Calon Pemimpin Hasil Kawin Paksa

Pertemuan itu terjadi di rumah makan Mie Tarempa, di Seipanas, Kamis (16/9) pagi dua pekan lalu.  Sambil menyeduh teh tarik, Riky Indrakari, Ketua DPD PKS Batam, berhadap-hadapan dengan  Rahmansyah dan Yanuar Dahlan, dua pentolan Partai Golkar Batam. Ketiganya bertemu  membicarakan rencana koalisi PKS-Golkar.

”Saya sudah tak pakai bahasa politik lagi. DPP meminta kami (berkoalisi) dengan PKS. Pak Zaenal  (Abidin) sudah ditetapkan untuk calon nomor dua,” kata Rahmansyah pada Riky Indrakari.

Riky tak langsung mengiyakan tawaran Golkar. Menurut Riky, PKS tak mungkin langsung berkoalisi dengan Golkar karena calon wali kota dari PKS, Ria Saptarika, sedang mengikuti penjaringan di PDIP. “Tapi Golkar kami masukkan sebagai plan B,” kata Riky, Kamis (23/9) di Kantor KPU Batam.

Sehari sebelumnya, menurut Nyat Kadir, mantan wali kota Batam, utusan Golkar mendatangi rumahnya. Kepada Nyat, Rahmansyah memintanya jadi calon wali kota bergandeng dengan Zaenal.  Tawaran itu, menurut Nyat, awalnya dia tolak. Selain waktunya sudah mepet dengan tenggat waktu pendaftaran, Nyat juga sulit menarik lagi partai-partai yang pernah menyatakan dukungan padanya.

”Saya bilang kepada mereka agar memikirkan lagi tawaran itu. Soalnya waktunya sudah mepet. Golkar baru datang dua hari sebelum pengambilan formulir ditutup,” katanya, Rabu (22/9) sore.

Tanpa sepengetahuan Nyat, Rahmansyah dan Yanuar kembali menawari PKS, Sabtu (18/9) malam. Pertemuan di Hotel Harmoni One, Batam Center itu diikuti Aris Hardi Halim, Ketua Bappilu DPW PKS  Kepri. Menurut Riky, Yanuar meminta agar duet Ria-Zaenal segera dipatenkan. “Kawin paksa saja,”  kata Yanuar, ditirukan Riky.

PKS, kata Riky, kembali tak langsung mengiyakan tawaran kedua itu. ”Karena bagaimanapun dengan  PDIP belum putus. Tapi untuk berjaga-jaga, komunikasi dengan Golkar tetap kami buka,” tuturnya.Di tengah lobi-lobi PKS dan Golkar, nama Nyat dan Zaenal bergaung. Sejumlah pengurus DPD Golkar  yakin pasangan ini akan segera mendaftar ke KPU. Begitu juga PKS, tetap yakin Ria bakal didapuk  PDIP sebagai calon wali kota bergandengan dengan kader Partai Banteng Nuryanto.

***

Selasa (21/9) malam, menjadi saat yang genting bagi PKS. Syaifuddin Fauzi yang mendampingi Ria di  Jakarta, mendapat sinyal Ria terpental dalam penjaringan di DPP PDIP. PDIP lebih memilih Nada F  Soraya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam. Fauzi segera mengirim pesan singkat  elektronik (SMS) ke sejumlah pengurus DPD dan DPW PKS. ”Intinya saya minta semua bergerak kalau PKS masih ingin mencalonkan Ria,” kata Fauzi, Kamis (23/9).

Maka riuhlah Kantor DPW PKS Kepri. Semua pengurus DPD dan DPW PKS berkumpul di sana. Semuanya menghubungi partai dan calon yang bisa disandingkan dengan Ria. Ahmad Dahlan, Ketua DPD Partai Demokrat sempat dikontak, namun tak mengangkat telepon. Rapat digelar hingga pukul  setengah empat pagi. ”Saya telepon Pak Yanuar. Saya bilang kita kawin paksa saja, seperti yang  pernah diungkapkan Pak Yanuar,” kata Riky. Namun, giliran Yanuar yang tak memberi kepastian.

