Gaji Hanya Cukup untuk 20 Hari

Muhammad Hafifi, 20, memperlihatkan isi dompetnya pada Erik Sihombing, 25, temannya. Sebuah dompet Quicker berwarna kecokelatan, buatan Bandung, yang banyak dipakai remaja Batam. Di dalamnya terlihat dua lembar uang Rp5 ribu yang lusuh. Satu lembar lagi uang Rp50 ribu diambilnya di balik lipatan dompetnya.

”Tinggal Rp60 ribu. Ini harus cukup untuk sepuluh hari,” katanya di Mukakuning, Senin (18/10).Sore itu Hafifi baru pulang kerja. Dia tak pulang ke rumahnya di kawasan Batam Centre, namun mengunjungi temannya di Mukakuning. Dia memperlihatkan dompetnya karena Erik meminta dibelikan rokok. Tak banyak yang mereka perbincangkan. Hafifi langsung merebahkan badan.

Sejak empat bulan lalu, dia bekerja sebagai operator di pabrik pengolahan plastik di kawasan Batam Centre. Setiap hari dia bekerja delapan jam, mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB. Dia dikontrak setahun, digaji sesuai Upah Minimum Kota (UMK) Batam 2010, Rp1.110.000 per bulan.

Dua bulan pertama, katanya, dia pernah mencicipi kerja lembur di akhir pekan. Gajinya Rp1.300.000. “Tapi sekarang tak ada lagi OT (over time/lembur). Setiap bulan dapatnya ya Rp1.110.000 itu,” tukasnya.

Gajinya dia gunakan untuk transportasi, makan, rokok, isi pulsa dan lainnya. Untuk tempat tinggal, dia tinggal bersama pamannya di Perumahan Botania. Tanggal 18 seperti Senin itu, menjadi tanggal-tanggal rawan buat Hafifi. Gaji Rp1.110.000 yang biasa ia terima tanggal 31 atau tanggal 1 bulan berikutnya, habis di minggu ketiga. “Kalau duit habis, pinjam sama paman,” tuturnya.

Hafifi tak tahu apa itu UMK. Dia hanya tahu setelah bekerja, akan dapat gaji Rp1.110.000. Gaji sebesar itu tak cukup untuk biaya hidupnya di Batam selama satu bulan. Padahal, Hafifi bukan remaja yang sering keluyuran ke mal atau nonton bioskop. “Paling ke mal satu bulan sekali beli kaos,” ucapnya.

UMK tak hanya dikenakan pada operator di industri-industri yang bertebaran di Batam. Penjaga kantor, sekuriti juga kadang digaji sesuai UMK. Ahmad Sirotol, 21, penjaga kantor sebuah instansi pemerintah di kawasan Batuampar, misalnya. Setiap bulan dia juga digaji sesuai UMK. Gajinya sebagai penjaga kantor antara lain digunakannya untuk membayar kredit sepeda motor Rp635 per bulan, sisanya untuk bensin dan lainnya. “Untung saya tak perlu beli makanan. Ada yang menanggung makan-minum saya,” katanya.

Untuk menambah penghasilan, sepulang menjaga kantor, Ahmad kadang menjadi tukang ojek. Dia mendapatkan tambahan uang sekitar Rp200 ribu per bulan. “Nongkrongnya di depan Kantor Pajak Batuampar,” katanya.

Sebagai lajang, Ahmad tak dipusingkan dengan kebutuhan rumah tangga dan biaya anak sekolah. Meski begitu, keinginannya untuk jalan-jalan ke mal dan tempat wisata lainnya di Batam juga harus ditahan karena penghasilannya tak mencukupi. ”Kadang sebulan sekali juga ke mal atau nonton film. Tak bisa sering-sering,” tuturnya.

