Warna-warni Taksi di Batam

taksi di batam

taksi di batam

Penerapan taksi argo di Batam per 1 September terancam gagal. Dari 2.439 taksi yang beroperasi, hingga Rabu pekan lalu baru 40 taksi yang lulus tera.

Hujan yang mengguyur Batam sepanjang Selasa pagi pekan lalu, baru saja usai. Di pelataran belakang kantor Dinas Perhubungan Batam sejumlah taksi diparkir berjejer. Kap mesin taksi-taksi itu dibuka. Seorang teknisi argo menyetel angka yang tertera pada argometer, menyesuaikannya dengan putaran roda depan.

Ali Sonsyah, pemilik Almi Transport Utama, salah satu pelaku usaha taksi di Batam sibuk memandangi pekerjaan penyetelan argometer tersebut. Ia berdiri dari satu taksi ke taksi lain, memastikan penyetelan argometer di taksi-taksi itu berjalan lancar.

“Saya mendatangkan tiga teknisi langsung dari Jakarta untuk keperluan penyetelan argometer ini,” katanya.

Sejak tahun 2002, taksi-taksi di bawah naungan Almi Transport sudah dilengkapi argometer. Harga satu argometer sekitar Rp1,6 juta.
Saat itu, Pemko Batam berencana menerapkan taksi argo di Batam. Namun, rencana itu gagal.

“Jadi argometer di taksi-taksi saya ini, sudah tujuh tahun tak pernah digunakan,” tuturnya.

Kondisi argometer-argometer merek Metrocom itu masih bagus. Hanya ada beberapa yang putus kabelnya karena lama tak pernah dipakai. “Tapi harus disetel ulang, disesuaikan dengan tarif baru.”

Hampir setengah jam kemudian, satu unit taksi siap ditera. Sudirman, seorang supir membawa taksinya ke instalasi pengujian argo taksi Unit Pelaksana Teknis Metrologi Disperindag Kepri di pojok lapangan. Hanya ada satu konter peneraan. Di sanalah, taksi-taksi itu ditera.

Tera argometer taksi di Batam dimulai sejak 30 Juli, lalu. Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengeluarkan pemberitahuan agar seluruh pengusaha dan pemilik taksi melaksanakan tera argo paling lambat tanggal 30 Agusutus, hari ini. Ahmad Dahlan juga memerintahkan seluruh pengelola kawasan pelabuhan, mal dan hotel agar hanya memperbolehkan taksi berargo masuk ke kawasan mereka.

Tera pertama dihadiri langsung Wali Kota. Sambil tersenyum Ahmad Dahlan menyegel argometer pada taksi Barelang Express. Penyegelan menandakan taksi tersebut lulus tera dan siap beroperasi.

Setelah hampir satu bulan berjalan, tera argometer berjalan lamban. Dari 2.439 taksi yang beroperasi di Batam, Rabu pekan lalu baru 40 taksi yang sudah ditera. Padahal, Pemko Batam hanya memberi tenggat waktu hingga 1 September. Mustahil, 2.000-an taksi lainnya bisa ditera dalam waktu tiga hari.

Lambannya tera argometer ini, menurut Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Batam Mulawarman, tak lepas dari tidak tegasnya pelaku usaha taksi dan koperasi yang membawahi ribuan supir taksi itu. Ada 24 pelaku usaha taksi di Batam. Beberapa di antaranya seperti Kopkar OB, Citra Wahana, Koperasi Pengemudi Taksi Domestik Sekupang, Pandu Wisata, Barelang Ekspress, Kopti dan lainnya. Juga ada pengelola kawasan yang masih membiarkan taksi-taksi tak berargo beroperasi di tempat mereka.

“Kalau tegas mengintruksikan ke anggotanya, saya kira tera taksi ini akan berjalan lancar,” kata Mulawarman.