Di malam yang sama, Nyat Kadir mengirim SMS ke ponsel Ria. Nyat menanyakan, apakah Ria sudah  aman, resmi diusung PDIP. Ria membalas SMS itu, menyatakan dia kemungkinan besar tak bisa  berkoalisi dengan PDIP. Menurut sumber Batam Pos, Nyat menawarkan dua opsi kepada Ria Saptarika.  Pertama, maju dengan opsi Nyat sebagai calon wali kota dan Ria wakilnya. Atau Ria calon wali kota dan  Zaenal wakilnya. Dua opsi itu, sama-sama mengawinkan PKS dan Golkar.

Rabu paginya, rapat kembali digelar di kantor DPW PKS Kepri. Ria dan Fauzi yang pulang dari Jakarta,  bergabung dalam rapat itu. Saat itu, menurut Riky, Istono dan PAN menjadi alternatif ketiga jika tak  bisa berkoalisi dengan Golkar.

Tapi Ria kurung sreg. Ria menelpon Ansar Ahmad, Ketua DPD Partai Golkar Kepri. Ansar mengutus  Zaenal Abidin dan Asmin Patros menemui PKS. Pukul satu siang, Ria dan Riky bertemu Ansar dan  Zaenal di RM Pak Datuk di Batam Center. Sementara Asmin ditinggalkan di Kantor DPW PKS Kepri.  Pertemuan itu menghasilkan koalisi PKS-Golkar. Urusan dengan Nyat, akan diselesaikan lewat lobi  Ansar Ahmad.

***

Di restoran Hotel Harmoni One, pertemuan segitiga itu berlangsung. Nyat Kadir, Zaenal Abidin dan  Ansar Ahmad duduk satu meja. Menurut sumber Batam Pos, Nyat menawarkan dua opsi pasangan ke  Ansar. Yakni Nyat-Ria atau Ria-Zaenal. Dua-duanya dibalut koalisi PKS-Golkar.

”Golkar lebih sreg kalau Nyat Kadir mundur. Akan banyak kader Golkar yang tak setuju jika Zaenal tak  maju,” kata sumber itu.

Menurut sumber itu, sempat terjadi ketegangan sebelum Nyat mundur. Namun cerita ini susah dikonfirmasi. Baik Nyat maupun orang-orang Golkar, tak mau cerita banyak. Asmin Patros, misalnya, ditanya soal pertemuan segitiga itu, mengaku tak tahu pasti. “Itu keputusan elite partai. Saya tak ikut  duduk satu meja,” katanya, Kamis (23/9) malam.

Yang pasti, kata Asmin, Golkar sangat menghormati Nyat. “Pak Nyat itu seorang negarawan, rela  mundur memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk tampil,” tuturnya.

Begitu juga dengan Zainal. Dia ikut memuji Nyat Kadir. “Seperti yang sudah diberitakan, Pak Nyat itu  mundur dengan ikhlas,” tuturnya.

Nyat yang coba diwawancarai lagi, Kamis (23/9) mengaku sedang berada di Malaysia. “Mohon maaf,  saya sedang di Johor Bahru,” tulisnya dalam SMS.

Di tengah pembicaraan segitiga itu, Riky dan Fauzi datang. Ansar bertemu Riky di lantai lima hotel,  Fauzi bergabung dengan Asmin dan Rahmansyah menertibkan dokumen pendaftaran ke KPU. “Di situ  saya diberi tahu Golkar resmi bergabung dengan PKS dan Pak Nyat rela mundur,” kata Riky.

Ria datang sepuluh menit kemudian. Di pintu masuk, dia berpapasan dengan Nyat Kadir. Nyat  menyalaminya, sambil berkata, “Saya sudah ikhlaskan adinda Ria yang maju.” Nyat dan Ria tak sempat  bicara. Nyat langsung berlalu pergi.