Yeni Maria, 40, juga merasakan beratnya hidup. Setiap hari dia bekerja di sebuah perusahaan elektronik di kawasan Tunas Industri, Batam Centre. Gajinya sesuai upah minimum kota (UMK) Batam Rp1.110.000 per bulan. ”Kalau lembur terus, ada tambahan Rp500 ribu per bulan,” katanya.

Dengan dua anak yang kini bersekolah di pesantren, Yeni dan suaminya sama-sama bekerja. Sebulan penghasilan mereka sekitar Rp3 juta. Jumlah itu mereka gunakan untuk membayar kredit sepeda motor, bayar listrik dan air, kebutuhan rumah tangga dan sekolah anaknya.

Untungnya Yeni tak perlu memikirkan biaya sewa rumah. Dia kini menempati rumah semi permanen di lahan 6 kali 10 meter pemberian Otorita Batam di Kavling Senjulung. “Tapi niat saya mau beli pasir untuk menambal rumah tak kunjung bisa. Tak ada duit,” tukasnya.

Yang agak beruntung Siti Rohana, 21. Gadis yang menjadi operator pabrik elektronik di kawasan Tunas Industri, Batam Centre, itu mendapat gaji Rp1.700.000 per bulan. Itu dia dapat setelah bekerja 12 jam, mulai pukul 08.00 – 20.00 WIB. “Dulu pernah dapat OT di hari Sabtu-Minggu, bisa dapat gaji Rp2 juta lebih. Sekarang biasa lagi,” tuturnya, Senin (18/10).

Siti Rohana tinggal bersama adiknya, menyewa kamar kos di Bida Asri Rp400 ribu per bulan. Gajinya dia gunakan untuk membeli pulsa, baju, makan, dan dikirim ke kampungnya di Jawa Timur. Karena bekerja 12 jam, pergaulannya terbatas. Dari pabrik langsung pulang, mandi dan tidur. Di kamarnya tak ada televisi. Satu-satunya penghibur hanyalah mendengarkan musik dari ponselnya. Hanya di hari Sabtu dan Minggu, dia punya waktu luang.

“Itupun tak kemana-mana. Tak punya duit,” tukasnya.

***

UMK Batam memang lebih kecil dibandingkan biaya Kebutuhan Hidup Layak (KHL)-nya. KHL, menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak baik secara fisik, non fisik dan sosial, untuk kebutuhan satu bulan. KHL ini menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penetapan upah minimum (UMK).

Nilai KHL diperoleh melalui survei harga yang dilakukan Dewan Pengupahan yang beranggotakan unsur pemerintah, serikat pekerja dan pengusaha. Ada tujuh komponen, yakni makanan-minuman, sandang, perumahan, transportasi, pendidikan, kesehatan, serta rekreasi dan tabungan yang masuk dalam KHL itu. Semuanya dibagi dalam 46 item. Harga 46 item itulah yang disurvei. Misalnya di kelompok makanan dan minuman ada beras, daging, ikan, telur dan lainnya. Di kelompok sandang ada kaos, atau ada harga sewa kamar di kelompok perumahan.

Selama bertahun-tahun serikat pekerja berjuang agar UMK sama dengan KHL. Namun mental di meja perundingan. Tahun ini, menurut Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (F-SPMI) Batam Nurhamli, serikat pekerja sepakat tak ada main tawar lagi. ”UMK Batam 2011 harus sama dengan KHL,” katanya, Senin (18/10).

Harga mati itu, kata Nurhamli, bukan tanpa alasan. Selama empat tahun perundingan, sejak terbitnya Permenaker Nomor 17 Tahun 2005, UMK Batam tak pernah sama dengan KHL. Padahal di Permenaker itu, katanya, UMK secara bertahap harus sama dengan KHL. ”Sekarang sudah lima tahun, sudah waktunya UMK 100 persen KHL,” tukasnya.