Data dari UPT Metrologi Disperindag Kepri, dari puluhan pelaku usaha taksi, hanya satu dua yang armadanya ditera. Kopkar OB, misalnya, sampai Rabu pekan lalu, baru dua armada taksinya yang ditera. Pandu Wisata Taksi, baru dua armada, Metro Taksi menera tiga armadanya, Jala Taksi menera dua armadanya. Hanya Barelang Ekspress yang paling aktif, sudah menera tujuh armadanya. Bahkan, Citra Wahana Taksi, koperasi yang bernaung di bawah Dinas Perhubungan Batam, baru menera satu armadanya.

Masalah harga argometer juga jadi kendala. Banyak pengemudi yang tak mampu jika harus membeli argometer seharga Rp1,6 hingga Rp1,7 juta. Solusinya, para pemilik taksi harus diberi fasilitas kredit.

“Juga ada tujuh badan usaha taksi yang tak jelas. Badan usahanya ada, tapi pengelolanya tak jelas siapa yang bertanggung jawab, tapi di lapangan armadanya beroperasi. Badan usaha seperti ini harus dicabut izinnya,” kata Mulawarman.

Nasdi, Ketua Koperasi Pengemudi Taksi Trans mengatakan, pengaturan taksi di Batam sudah salah urus sejak lama. Bertahun-tahun taksi dibiarkan beroperasi seperti angkutan biasa, tanpa menggunakan argo. “Sekarang menyambut Visit Batam 2010, semua taksi diperintahkan menggunakan argo. Waktunya terlalu mepet,” tukasnya.

Ia menilai Pemko Batam tak punya rencana matang dalam penerapan taksi berargo ini. Penerapannya sepotong-sepotong, tak ada blue print akan seperti apa pelayanan jasa taksi di Batam nantinya. “Penerapan argo ini seperti dipaksakan,” katanya.

Sejumlah pengemudi taksi lain bersikap menunggu. Supriadi misalnya, mengaku masih menunggu ketegasan Pemko Batam. Ia berkaca pada kasus tahun 2002 silam. Saat itu Pemko Batam sudah mewajibkan semua taksi menggunakan argo, tapi setelah semua taksi membeli argometer, taksi berargo tak jadi dilaksanakan.

“Rugi, kalau nanti kami pasang argo tapi tak jadi diterapkan. Kami menunggu dulu. Kalau Dishub komitmen, barulah kami pasang argometer,” tukasnya.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Batam Chris S Triwinasis mengatakan, pihaknya siap menerapkan taksi argo di Batam. Dishub akan menindak tegas pelaku usaha taksi yang membandel. Taksi-taksi yang tak menggunakan argo atau tak lulus tera argo, tak akan diluluskan dalam uji kelayakan (kir) kendaraan. “Kalau tak lulus kir, berarti taksinya tak boleh beroperasi.”

Taksi-taksi yang beroperasi tanpa argo, kata Chris, akan ditertibkan. Bilboard bertuliskan taksi di atas kendaraan akan dilepas. “Berarti kendaraannya bukan taksi lagi,” katanya.

Karena itu, kata Chris, ia meminta pelaku usaha taksi segera melakukan tera argo. “Karena sebetulnya sebagian besar taksi di Batam sudah punya argometer, tapi tak digunakan karena baru sekarang taksi berargo diterapkan,” ujarnya.

Chris mengaku tera argo kali ini menjadi semacam pertaruhan bagi Dishub dan Pemko Batam. Karena itu, Dishub akan menindak tegas mereka yang membandel. “Jika gagal, semua tak akan lagi percaya pada pemerintah.”
****
Surya, pengemudi Trans Taksi menghela napas. Abdullah, petugas UPT Metrologi Disperindag Kepri menyatakan taksinya BM 1778 XO lulus tera argo. Ia memundurkan kendaraannya, lalu meminggirkannya ke samping lapangan.

Lolos tera, ternyata masih membuat Surya ragu. Ia bimbang antara menerapkan argo atau mengangkut penumpang sistem tarif jauh dekat seperti angkutan biasa. Apalagi, ada ribuan taksi di jalan raya masih bersiliweran tanpa argo.

“Saya siap menerapkan tarif berargo. Tapi, kalau penumpangnya minta tarif biasa bagaimana. Susah juga mau nolak,” katanya.

