Mahkota Juwita Dipetik Ayah Sendiri

Puluhan anak-anak di Kepri mengalami pelecehan seksual dan kekerasan lainnya. Pelakunya, rata-rata orang dekat mereka.

Kamar itu berukuran 3 kali 2 meter. Berdinding tripleks semi permanen dan berlantai semen. Di dalamnya, sebuah kasur tipis tergulung di samping lemari kayu kecil setinggi satu meter yang berdiri di pojok kanan. Tak ada lampu dan jendela, dengan pintu yang hanya ditutup kain bergambar bunga warna kelabu.

Di kamar itulah, Juwita, sebut saja begitu, digagahi Jarno, ayah tirinya, empat tahun yang lalu. Dan selama empat tahun anak perempuan yang kini berumur 16 tahun itu terus menjadi budak seks. “Dia selalu ngancam akan bunuh emak kalau saya tak mau,” kata Juwita, Selasa (5/10) lalu.

Juwita berperawakan mungil, hitam manis. Selasa siang itu dia mengenakan kaos oblong merah dan celana jeans. Rambut panjangnya diikat dengan karet gelang. Empat tahun digauli ayah tirinya tak membuat dia kehilangan senyum. Wajahnya polos. Dia bercerita tanpa beban, sambil sesekali menyelipkan kata takut saat ditanya kenapa tak mau melapor sejak awal.

Juwita tak ingat lagi bulan apa dia pertama kali datang ke Batam. Dia hanya ingat saat itu baru lulus SD, tahun 2006 silam. Dia datang bersama Elok, adiknya, dari sebuah desa di Pacitan, Jawa Timur, karena disuruh Sutrani, ibunya. Jarno, suami baru ibunya, yang menjemput dia waktu itu.

Mereka tinggal di sebuah rumah liar di Sagulung. Rumah pasangan Jarno dan Sutrani semi permanen. Bentuknya memanjang ke samping kira-kira berukuran 12 kali 4 meter. Ada dua kamar di rumah itu. Satu ditempati Jarno dan Sutrani, satu lagi ditempati Juwita dan Elok.

Malapetaka itu terjadi tiga hari setelah Juwita tiba. Malam itu Sutrani bekerja sebagai tukang pijat tradisional. Jarno asyik merokok di luar rumah. Elok yang masih berumur delapan tahun tidur terlelap. Juwita masuk ke kamar ibunya, mencari gunting di dalam lemari. Tiba-tiba tangan kekar memegang kedua tangannya dari belakang. Belum sempat menoleh, suara berat Jarno terdengar. “Diam. Kalau teriak, tak pateni (saya bunuh) ibumu,” kata Juwita menirukan Jarno.

Juwita belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya tahu tubuhnya ditidurkan di lantai, lalu pakaiannya dilucuti. Malam itu kesuciannya direnggut ayah tirinya. Juwita menangis tapi tak mengeluarkan air mata. Bahkan untuk bersuara, dia takut setengah mati. Ancaman Jarno terus terngiang di telinganya.

Besoknya, tengah hari saat Sutrani pergi memijat pelanggannya, kejadian serupa terulang. Juwita tak kuasa menolak. Kejadian itu terus berulang selama empat tahun. Kadang di kamar Jarno, kadang di kamar Juwita. “Saya tak ingat lagi berapa kali dia begituin saya. Sudah tak bisa dihitung,” tutur Juwita.

Sutrani sempat curiga pada sikap Jarno terhadap Juwita. Menurut Sutrani, suaminya itu menunjukkan sikap berlebihan. Saat Sutrani bertanya, Jarno mengatakan, “Kalau cinta sama ibunya, ya harus cinta juga sama anaknya.” Sutrani mengira cinta Jarno kepada Juwita adalah cinta ayah terhadap anak. “Saya tak curiga sama sekali. Kalau begini, biarlah dia ditangkap polisi,” katanya.

Perbuatan Jarno terbongkar pada Jumat (24/9) siang. Sepulang dari kebun sayur di Kampung Baru, Seibinti, Juwita melihat Jarno memukul adiknya. Amarah Juwita meledak. Dia bertengkar dengan Jarno. Setelah itu, Juwita melapor ke Sutrani kalau dia sudah tak perawan lagi. Tapi Sutrani tak menangkap maksud anaknya itu. Dia mengira ada pemuda di kebun sayur, yang memperkosa Juwita. Apalagi Juwita tak menyebut siapa laki-laki yang merenggut kesuciannya.

