Berebut Jadwal Gunting Pita

Tiga pejabat Pemko Batam bersaing di pemilihan wali kota Batam 2011 bersama tiga pasang calon lainnya. Sama-sama rajin safari, sama-sama sering tampil di media.

***

Pencanangan Pekan Imunisasi Campak dan Polio Tingkat Kota Batam itu digelar di Posyandu Kampung Baru, Tanjung Riau, Sekupang, Rabu, awal Oktober lalu. Hadir Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dan wakilnya Ria Saptarika. Sejumlah pejabat Pemko Batam mendampingi, tak ketinggalan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Syamsul Bahrum.

Ahmad Dahlan dan Ria Saptarika didapuk meneteskan vitamin pada anak yang dibawa orang tuanya ke Posyandu itu. Masing-masing meneteskan dua tetes ke dalam mulut dua balita. Syamsul Bahrum yang berdiri di samping Ahmad Dahlan pun ikut meneteskan imunisasi itu.

Meski acara seremoni itu tak istimewa, ada cerita lain di balik penetesan imunisasi tersebut. Kebetulan, Ahmad Dahlan, Ria Saptarika dan Syamsul Bahrum adalah pejabat Pemko Batam yang maju dalam pemilihan wali kota Batam dengan pasangan berbeda. Ahmad Dahlan menggandeng Rudi, Ria berpasangan dengan Zainal Abidin dan Syamsul dipinang Amir Hakim Siregar.

Sehari setelah penetesan imunisasi itu, sebuah pesan pendek masuk ke ponsel Syamsul Bahrum. “Saya sudah lupa siapa yang ngirim. Isinya, katanya, Pak Wali menegur Kadis Kesehatan karena saya ikut meneteskan imunisasi juga,” kata Syamsul Bahrum, di Masjid Agung Batam, Selasa (26/10) lalu.

Pesan pendek (SMS) itu, kata Syamsul, tidak dia konfirmasi ke Chandra Rizal, Kadis Kesehatan Batam, maupun ke Wali Kota Ahmad Dahlan. “Itukan hanya SMS tokoh masyarakat yang peduli pada Abang,” tukasnya. Syamsul selalu menyebut dirinya Abang jika bertemu wartawan.

Sumber Batam Pos yang hadir dalam pencanangan imunisasi itu membenarkan peristiwa itu. Menurut sumber itu, Syamsul Bahrum awalnya bukan termasuk pejabat yang didapuk meneteskan imunisasi. Entah mengapa, panitia acara menyebut nama Syamsul, hingga bakal calon wali kota itu ikut meneteskan imunisasi. “Itu yang membuat Pak Wali marah. Mestinya yang netesin cuma Pak Wali sama Pak Wawako,” tukas sumber di lingkungan Pemko Batam, itu.

Dikonfirmasi cerita itu, Ahmad Dahlan menampik. “Bukan sifat saya seperti itu,” katanya, di atas fery dalam perjalanan dari Sagulung menuju Pulau Seraya, Bulang. “Untuk referensi Anda, setiap kali saya menghadiri acara, Pak Syamsul selalu saya perkenalkan sebagai bakal calon wakil wali kota. Tak benar kalau saya marah,” tukasnya, tersenyum.

Chandra Rizal yang ikut mendampingi Wali Kota Ahmad Dahlan, memilih tersenyum. Ditanya kebenaran cerita itu, kepala dinas yang baru menggantikan Mawardi Badar itu tak bersuara. Chandra terus tersenyum seperti bosnya.

Sejak mendaftar sebagai balon wakil wali kota, Syamsul sudah mengajukan surat mundur dari jabatannya. Namun sampai kemarin, surat itu masih dalam proses. Hari-hari ini, Syamsul masih terus menjabat sebagai Asisten Ekonomi dan Pembangunan. Mobil dinas BP 11 C dan ruangannya di lantai dua kantor Wali Kota Batam masih digunakannya.

Namun dalam urusan kerja, Syamsul tak banyak lagi dilibatkan. Dalam rapat-rapat wali kota, Syamsul tak banyak diundang. Kalau dulu dia banyak mewakili Ahmad Dahlan, kini sudah tak pernah lagi. Ahmad Dahlan lebih memilih mewakilikan kehadirannya pada pejabat lain yang dulunya tak pernah mewakili dirinya.

Seperti Sabtu (23/10) lalu misalnya. Dalam pelepasan Jambore Jip dan Motoventure Batam 2010 di Engku Puteri, Dahlan diwakili Hartoyo Sirkoen, Kepala Inspektorat Kota Batam. Namun Syamsul hadir juga. Jika Hartoyo melepas iring-iringan 60 pengendara jip, Syamsul melepas iring-iringan 50 pengendara motor.