Sudirman, supir taksi yang mangkal di kawasan Nagoya mengaku hanya tamu-tamu dari Jakarta saja yang biasa menanyakan argo. Mereka biasanya wisatawan lokal yang baru datang ke Batam. Untuk tamu seperti mereka, Sudirman biasanya memberitahu kalau di Batam taksinya belum berargo.

“Kalau sudah dijelaskan seperti itu baru mereka mau naik. Biasanya, tarifnya nego di depan,” katanya.
****
Call Centre 0778-5141917 milik Barelang Ekspress tak berhenti berdering. Sejak melayani jasa taksi berargo, Barelang Ekspress selalu kebanjiran permintaan. Setiap hari, ada sekitar 70 panggilan yang masuk.

“Kami sampai kewalahan,” kata pemilik Barelang Ekspress Hardisam Harun, Kamis pekan lalu.

Menurut Hardisyam, ada sekitar 25 taksi di bawah naungan Barelang Ekspress yang sudah berargo. Jumlah ini, masih belum mampu melayani permintaan yang masuk ke call centre mereka. “Karena armada kami terbatas. Kami bahkan takut berpromosi karena takut tak bisa melayani permintaan,” tukasnya.

Permintaan layanan taksi berargo itu, kata Hardisyam, biasanya datang dari warga yang tinggal di perumahan mewah seperti dari Duta Mas atau Anggrek Mas. Dalam sehari, ada 70 panggilan masuk. Di siang hari biasanya sekitar 45 panggilan, selebihnya panggilan di malam hari.

“Kami berencana mau menambah armada baru.”

Bukan hanya Barelang Ekspress yang merasakan nikmatnya taksi berargo. Ahmad Joeni Syahputra, supir Piala Taksi sudah mendapatkan pemasukan lebih besar di hari pertama ia menggunakan taksi berargo.

Ahmad mencontohkan perjalanan dari Batam Centre ke Sekupang. Dengan sistem angkutan biasa, biasanya ia mematok tarif Rp10 ribu per penumpang. Jika penuh, ia bisa mendapatkan Rp50 ribu. Tapi, itu tergantung nasib. Jika nasibnya tak bagus, bisa-bisa ia hanya mengangkut satu penumpang.

Padahal, dengan jarak Batam Centre ke Sekupang sekitar 16,5 kilometer, ia bisa mendapatkan uang Rp49 ribu jika menggunakan sistem berargo. Batam Pos pernah mencoba taksi milik Ahmad itu. Dari Batam Centre ke Sekupang, tarifnya Rp49.860.

“Tarifnya lebih pasti,” kata Ahmad.

Menurut Mulawarman, penerapan taksi berargo berarti mengembalikan taksi kepada fungsi aslinya, sebagai kendaraan dengan citra eksekutif. Selama ini, taksi di Batam kehilangan fungsinya karena beroperasi seperti angkutan umum biasa.

Banyak keuntungan dari penerapan taksi berargo ini, kata Mulawarman. Di antaranya, masyarakat akan mendapatkan pelayanan lebih baik dan pengusaha juga akan lebih mendapatkan kepastian karena tarifnya jelas.

“Taksi-taksi tak resmi yang masih beroperasi, akan terkikis dengan sendirinya jika taksi argo diterapkan,” katanya.
****
Unjuk rasa itu digelar lima hari setelah Wali Kota Ahmad Dahlan melaunching penerapan taksi berargo di Batam. Membawa spanduk, ratusan pengemudi taksi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengemudi Taksi Pelabuhan Barelang (FKPTPB) berteriak di depan Kantor Wali Kota Batam, 5 Agustus lalu.

Tuntutan mereka tiga macam, tertibkan taksi plat hitam yang mangkal di hotel-hotel dan jalan raya, sesuaikan tarif taksi agar tak merugikan pengemudi dan turunkan harga onderdil. “Kami tak ingin rugi,” kata Ardi Oyong, ketua FKPTPB.