Beberapa menit kemudian, Nyat menelepon Batam Pos. “Saya menyatakan mundur dari pencalonan.  Saya mohon maaf kepada masyarakat yang menginginkan saya maju. Ini pilihan terbaik, daripada  banyak pro dan kontra,” katanya.

Pertemuan Ria dan Zaenal juga tak berlangsung lama. Begitu adzan magrib berkumandang,  rombongan PKS meninggalkan Harmoni One.

***

Peci hitam bersulam benang warna emas menambah gagah penampilan Amir Hakim Siregar, Ketua  DPD Hanura Kepri. Peci itu dikenakannya saat mendaftar sebagai calon wali kota Batam bersama  wakilnya, Syamsul Bahrum, ke kantor KPU, Kamis (23/9) sore.

“Peci ini, punya arti tersendiri bagi saya.  Saya mengenakannya saat menikah di Masjidil Haram tahun 1995,” katanya.

Sama-sama mengenakan baju warna putih, sama-sama berkacamata dan bertubuh tinggi besar, Amir  dan Syamsul tampak serasi. Bahkan peci hitam Amir, juga diikuti Syamsul. “Saya ngikut apa yang  dipakai calon wali kotanya,” tukasnya tersenyum.

Amir dan Syamsul menggunakan akronim Harum, Hakim, dan Bahrum. Mereka diusung Partai Hanura,  PPRN, PKNU, PPIB, dan PNI Marhaenisme. PPIB dan PNI baru mendukung di menit-menit terakhir setelah calon dua partai itu, Istono gagal maju sebagai calon wali kota.

Amir mengaku intens berkomunikasi dengan Syamsul sejak sukses mengantarkan pasangan HM Sani  dan Soerya Respationo sebagai gubernur dan wakil gubernur Kepri. Rumah Pemenangan 2 HMS yang  pernah digunakan Sani dan Soerya, akan mereka gunakan sebagai sekretariat tim. “Semoga setelah  memenangkan 2 HMS, kini bisa memenangkan dua dokter dan doktor,” tukas Amir.

***

Tak kuasa menahan air matanya, Arifin Nasir menangis tersedu. Mengangkat tangan, dia berdoa, “Ya  Allah, kalau saya diberi kesempatan, berikan saya kemudahan,” katanya.

Arifin menangis saat dilepas ratusan orang dari rumahnya di Perumahan Kartini, Sekupang, menuju Kantor KPU Batam. Dia mengaku terharu mengenang momen lima tahun lalu, saat dia gagal menjadi  calon wali kota. “Saya tak kuasa menahan diri. Saya benar-benar terharu,” tuturnya.

Arifin memuji wakilnya, Irwansyah sebagai pribadi yang santun. “Selain berpengalaman dan banyak  turun ke lapangan, saya memilih Pak Irwansyah karena beliau juga didukung Ikatan Keluarga Sumatera  Barat,” katanya.

Majunya pasangan Arifin dan Irwansyah cukup mengejutkan. Meski sudah berkomunikasi sejak lima bulan lalu, Irwansyah dan Arifin sempat berpisah. Arifin mendaftar ke Hanura, Irwansyah kemudian  mengajukan diri berkoalisi dengan Asnah, bakal calon wali kota dari PAN. Bahkan, Ketua DPW PPP Kepri Ahars Sulaiman sudah bersiap mengarahkan dukungan ke Ketua DPD Partai Demokrat Ahmad  Dahlan.

“Hari Minggu (19/9) keputusan rapat kami adalah memajukan kader sendiri atau mendukung incumbent,” kata Ahars, Kamis (23/9).

Keputusan mendukung Arifin, kata Ahars, baru resmi Rabu (22/9) malam. “Saya diberitahu lewat  telepon. Kalau memang kader mau maju, PPP solid mendukung,” tukasnya.

Maka, keesokan harinya, Arifin dan Irwansyah resmi mendaftar ke KPU. Sama-sama berdasi,  mengenakan kemeja panjang warna putih, mereka menjadi pasangan pertama yang mendaftar ke KPU Batam. Pasangan ini menggunakan akronim AIR, Arifin-Irwansyah. Dan entah ada hubungannya, hujan deras turun saat mereka mendaftar ke KPU.