Mengapa Syamsul hadir? “Abang hadir karena diundang. Abang kan pembina komunitas sepeda motor juga,” tukasnya.

Kehadirannya dalam banyak acara, kata Syamsul, karena diundang sebagai pribadi maupun pejabat Pemko Batam. “Namun Abang tak pernah lagi mewakili Wali Kota,” tukasnya.

Dahlan beralasan tak mewakilkan kehadirannya pada Syamsul agar Syamsul punya banyak waktu bersosialisasi. “Itu kan positif agar Pak Syamsul punya waktu bersosialisasi sebagai calon wakil wali kota,” ujarnya.***Pesan singkat (SMS) lain mampir ke ponsel Syamsul Bahrum. Kali ini, pesannya cukup gawat. Si pengirim pesan mengaku dikirimi SMS oleh seorang camat agar mengumpulkan massa untuk mendukung salah seorang pejabat Pemko Batam yang tampil sebagai calon wali kota.

SMS ini langsung di-forward Syamsul ke camat yang bersangkutan. “Abang peringatkan camatnya agar tak macam-macam. PNS itu harus netral,” kata si Abang.

Syamsul pun membentuk tim intelijen. Sebanyak 12 orang dia tugaskan memantau 12 camat yang dikabarkan kompak mendukung calon wako tertentu dari Pemko Batam. “Kalau mereka tertangkap basah, ada buktinya, saya akan laporkan ke Panwaslu atau ke polisi,” tuturnya.

Ria Saptarika menerima SMS yang sama. Tak hanya satu, tapi sering. Laporannya rata-rata soal kepala dinas, camat atau lurah yang menjadi tim sukses pejabat Pemko Batam. “Tapi saya tak begitu menghiraukan laporan itu,” tukas Ria, Kamis (28/10).

Bahkan dalam kunjungan Ria ke sejumlah perumahan dan komunitas tertentu, laporan banyaknya birokrat yang berpihak masuk ke telinga Ria. “Itu bukan rahasia lagi,” tuturnya.

Siapa yang menggerakkan para birokrat itu? Ria dan Syamsul tak menyebut nama. “Yang pasti saya tak mungkin menggerakkan birokrat. Saya menghargai mereka yang harus tetap netral. Bahkan jika ada yang mendukung saya, saya bilang cukup dari jauh saja,” ujar Ria Saptarika.

Ahmad Dahlan juga menampik menggerakkan para camat atau lurah agar mendukung dirinya. “Itu haram,” tukasnya.

Menurut Dahlan, dia memang memerintahkan semua jajarannya, termasuk camat dan lurah menyukseskan pelaksanaan pemilihan wali kota Batam. Jika Komisi Pemilihan Umum pelaksananya, Panwaslu pengawasnya, Pemko Batam, kata Dahlan, yang bertanggung jawab menyukseskan pemilihan itu. “Saya minta mereka menyukseskan pemilihan wali kota, bukan saya minta mendukung saya. PNS harus tetap netral,” katanya.

Tapi kabar yang menguap di luar, banyak kepala dinas, camat dan lurah mendukung Ahmad Dahlan. Zulhendri, Kepala Badan Kesbang Linmas dan Politik Kota Batam, paling santer disebut. Zulhendri paling sering mendampingi Ahmad Dahlan dalam kegiatan kemasyarakatan. Jika Dahlan bertemu warga, biasanya Zulhendri ikut serta.

Ditanya soal kabar itu, Zulhendri membantah. Menurut dia, sebagai Kepala Badan Kesbang Linmas dan Politik, dia harus membantu Wali Kota menyukseskan pemilihan umum dan agenda kemasyarakatan dan politik. Dalam Pemilu legislatif, pemilihan presiden dan pemilihan gubernur Kepri, dia juga selalu menempel Wali Kota. “Tapi saat itu tak ada yang mempermasalahkan posisi saya karena Pak Wali tak maju sebagai calon,” katanya, Rabu (27/10).

Jika ada yang menilai dia mendukung Ahmad Dahlan, kata Zulhendri, penilaian itu dia anggap wajar-wajar saja. “Tapi buktinya, hitam di atas putih kan tak ada,” ujarnya.

Tak hanya Ahmad Dahlan, kata Zulhendri, Ria Saptarika juga akan dia fasilitasi jika meminta. “Semua pejabat Pemko Batam kalau meminta, sepanjang itu tugas saya, saya akan bantu,” tukasnya.