Malamnya, saat Sutrani kembali bertanya, Juwita masih enggan bicara. Baru setelah paman dan bibinya datang, Juwita mengaku. Namun Jarno sadar perbuatannya bakal terbongkar. Dia kabur. Polisi tak menemukan keberadaan Jarno. “Anggota masih mencari,” kata Kapolsek Sagulung AKP Agus Joko Nugroho, Selasa (5/10).

Meski masih bisa tersenyum, Juwita mengaku trauma. Dia tak pernah lagi tidur di rumah ibunya. “Saya sekarang tinggal di rumah atas, sama bibi,” katanya.

Nasib yang sama juga dialami Intan, nama samaran, siswa SMP di Bintan. Gadis berumur 15 tahun itu diperkosa Dahlan, ayah tirinya, selama dua tahun. Intan tak hanya putus sekolah, dia melahirkan anak hasil perbuatan ayah tirinya. Dahlan kini dihukum lima tahun penjara.

Intan tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di sebuah rumah panggung di atas pelantar di Bintan. Setiap hari ibunya bekerja sebagai pencuci baju di rumah orang. Sepulang sekolah, Intan hanya tinggal berdua bersama Dahlan.

Menurut Intan, dia pertama kali diperkosa saat masih kelas I SMP. Siang itu, dia hendak berganti baju. Dahlan yang berada di ruang tengah mendekatinya membawa pecut ikan pari. Dengan pecut di tangan itulah Dahlan memaksa Intan. Intan pun tak berani bicara. Ini membuat Dahlan makin berani. Dia selalu menyiapkan pecut pari setiap kali memperkosa Intan.

Dua tahun diperkosa, Intan hamil dan melahirkan anak. Kesedihannya makin dalam karena dikeluarkan dari sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepri pernah membantu Intan agar bisa sekolah lagi, namun pihak sekolah menolak. Setelah berkali-kali pertemuan, Intan diizinkan ikut ujian nasional. Tapi Intan terlanjur malu. Dia menolak sekolah. Intan kini bekerja di sebuah rumah makan. Anaknya dititipkan pada keluarganya.

Dua kisah tadi hanyalah contoh kecil kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kepri. Tahun 2008 terjadi 138 kasus, naik jadi 144 kasus pada tahun 2009. Tahun ini diperkirakan kasusnya makin tinggi melihat kecenderungan naiknya kasus setiap tahun. Data di KPAID menyebut, kasus kekerasan seksual seperti pemerkosaan dan pencabulan adalah yang paling banyak dialami anak-anak di Kepri.

Yang menggegerkan publik adalah kasus pemerkosaan berantai yang dilakukan Codet alias Davis Suharto alias Dicky Saputra. Codet beraksi di Batam dan Bali. Codet mengiming-imingi korbannya dengan janji mau diajak ke tempat wisata, dibelikan es krim, pura-pura menanyakan alamat orang dan lainnya. Bila menolak, Codet akan langsung menaikkan korbannya ke sepeda motor lalu dibawa lari ke tempat sepi.
Di Batam, Codet melakukan tujuh kali aksi. Lima anak diperkosa, dua lainnya dicabuli. Semuanya terjadi dalam rentang waktu April-September. Codet yang ahli memijat melemahkan titik-titik syaraf korbannya. Untungnya Codet berhasil ditangkap di Bali.

Banyak korban Codet mengalaumi trauma hebat. Melati, 11, korban Codet yang tinggal di Bengkong, takut keluar rumah kalau tak ditemani orang tuanya. Bahkan Melati sampai berbulan-bulan tak sekolah karena ketakutan.

Di luar kasus Codet, rata-rata kekerasan terhadap anak dilakukan oleh orang dekatnya. Ada yang dicabuli ayah kandungnya atau tirinya, pacar, teman bermain, bahkan pacar ibunya. Seperti yang dialami Bunga, 4, pada Agustus lalu. Bunga dicabuli pacar ibunya. Ironisnya, karena masih cinta pada pacarnya, ibu bunga, BT, mendiamkan tragedi yang dialami anaknya itu.