***

Menggunakan akronim Nafas Nur, pasangan Nada Faza Soraya dan Nuryanto, didukung PDIP dan  Partai Gerindra. Nada, Ketua Kadin Batam mengalahkan Ria Saptarika dalam penjaringan calon wali  kota dari partai banteng bermoncong putih itu.

Nada mengaku awalnya tak berniat maju sebagai calon wali kota. Dia disorong-sorong oleh rekannya,  sesama pengusaha. Saat pengambilan formulir pendaftaran di PDIP, misalnya, Nada diwakili rekan- rekannya. “Saya mengikuti penjaringan di DPD PDIP dan akhirnya lolos di DPP PDIP,” katanya, Kamis  (23/9).

Nada punya romantisme dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri. Saat Megawati jadi  presiden, Nada pernah mengirim surat soal permasalahan kelautan Indonesia. Dan dalam dua hari,  surat Nada dibalas Megawati. Tapi dia menampik jika disebut kedekatan itu membuat dia dipilih.

Sebagai pengusaha, Nada ingin menjadikan Batam tempat yang aman dan kondusif buat iklim  investasi. “Dan wakil saya harus bisa menjadi duta ke dunia luar, bahwa Batam adalah tempat yang  indah,” katanya.

Nuryanto mengaku menjadi pendamping Nada karena takdir Allah. Selama ini, Jamsir, Ketua DPC PDIP  yang banyak berkomunikasi dengan Nada, sementara dia lebih intens dengan Ria Saptarika. “Namun  sebagai kader partai, saya selalu siap menjalankan perintah,” katanya.

***

Tak ada yang mengejutkan ketika Ketua DPC Partai Demokrat Ahmad Dahlan menggandeng Ketua  DPC PKB  Rudi mendaftar ke KPU Batam. Diiringi ratusan orang, membawa spanduk bertuliskan Team SAR (Sahabat Ahmad Dahlan-Rudi) Dahlan dan Rudi melenggang ke kantor KPU Batam dua jam  menjelang penutupan pendaftaran. Dahlan mengenakan baju koko warna biru, Rudi tampil dengan  hem pendek dan celana panjang krem.

Pasangan Dahlan-Rudi termasuk yang tak kompak dalam berpakaian. Jika Arifin-Irwansyah sama-sama  mengenakan kemeja panjang dan berdasi, Amir Hakim-Syamsul Bahrum mengenakan kemeja putih dan berpeci khas bugis, Nada Soraya-Nuryanto mengenakan baju merah dan hitam khas PDIP, Ria Saptarika-Zaenal Abidin sama-sama mengenakan baju koko warna putih, Dahlan dan Rudi tampil  sendiri-sendiri.

Tak seperti pasangan lain yang saling memuji, Dahlan dan Rudi tak menampakkan itu. Bahkan ketika wartawan hendak mengambil gambar keduanya, pegangan tangan mereka tak seerat pasangan lainnya.Menurut Dahlan, Rudi dipilih sebagai pasangannya berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia. Survei itu menempatkan Dahlan di urutan teratas, disusul kemudian Ria Saptarika, Nyat Kadir, Asnah  dan Rudi. “Namun DPP memilih Pak Rudi,” katanya.

Pasangan Dahlan dan Rudi, selain didukung Demokrat dan PKB juga diusung PAN. Menurut Sekretaris  DPD PAN Batam Yudi Kurnain, keputusan PAN mendukung Rudi baru turun Kamis (23/9) pukul enam sore. “DPP yang memutuskan,” kata Yudi.

Sebelumnya, tim PKB dan Demokrat sampai harus rapat hingga menjelang dini hari untuk  mempatenkan koalisi. “Capek. Saya sampai tidur cuma tiga jam sehari,” kata ketua Fraksi PKB DPRD Batam, Jefri Simanjuntak.

Yang alot, kata Jefri, saat membahas pembagian tugas antara wali kota dan wakil wali kota. “Itu harus jelas,” katanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s