata Ikan dan kawasan wisata Turi Beach, Tanjungbuluh bukanlah tempat yang menarik. Luasnya sekitar dua kali lapangan bola, penuh tanaman dan rumput liar. Nyamuknya besar-besar, gigitannya dalam menembus celana jeans.

Di sanalah, Jumat dua pekan lalu 19 imigran dari Afghanistan ditangkap polisi, setelah dua hari bersembunyi. Para imigran itu masuk Batam lewat Johor Malaysia. Mereka diselundupkan lewat Tanjungbuluh, menghindari pemeriksaan imigrasi.

Tanjungbuluh sendiri hanyalah kawasan menjorok ke laut, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada pelabuhan atau pelantar tempat perahu bersandar. Nyaris seperti tanjung yang tak tersentuh. Jejak kaki di pantai terhapus air laut yang pasang. Hanya kicau burung dan gemericik air dari tanjung menuju pantai yang terdengar. Sesekali deru mesin kendaraan memecah sunyi.

Salamuddin, 59, nelayan Teluk Mata Ikan, Nongsa, yang sedang memperbaiki perahu di tepi pantai, mengaku tak tahu menahu soal kedatangan para imigran tersebut. ”Saya terlalu sibuk melaut, tak memperhatikan sekeliling,” tuturnya.

Yang kaget setengah mati adalah Farida, 18, gadis Teluk Mata Ikan. Bersama ibunya, Jumat itu ia duduk di pojok rumahnya yang bersebelahan dengan jalan setapak menuju Tanjungbuluh. Sebuah mobil polisi dan dua mobil penuh penumpang tiba-tiba berhenti di depannya. Lalu, keluarlah sosok-sosok berperawakan tinggi dari dalamnya.

Mereka para imigran Afghanistan yang baru saja ditangkap polisi. Tanpa risih, mereka duduk di sampingnya. Lalu, menunjuk jus jeruk dalam gelas besar yang baru seteguk ia minum.

”Mereka seperti kelaparan. Nunjuk-nunjuk jus, tak mengucapkan apa-apa. Sudah, saya berikan saja pada mereka.”
Tak cukup jus, roti juga dilahap habis. ”Kayak orang tak makan berhari-hari,” tutur Farida.

Para imigran Afghanistan tadi hanyalah kasus kecil dari banyaknya penyelundupan manusia ke Batam lewat pelabuhan tikus. Dua warga Srilanka, Sujay, 28, dan Rajeepan, 20, bahkan lolos hingga Bandara Hang Nadim. Mereka dari Malaysia hendak ke Jakarta.

Kepada wartawan, dalam bahasa Melayu, Sujay mengaku berhasil masuk Batam atas bantuan tekong Indonesia. Dari Johor Bahru ia diselundupkan lewat pelabuhan tikus, yang tentu saja tak ia tahu tempatnya. ”Kami masing-masing bayar 200 ringgit,” katanya.

Sujay sudah empat tahun tinggal di Malaysia, negara yang memang terbuka buat para imigran yang hendak menuju negara ketiga. Sujay jadi pelarian akibat konflik di Srilanka tak kunjung mereda. Hampir setiap hari, katanya, warga Srilanka ditembus peluru nyasar.

”Saya nak ke Jakarta, ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees/Komisi PBB yang mengurusi pengungsi),” tukasnya.

Sepanjang tahun 2009 ini, berarti sudah 70 imigran asing yang ditahan di Batam. Mereka dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi Batam dan Tanjungpinang.

Tak hanya imigran asing, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang visa atau izin tinggal dan izin kerjanya habis di Malaysia juga masuk Batam lewat jalur pelabuhan tikus tadi. Pintunya tak cuma satu, tapi berpuluh-puluh.

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam misalnya, mengidentifikasi ada 63 pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus di Batam. Pelabuhan-pelabuhan itulah yang sebagian di antaranya dijadikan pintu masuk WNA yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian. Lalu, setelah di Batam mereka keluar lewat pintu resmi seperti lewat bandara atau pelabuhan.

