Siasat Tiga Butir Telur

HARGA telur di Batam naik tiga kali semingguLili, 44, warga RT I RW 10 Kavling Senjulung, Kabil, Nongsa, duduk berselonjor kaki. Tangannya bergerak lincah menguaskan lem cair ke batang bambu berbentuk lidi, lalu menempelnya dengan guntingan kertas kado. Rabu (28/7) pagi, itu dia sedang membuat mainan “roket”. Bahannya dari potongan bambu, kertas kado yang digunting kecil-kecil dan karet gelang sebagai pelontar.

Roket mainan itu kemudian dikemas dalam plastik kecil. Harganya Rp1.000 per buah. Mainan itu dijual di rumahnya yang juga difungsikan sebagai toko kelontong. Selain menjual mainan buatan tangannya, Lili juga menjual beragam mainan lain seperti mobil-mobilan, pistol air, bola dan boneka.

“Ini cara saya agar bisa tetap makan,” tukasnya.

Lili bersuamikan Safaruddin, 49. Keduanya perantau dari Sumatera Barat. Pasangan ini memiliki tiga anak. Anak tertuanya putus sekolah karena tak punya biaya, anak keduanya ikut neneknya di kampung, sementara si bungsu masih kelas 1 SMP.

Sejak seminggu lalu Lili tinggal berdua dengan anak bungsunya. Safaruddin sedang berjualan di Belakang Padang. Menjelang bulan puasa dan perayaan 17 Agustus, Safaruddin saban tahun berjualan di sana. “Pulangnya seminggu sekali,” kata Lili.

Lili tadinya hendak mendatangi bazar sembako yang digelar Pemko Batam di RT III RW 11 Kavling Senjulung. Bazar tersebut menjual paket sembako berupa 5 kilogram beras, 2 kg minyak dan gula seharga Rp50 ribu. Paket tersebut lebih murah dari harga pasar karena disubsidi Pemko Batam.

Namun karena banyak warga tak mendapatkan kupon, warga protes. Bazar tersebut urung digelar. “Saya tadi tak dapat kupon juga. Padahal tinggal di kavling ini,” tuturnya.

Paket sembako murah itu, kata Lili, sangat penting bagi keluarganya. Apalagi kini harga-harga bahan makanan dan lainnya naik tinggi. Lili menyiasati naiknya harga itu dengan mengurangi porsi lauk keluarganya. “Kalau dulu saya masak lima butir telur sehari, sekarang dikurangi jadi tiga butir sehari. Kalau tidak begitu, bisa-bisa tak makan,” ujarnya.

Sejak merantau ke Batam tahun 1987, Lili mengaku tahun ini yang tersulit. Toko kelontongnya tak banyak memberi untung. Dia hanya berjualan mainan anak-anak yang untungnya hanya Rp200 per buah. Meski suaminya juga ikut bekerja, hasil kerja mereka selalu tak cukup untuk membiayai hidup di Batam. “Penghasilan saya dan suami setiap bulan tak lebih dari Rp1,5 juta-an. Harus dicukup-cukupkan,” tukasnya.

Bahkan meski sudah belasan tahun tinggal di Batam, Lili baru berani datang ke mal setahun sekali, setiap menjelang Lebaran. “Itupun beliin baju buat anak-anak. Saya tak beli karena uang tak cukup,” tukasnya.

Yeni Maria, 40, juga merasakan beratnya hidup. Setiap hari dia bekerja di sebuah perusahaan elektronik di kawasan Tunas Industri, Batam Kota. Gajinya sesuai upah minimum kota (UMK) Batam Rp1.110.000 per bulan. “Kalau lembur terus, ada tambahan Rp500 ribu per bulan,” katanya.

Dengan dua anak yang kini bersekolah di pesantren, Yeni dan suaminya sama-sama bekerja. Sebulan penghasilan mereka sekitar Rp3 juta. Jumlah itu mereka gunakan untuk membayar kredit sepeda motor, bayar listrik dan air, kebutuhan rumah tangga dan sekolah anaknya. “Saya sama juga dengan Bu Lili, harus pandai-pandai mengatur,” katanya.

Untungnya Yeni tak perlu memikirkan biaya sewa rumah. Dia kini menempati rumah semi permanen di lahan 6 kali 10 meter pemberian Otorita Batam di Kavling Senjulung. “Tapi niat saya mau beli pasir untuk menambal rumah tak kunjung bisa. Tak ada duit,” tukasnya.

Ahmad Sirotol, 21, penjaga kantor sebuah instansi pemerintah di kawasan Batuampar, juga bernasib sama. Digaji Rp1 juta per bulan, Ahmad harus pintar-pintar mencari pemasukan tambahan. Gajinya sebagai penjaga kantor antara lain digunakannya untuk membayar kredit sepeda motor Rp635 per bulan, sisanya untuk bensin dan lainnya.

“Untungnya saya tak perlu beli makanan. Ada yang menanggung makan-minum saya,” katanya.

Untuk menambah penghasilan, sepulang menjaga kantor, Ahmad kadang menjadi tukang ojek. Dia mendapatkan tambahan uang sekitar Rp200 ribu per bulan. “Nongkrongnya di depan kantor pajak Batuampar,” katanya.

Sebagai lajang, Ahmad tak dipusingkan dengan kebutuhan rumah tangga dan biaya anak sekolah. Meski begitu, keinginannya untuk jalan-jalan ke mal dan tempat wisata lainnya di Batam juga harus ditahan karena penghasilannya tak mencukupi. “Kadang sebulan sekali juga ke mal atau nonton film. Tak bisa sering-sering,” tuturnya.