Ardi mengaku mendukung penerapan taksi berargo di Batam. Namun, untuk pengemudi taksi seperti mereka yang beroperasi di bandara dan pelabuhan, besaran tarifnya bisa bikin mereka rugi. Ia mencontohkan, dengan tarif buka pintu Rp4.500 dan Rp2.700 per kilometer, pendapatan para supir di bandara dan pelabuhan bisa menyusut separuhnya.

Misalnya, perjalanan dari bandara ke Batam Centre dengan jarak tempuh 11 kilometer, ongkosnya hanya Rp30 ribu jika menggunakan argo. “Padahal, selama ini ongkos taksi ke Batam Centre itu Rp70 ribu. Kami rugi,” tukasnya.

Padahal, dalam sehari para supir taksi yang beroperasi di bandara dan pelabuhan hanya bisa mengangkut penumpang rata-rata dua kali. “Kalau di jalan raya, kami setuju tetap mengacu pada tarif argo,” tuturnya.

Akan beda, kata Ardi, jika ada penambahan tarif di luar tarif yang ditunjuk argometer atau ia sebut sistem surcharge. Misalnya, untuk perjalanan jarak pendek ada penambahan biaya Rp25 ribu, sedangkan jarak jauh surcharge-nya bisa lebih kecil.

“Dalam aksi 5 Agustus lalu, kami mengusulkan agar ada biaya surcharge itu. Dishub waktu itu setuju, sekarang kami menunggu realisasinya,” katanya. “Kalau tak terealisasi, kami tak mau tera argo.” Sampai pekan lalu, taksi-taksi di bandara Hang Nadim belum menerapkan argometer.

Permintaan para pengunjuk rasa itu direspon Dinas Perhubungan Batam. Rabu pekan lalu, bersama Organda Dishub mengumpulkan para pengelola kawasan dan pelaku usaha taksi, minus FKPTPB yang mengaku tak diundang.

Menurut Sekretaris Dishub Batam Chris S Triwinasis, masalah surcharge itu diserahkan ke masing-masing pengelola kawasan. Surcharge, kata Chris, merupakan ongkos tambahan yang dibebankan pengelola ke pengemudi taksi karena adanya pelayanan seperti tempat antre, konter dan lainnya. Besarannya, ia harap tak terlalu tinggi sehingga tak membebani penumpang.

“Semua pangkalan dan kawasan kami minta sudah memasukkan usulan besaran surcharge-nya ke Dishub pada 1 September,” katanya. Yang penting, kata Chris, pengelola pelabuhan dan bandara berkomitmen hanya memperbolehkan taksi berargo mangkal di kawasan mereka.

Bagaimana dengan taksi plat hitam yang masih beroperasi? “Kami akan tertibkan. Dishub bersama kepolisian akan membentuk tim penertiban angkutan tak resmi. Tim ini akan jalan setelah SK Wali Kota turun,” tukasnya. Operasi penertiban taksi tak resmi itu, kata Chris, akan berjalan bersama razia kendaraan penumpang umum dan barang.

Razia taksi plat hitam selalu tak berjalan efektif. Bertahun-tahun, taksi-taksi plat hitam itu tak pernah bersih dari jalan raya. “Salah satu kendalanya, karena operasi sering bocor,” kata Chris.

Apakah ada orang dalam yang membocorkan operasi ini? “Saya susah menjawab yang ini,” katanya.

Polisi sendiri mengaku sudah sering memburu sedan-sedan plat hitam yang mengangkut penumpang. Caranya, dengan mengejar para supir plat hitam itu di tempat biasa mereka mangkal. “Bulan Juli saja, sudah 23 unit taksi plat hitam yang kami tilang karena mengangkut penumpang tanpa memiliki izin resmi,” kata Kasat Lantas Poltabes Barelang Kompol Eko Kurniawan.

Hanya saja, kata Eko, polisi tak bisa menahan mereka. “Kami hanya bisa menilang.” Setelah ditilang, supir-supir taksi plat hitam itu beroperasi kembali.***

One response to “Warna-warni Taksi di Batam

  1. Gambarnya lucu. aku mita ya. liat aja di WILUJENG SUMPING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s