Masalah pelabuhan tikus itu bahkan sempat mendapat perhatian serius dari Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Ia khawatir, penyelundupan barang ke Batam akan marak seiring dengan dijadikannya Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas.

Sumber yang sering menjemput para TKI dari Malaysia ke Batam menyebut, kawasan pantai Teluk Mata Ikan dan kawasan Nongsa menjadi primadona masuknya para TKI yang melanggar dokumen keimigrasian itu. Pintu masuk lainnya adalah kawasan Batumerah, Batuampar dan Dapur 12 Nongsa. ”Tergantung situasi. Mana yang aman, di sanalah mereka dimasukkan,” katanya. Penjemputan biasanya dilakukan malam hari.

Speedboat yang mengantar para TKI itu tak perlu bersandar di pelabuhan atau pelantar. Penumpangnya diturunkan di kedalaman air sepinggang. ”Untuk menghindari kecurigaan,” tuturnya.

Di Batam, para TKI yang habis masa tinggalnya di Malaysia itu kemudian dibuatkan paspor baru dan kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia, biasanya para TKI itu kembali tidak memperpanjang izin tinggal dan kerjanya karena permasalahan biaya. Sehingga, saat pulang ke Indonesia, mereka kembali lewat pelabuhan tikus. ”Begitu seterusnya, bertahun-tahun.”

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengatakan, baik para imigran asing maupun TKI dari Malaysia yang masuk Batam lewat pelabuhan tikus melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Karena setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia, wajib lewat pemeriksaan imigrasi.

Orang asing yang menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp25 juta.

“Tapi imigran asing yang dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR, tidak bisa dikenakan aturan ini. Tidak bisa langsung dideportasi.”

Begitu juga dengan TKI yang masuk dari Malaysia ke Batam lewat pelabuhan tikus. ”Untuk TKI itu, sanksinya ya sanksi administrasi. Mereka (yang melanggar) dicegah, tak boleh lagi ke luar negeri,” katanya.

Sesuai aturan, kata Yudi, pintu masuk resmi ke Batam dari luar negeri lewat lima pelabuhan yakni Pelabuhan Sekupang, Batam Centre, Marina, Nongsa Pura dan Harbour Bay serta bandara. Di pintu-pintu masuk resmi itulah petugas imigrasi ditempatkan.

”Di luar itu, seperti di pelabuhan-pelabuhan tikus, kami mengalami kendala untuk memantaunya. Kita koordinasi dengan instansi terkait yang menjaga perbatasan seperti dengan TNI AL, misalnya,” tukas Yudi.

Yudi tidak membantah, kalau Batam menjadi kota transit para imigran asing menuju negara ketiga. Letak Batam yang berbatasan dengan Malaysia, negara yang membuka diri bagi imigran, salah satu alasannya. ”Dari sejumlah pemeriksaan terhadap para imigran itu, kita bukan negara tujuan. Mereka datang dari Malaysia ingin ke Australia atau ke Kantor UNHCR di Jakarta.”

Para imigran asing itu tidak lewat pelabuhan resmi, karena kemungkinan ditolak masuk Indonesia, besar. ”Makanya, mereka masuk lewat pelabuhan tikus tadi,” ujarnya.

Para imigran asing yang masuk Batam itu, kata Yudi, kini ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Batam di Sekupang. Rabu lalu, beberapa orang di antaranya sudah dipindahkan ke Tanjungpinang. Mereka di rumah Detensi sampai UNHCR memutuskan mereka sebagai pengungsi dan diarahkan ke negera ketiga. LSM International Organization for Migration (IOM) membantu penanganan pengungsi tersebut.

”Kalau UNHCR menolak misalnya, mereka akan dikembalikan ke negara asalnya dengan difasilitasi IOM,” katanya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s