BT baru mendatangi Polsek Lubukbaja setelah ditinggal pacarnya. “Dia membohongi saya. Ngakunya tak punya istri, ternyata punya anak dan istri di Tiban. Makanya saya laporkan ke polisi sudah mencabuli anak saya,” kata BT.

Tahun ini, selama sembilan bulan, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polresta Barelang menangani 18 kasus kekerasan terhadap anak. 15 kasus sudah dimajukan ke pengadilan dan beberapa di antaranya sudah diputus, tiga kasus lainnya masih dalam proses di kepolisian.

“Dari banyak kasus kekerasan, rata-rata adalah kasus kekerasan seksual. Hanya satu yang kasus anak terlantar,” kata Kanit PPA Satreskrim Polrestas Barelang Ipda Yulianti.

Yulianti menyayangkan KPAID Kepri yang tak banyak terlibat dalam kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Batam. “Untungnya masih ada ibu Lince Rambi yang mau mendampingi anak-anak itu,” katanya.

***

Lince Rambi, Ketua Forum HAM Perempuan Batam, punya pengalaman panjang bagaimana mendampingi anak-anak korban kekerasan itu. Sejak tahun 1998, kala bertugas di Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB), Lince sudah menghadapi masalah-masalah kekerasan terhadap anak. Waktu itu, yang didampingi Lince adalah anak-anak jalanan. Anak-anak itu kadang dipukuli, bahkan disodomi oleh sesama anak jalanan. Beberapa di antaranya yang perempuan, juga ada yang menjadi korban pencabulan.

Lince kadang harus bolak-balik ke kantor polisi karena sebagian anak asuhnya berurusan dengan kepolisian karena kasus pengeroyokan dan lainnya. Bertahun-tahun kemudian, dia diminta menjadi pendamping untuk anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

Mendampingi anak yang jadi korban kekerasan, apalagi itu korban kekerasan seksual, menurut Lince, membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Pendamping harus telaten menguak fakta dan harus sabar menghadapi penolakan-penolakan. Kadang, kata Lince, orang tua korban enggan melapor karena malu atau takut berurusan dengan kepolisian. “Banyak orang tua yang tak mengerti harus bagaimana kalau anaknya menjadi korban pelecehan,” tukasnya, Selasa (4/10).

Belum lagi harus merayu anak yang menjadi korban agar mau berbicara. Ini karena anak-anak korban pelecehan seksual takut dan trauma. Pernah, kata Lince, dia harus menunggu sampai empat bulan agar anak korban pencabulan mau menunjuk siapa pelakunya. “Si anak ini takut karena diancam mau dibunuh. Ibunya juga tak mau berurusan dengan polisi karena salah satu tersangkanya anak tokoh masyarakat di Tanjunguma,” katanya.

Setelah korban mengaku, kata Lince, bukan berarti kasus selesai. Dia harus mencari saksi yang melihat perbuatan itu. Di sini, Lince kembali harus bekerja keras meyakinkan saksi mau menjadi saksi kasus itu. Banyak yang menolak karena alasan dilarang suami atau tak mau repot.

Seperti kasus pencabulan dengan tersangka penjual rokok di Kampung Aceh, Mukakuning, misalnya. Lince harus berkali-kali datang ke rumah tetangga korban agar mau menjadi saksi. “Saya tungguin rumahnya sampai tengah malam, tetap tak mau,” ujarnya.

Dari banyak pengalaman itu, kata Lince, dia sering mengingatkan para orang tua agar tak melepas anak gadisnya bermain sendiri tanpa pengawasan. Banyak orang yang memanfaatkan situasi sepi untuk mencabuli anak-anak. Soal pakaian yang dikenakan anak, kata Lince, juga harus dijaga. “Pernah ada kasus, seorang bapak mencabuli anak tetangganya gara-gara melihat celana dalam si anak yang kedodoran. Hal-hal kecil seperti ini harus diperhatikan,” tuturnya.