***

Perang iklan di antara tiga pejabat Pemko Batam itu juga berlangsung sengit. Di media, bersama pasangannya masing-masing, ketiganya termasuk bakal calon yang iklannya sepanjang tujuh kolom tampil di halaman utama koran. Dahlan, Ria dan Syamsul meninggalkan pasangan calon lain seperti Arifin Nasir-Irwansyah, Nada F Soraya-Nuryanto dan pasangan independen Insyah Fauzi-Andi Nadjib dalam hal penerbitan iklan.

Dahlan-Rudi mengusung tagline Setia Bersama Rakyat. Ria-Zainal mengklaim Pemimpin Muda, Pemimpin yang Bekerja. Sementara Syamsul bersama Amir Hakim yang menamakan diri HARUM, mencap paduan keduanya dengan kata Berkualitas. Syamsul doktor, Amir dokter.

Pertarungan juga terjadi di pemberitaan. Hampir tiap hari Dahlan tampil di halaman utama koran di Batam. Begitu juga dengan Ria dan Syamsul, meski intensitas keduanya masih kalah dengan Dahlan. Di luar tiga pejabat Pemko Batam itu, mungkin cuma Irwansyah yang kerap tampil di koran.

Suatu hari, usai salat Jumat, Dahlan mendatangi pangkalan ojek di depan Bank BCA di Jodoh. Masih mengenakan baju koko warna biru muda dan peci hitam, Dahlan menyapa para tukang ojek itu. Kunjungan yang seolah mendadak itu sontak mengagetkan para tukang ojek. Padahal Dahlan sengaja memilih pangkalan ojek di depan BCA itu, karena di sana termasuk pangkalan paling ramai di Batam. Setelah berkenalan dan menasehati mereka, Dahlan menyumbangkan uang Rp800 ribu untuk membeli tenda pangkalan ojek itu.

Konon, selain menjadi pangkalan, pangkalan ojek di sana juga menjadi alamat surat. Banyak surat dialamatkan ke pangkalan ojek itu. Pendatang baru yang tak tahu alamat keluarganya di Batam, menjadikan pangkalan ojek di depan BCA itu sebagai penanda.

Wartawan pun sibuk mengabadikan kedatangan Dahlan. Besoknya, foto Dahlan bersama para tukang ojek menjadi foto utama halaman kota di sejumlah media. Di lain waktu, Dahlan juga muncul dengan foto sedang memberi bantuan ke masjid atau korban kebakaran. Sebuah pencitraan politik yang membuat Dahlan paling populer, dan diunggulkan di survei-survei.

Tapi Dahlan menampik jika disebut sedang berkampanye. “Itu bukan kampanye, tapi pendekatan saya ke masyarakat dan silaturrahmi,” katanya. “Saya hanya minta ke humas, agar di setiap kegiatan saya wartawan diikutkan. Jika foto saya muncul di media, lalu disebut kampanye, itu efek lain,” tuturnya.

Baliho Dahlan sebagai wali kota Batam yang mengajak warga Batam taat pajak juga berdiri di hampir seluruh simpang jalan di Batam. Di Simpang Jam, Simpang Kabil, Batuaji, Nongsa, Sekupang hingga Batuampar tak ada yang luput dari baliho itu. Di lain tempat, dia tampil dalam slogan penghijauan. Posisi Dahlan sebagai wali kota membuat dia bisa melakukan itu.

Dahlan mengaku kegiatannya bertumpuk. Bahkan banyak undangan pertemuan yang tak bisa dia datangi karena terbatasnya waktu. “Tapi saya belum kampanye. Yang kampanye itu, ya iklan di koran,” tukasnya.

Aktivitas Ria tak kalah sibuk dengan Dahlan. Sejak menjadi calon wali kota, intensitas pertemuannya dengan warga tambah banyak. Di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya sebagai Wakil Wali Kota Batam, Ria bisa hadir di sepuluh pertemuan. “Hari Sabtu-Minggu, itu yang paling banyak,” kata Ria.

Seperti Sabtu (23/10) pekan lalu. Ria bersama Zainal dan timnya menyambangi pasar tradisional, menyapa pedagang dan menjadi tempat curahan hati mereka. Pedagang itu misalnya, ada yang mengeluhkan pungutan liar di Toss 3000 dan lainnya. Besoknya, foto-foto rangkaian kegiatan Ria juga muncul di koran.