Biaya hidup di Batam memang lebih besar dibandingkan UMK-nya. Survei Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (F-SPMI) Batam di bulan Juli ini soal Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menemukan, setidaknya seorang pekerja lajang memerlukan uang Rp1.380.440 sebulan agar bisa hidup di Batam.

“Survei KHL itu patokannya Permenaker Nomor 17 Tahun 2005. Sampai Desember nanti kami akan melakukan survei terus,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (F-SPMI) Batam Nurhamli, Selasa (27/7) lalu.

Ada 46 item yang disurvei F-SPMI. Di antaranya kelompok makanan dan minuman sebelas item, kelompok sandang sembilan item, perumahan 19 item, pendidikan satu item, kesehatan tiga item, transportasi, rekreasi dan tabungan. Survei tersebut, kata Nurhamli, dilakukan di sembilan pasar tradisional utama di Batam. Seperti di Aviari Batuaji, pasar angksa Jodoh, Tiban, Bengkong, Mega Leganda Batam Kota, GMP Tanjungpiayu, pasar Sagulung dan Fanindo.

“Minggu ini saya dapat kabar dari teman-teman harga barang-barang malah sudah bergerak naik lagi. Angkanya bulan depan bisa jadi lebih besar lagi,” tuturnya.

Tingginya angka KHL, kata Nurhamli, tak pernah dibarengi dengan naiknya UMK Batam. Ini mengakibatkan daya beli masyarakat Batam yang sebagian besar buruh tak sebanding dengan naiknya harga-harga. Para pekerja hidup pas-pasan.

“Banyak pekerja yang hanya bisa makan mie. Kurang darah,” katanya.

Akibatnya, produktifitas pekerja menurun. “Karena asupan gizinya kurang, otomatis produktifitas pekerja menurun. Banyak yang kurang darah, sakit-sakitan,” ujarnya.

Selama ini, kata Nurhamli, serikat pekerja selalu mendorong agar UMK sesuai dengan KHL karena KHL di Batam cenderung terus naik dari tahun ke tahun. Padahal, UMK bisa jadi tak perlu naik, asal KHL juga turun.

“Pemerintah harusnya bisa mengambil peran mengontrol harga-harga,” tukasnya.

Tahun 2008 lalu, lembaga survei terkemuka Mercer Indonesia, pernah melakukan survei biaya hidup di sejumlah kota di Indonesia. Mereka menemukan, dari 25 kota yang disurvei, Batam berada di urutan ke sembilan sebagai kota termahal di Indonesia. Batam mengalahkan Medan, Padang, Manado, Makassar, Yogyakarta dan kota besar lain seperti Surabaya sebagai kota termahal.

Survei itu mencerminkan, secara umum warga Batam mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk kebutuhan hidup sehari-hari dibandingkan warga dari 16 kota-kota besar lain di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Padahal, Batam dihuni 36.207 keluarga miskin yang setiap bulan mendapatkan bantuan beras miskin (raskin) dari pemerintah. Kawasan paling padat, kecamatan Sagulung, tempat bermukimnya pekerja pabrik dan galangan kapal termasuk yang paling miskin.

***
Tingginya biaya hidup di Batam tak lepas dari kondisi Batam sebagai kota konsumen. Hampir seluruh kebutuhan bahan makanan, sandang, makanan jadi, rokok dan tembakau didatangkan dari luar Batam. Begitu juga dengan harga air dan listrik juga lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia.

“Ini nasib Batam sebagai kota yang memasok hampir seluruh kebutuhannya dari luar,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Batam, Ahmad Hijazi, Rabu (28/7).

Tingginya biaya hidup di Batam, kata Hijazi, harus dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat. Konsepnya, dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menstabilkan harga-harga. “Dan ini tentu bukan hanya harus diselesaikan oleh Disperindag yang berada di hilir, tapi harus menjadi rencana strategi pemerintah daerah, baik Pemko Batam maupun DPRD,” katanya.

Jika ingin meningkatkan pendapatan masyarakat, UMK Batam harus naik dan harga-harga harus stabil, begitu juga dengan distribusi barang ke Batam. Jika ingin meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menstabilkan harga-harga, konsep pembangunan Batam juga harus diubah. Pemerintah harus mulai memikirkan bagaimana Batam memiliki peternakan sapi, perkebunan dan lainnya.

“Jika selama ini produksi sayur atau ayam di Batam hanya 20 persen, harus ditingkatkan jadi minimal 40 persen,” ujarnya.

Selama ini, kebijakan pemerintah daerah tak menyentuh ke sana. Dalam APBD Batam 2010, misalnya, anggaran pengadaan bazar paket sembako murah terus turun dibandingkan tahun sebelumnya. Catatan Batam Pos, tahun 2007, bazar sembako memiliki anggaran lebih dari Rp2 miliar. Namun tahun ini, anggarannya hanya Rp604,8 juta. Dana tersebut hanya cukup untuk membeli 19.200 paket sembako murah. Angka itu jauh dari jumlah rumah tangga miskin di Batam yang mencapai 36.207 rumah tangga miskin.

Bahkan operasi pasar di Disperindag, hanya Rp10 juta per bulan. “Itu hanya cukup untuk biaya transportasi, tenaga dan lainnya. Kalau mau benar-benar membantu masyarakat, harus dimulai dari kebijakan penganggaran di APBD,” kata Hijazi.

One response to “Siasat Tiga Butir Telur

  1. good blog..nice post..:)
    Salam kenal..ditunggu kunjungan baliknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s