Bahkan kepada orang-orang terdekatnya sekalipun, kata Lince, orang tua harus waspada. “Karena rata-rata pelaku pencabulan dan kekerasan lainnya itu orang terdekat korban. Bisa pamannya, ayah tirinya, atau tetangganya,” katanya.

Selain kasus pencabulan, kasus kekerasan fisik angkanya juga tak kecil. Dan lagi-lagi pelakunya sebagian besar orang terdekat korban. Bisa ayah atau ibu kandung, atau ibu tirinya. Korban ada yang dipukuli, disiram air panas, tidak diberi makan berhari-hari dan beragam penyiksaan lainnya.

Salah satu kasus yang paling diingat Lince adalah penyiksaan Dini. Bocah enam tahun itu disiksa ibu tirinya gara-gara ayahnya, berkewarganegaraan Singapura, sering tak pulang dan tak memberi uang. Penyiksaan itu berlangsung selama empat tahun.

Dini, menurut Lince, adalah anak hasil hubungan gelap seorang pekerja seks komersial dan seorang pria Singapura. Saat berumur 2,5 tahun, orang tua Dini berpisah. Ibunya bekerja di Malaysia, ayahnya hidup dengan kekasihnya yang lain. Dini kemudian dititipkan pada seorang pengasuh di kawasan Batam Centre.

Suatu hari, pria Singapura itu datang mengambil Dini. Kepada pengasuhnya, pria itu mengaku hendak membawa Dini jalan-jalan ke mal. Karena yang datang ayahnya, pengasuhnya memberikan anak itu. Namun ternyata Dini tak dikembalikan lagi. Dini pun hilang tanpa kabar.

Setahun kemudian, pria Singapura itu menelepon ibu Dini di Malaysia minta dikirimi uang karena Dini sakit. Enam bulan kemudian, telepon yang sama datang mengabarkan Dini meninggal dan dimakamkan di Tanjungpinang. Ibu Dini sempat datang ke Tanjungpinang, mencari Dini di hampir semua komplek pemakaman di sana. Namun makam Dini tak pernah ditemukan.

Hingga tiga tahun kemudian, pertengahan tahun lalu, Batam Pos memberitakan penyiksaan seorang anak oleh ibu tirinya. “Di situlah saya diberitahu pengasuhnya, kalau anak yang disiksa itu adalah si Dini yang dikabarkan meninggal tiga tahun lalu,” kata Lince.

Lince pun mendatangi Mapolsek Bengkong. Di sanalah dia dipertemukan dengan Dini. Kondisinya sangat mengenaskan. Ada bekas luka tersiram air panas di dagu dan bibirnya. Tubuhnya lebam dan penuh bekas luka. Yang paling membuat Lince tergetar saat melihat rambut Dini. Rambut bocah berumur enam tahun itu rontok karena sering dijambak. Banyak bekas luka di kulit kepalanya.

Ternyata, selama hampir empat tahun Dini tinggal bersama ayah dan ibu tirinya di kawasan Bengkong. Dan selama empat tahun itu, jika ayahnya tak pulang, Dini disiksa oleh ibu tirinya. “Benar-benar mengenaskan. Saya bahkan sempat berpikir, kok bisa ada orang punya hati menyiksa anak kecil sekeji itu,” katanya.

Lince juga kerap menegur orang tua yang memukul anaknya. Pernah suatu hari, kata Lince, saat sedang naik angkutan umum, dia melihat seorang ibu memukul anaknya di pinggir jalan di kawasan jalan Raden Patah, Baloi. Dia segera turun dan menegur ibu itu. Tapi ibu itu tak terima. Suaminya yang bekerja di kios tak jauh dari lokasi itu, ikut memarahi Lince. “Katanya itu anaknya sendiri, tak usah ikut campur,” kata Lince.

Karena ngotot, kata Lince, dia mengancam akan membawa suami-isteri itu ke kantor polisi. Anak, kata Lince kepada suami-istri itu, tak boleh dipukul. Kalau tak mampu, biar dia bawa dan dijadikan anak negara. “Baru setelah itu mereka minta maaf,” ujarnya.

Sampai sekarang, kata Lince, kalau ada orang tua yang memukul anaknya, dia tak segan-segan membawanya ke kantor polisi. “Anak-anak itu harus dilindungi,” katanya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s