Menurut Syaifuddin Fauzi, Sekretaris Tim Pemenangan Ria-Zainal, dari 64 kelurahan di Batam, sudah 95 persennya yang didatangi Ria Saptarika, baik yang di pusat kota maupun di pesisir. Kebetulan, Ria Saptarika menggunakan teknologi GPS (global position system) dan sudah menandai kawasan atau kelurahan mana saja yang sudah dia kunjungi. “Lokasi-lokasi kunjungan Pak Ria tersimpan rapi. Kawasan mana yang sudah dikunjungi, mana yang belum ketahuan dari situ,” tuturnya, Rabu (27/10).

Rata-rata, kata Syaifuddin, pertemuan Ria dan warga atas undangan warga. Terutama setelah mereka tahu Ria maju sebagai calon wali kota. Namun ada juga yang berasal dari tim pemenangan, terutama mengunjungi kawasan atau komunitas tertentu yang belum pernah bertatap muka langsung dengan Ria. “Kawasan yang sudah lama tak dikunjungi, kami datangi untuk mengingatkan mereka pada Pak Ria,” katanya.

Semua acara-acara Ria, sebagian ditangani protokol Pemko Batam, sebagian ditangani tim pemenangannya. Di setiap komunitas, topik yang dibahas berbeda. Dengan petani, misalnya, petani menanyai Ria soal konsep pertanian. Dengan pekerja, Ria ditanya soal isu-isu perburuhan.

Tim pemenangan juga mendesain konten iklan dan spanduk. Isu-isu di masyarakat mereka respon, dan dimasukkan dalam iklan maupun pernyataan-pernyataan Ria di media. “Tagline Pemimpin Muda Pemimpin Yang Bekerja misalnya, kita naikkan setelah kita mengevaluasi iklan sebelumnya,” ujar Syaifuddin.

Syamsul Bahrum tak kalah aktifnya. Dalam sehari, Syamsul bisa hadir di sepuluh hingga 15 pertemuan. Mulai acara pertemuan dengan warga, komunitas tertentu, menjadi pembicara, membuka acara, menghadiri tahlilan hingga pernikahan. “Prinsip Abang, menerima undangan itu sunat, menghadiri undangan itu wajib,” katanya.

Semua undangan yang masuk, kata Syamsul, dia datangi. Saking banyaknya, pernah dalam waktu bersamaan dia mendapatkan tiga undangan. “Dua abang datangi, satu lagi cuma nitip salam karena waktunya tak memungkinkan,” tukasnya. Yang membuat dia gembira, katanya, dia banyak diundang sebagai pribadi.

Syamsul menampik disebut hanya dikenal di kalangan elit dan terpelajar. Kesan itu muncul, kata Syamsul, karena selama ini dia tampil di media sebagai pembicara, menggunting pita di pembukaan bank, merespon berbagai isu dan menjadi ketua tim di Pemko Batam. Sementara acara dia saat bersama majelis taklim, diudang warga dalam acara pernikahan, tahlilan, istighasah dan acara pertemuan dengan masyarakat lainnya, tak diekspos media.

“Padahal Abang lebih banyak bertemu langsung warga. Ini terbukti dengan banyaknya undangan yang masuk ke Abang sebagai pribadi,” tukasnya.

Soal iklan dan intensitasnya tampil di koran, Syamsul juga tak kalah dengan Dahlan dan Ria. Sebelum menjadi calon wakil wali kota, Syamsul termasuk pejabat Pemko Batam yang hampir setiap hari muncul di koran, mengalahkan Dahlan dan Ria. Sebagian besar kegiatan wali kota diwakili dirinya. Kini, Syamsul lebih banyak tampil sebagai pribadi.

Selasa (26/10) lalu, usai salat di Masjid Agung Batam, Syamsul berpapasan dengan wartawan. Saat itu, dia mendatangi seorang ibu penjual es air kelapa muda. “Foto dulu Abang. Nanti munculin sama foto-foto kegiatan Abang yang lain,” tukasnya.

Jadilah siang itu Syamsul menghabiskan dua gelas kelapa muda bersama sejumlah wartawan. Sambil minum es, Syamsul bercerita soal kegemarannya minum es di kaki lima dan bergaul dengan para pedagang kecil. “Program Abang nanti, Abang akan menginap di pulau seminggu sekali. Abang akan buka periuk nasi mereka, dompet mereka. Kalau tak ada uangnya, Abang akan langsung kasih. Pemimpin harus dekat dengan rakyat,” tutur si Abang bertubuh subur, itu.

Syamsul merasa tak canggung meski harus menantang dua bosnya di Pemko Batam, Dahlan dan Ria. “Ini politik. Dalam politik, hanya ada kalah dan menang. Tapi kita harus tetap berpolitik dengan etika,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s