Menurut Nurhamli, KHL itu sangat mendasar. Sesuatu yang harus dipenuhi agar seorang lajang bisa hidup dengan layak. Dengan sistem kerja seperti di Batam, banyak pekerja yang dikontrak per enam tiga bulan, enam bulan atau satu tahun, kata Nurhamli, UMK sama dengan KHL menjadi sangat penting.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Batam, Syaiful Badri Sofyan, juga satu kata. ”Meski menurut saya sudah agak terlambat, tapi kami dengan serikat lainnya sepakat UMK Batam tahun 2011 harus sama dengan KHL,” kata Syaiful, Selasa (19/10).

UMK yang diterima para pekerja di bawah satu tahun saat ini, kata Syaiful, tak lagi cukup karena biaya hidup di Batam tinggi. ”UMK hanya cukup untuk hidup 20 hari,” tukasnya.

Agar UMK sama dengan KHL, katanya, UMK Batam tak harus naik. Tapi KHL yang harus ditekan. Caranya, pemerintah harus mengontrol harga-harga seperti sembako, perumahan, dan lainnya. Di sisi lain, pemerintah harus memberikan insentif kepada pengusaha. ”Pemerintah harus mampu mengontrol KHL dan memberikan pengusaha insentif agar pengusaha tak keberatan UMK sama dengan KHL,” ujarnya.

Namun bermufakat agar UMK sama dengan KHL tak pernah tercapai. Jangankan sepakat UMK sama dengan KHL, menetapkan berapa angka KHL yang pas saja sering tak sama. Serikat pekerja dan pengusaha punya angka KHL sendiri-sendiri. F-SPMI misalnya, mereka menemukan KHL Batam bulan September sebesar Rp1,36 juta-an. Itu sudah turun dari survei bulan Juli-Agustus yang besarnya Rp1.380.440. KFSPSI merujuk survei Dewan Pengupahan menemukan angka di kisaran Rp1,288.906.”Apindo akan melakukan survei sendiri nanti, agar jelas berapa nilai KHL yang pas,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Cahya, Selasa (19/10).

Sikap itu diambil Apindo, kata Cahya, karena antar serikat pekerja saja, survei KHL-nya berbeda. Apalagi jika survei dilakukan dalam kondisi harga-harga barang fluktuatif, kadang naik kadang turun. Tentu hasil surveinya akan berbeda jika dilakukan dalam kondisi normal. ”Survei yang lalu, nilai KHL menurut Apindo sekitar di atas Rp1.110.000. Tapi di bawah angka Rp1,2 juta,” katanya.

Menurut Cahya, Apindo menyadari pekerja membutuhkan upah yang layak untuk mengimbangi biaya hidup di Batam. ”Kita tak mungkin membiarkan karyawan kelaparan. Kalau orang lapar, gimana mau kerja,” tukasnya.

Namun menaikkan UMK, kata Cahya, bukan cara yang adil. Pemerintah, katanya, harus mengontrol harga-harga kebutuhan agar biaya KHL bisa ditekan. Jika KHL bisa ditekan, UMK tak perlu naik setiap tahun. “Saya sangat yakin KHL bisa ditekan. Kita ini kawasan FTZ (kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas), kenapa kok harga-harga lebih mahal,” ujarnya.

Tingginya harga-harga di Batam, menurut Cahya, karena masih berbelitnya birokrasi, ada monopoli sembako yang dibiarkan pemerintah, dan tak bekerjanya kontrol pemerintah. Cahya mencontohkan harga gula impor di Singapura yang bisa dijual Rp8 ribu per kilogram, sementara di Batam dijual Rp10 ribu per kilogram. “Ini tugasnya pemerintah. Kalau Batam bukan kawasan FTZ, saya tak berani ngomong begini. Tapi kita ini kawasan FTZ, kok bisa harga di sana murah tapi di Batam mahal,” ujarnya.

Pengusaha kata Cahya, tak perlu insentif. Yang diperlukan untuk menekan KHL, katanya, cukup pemerintah bekerja menyediakan rumah susun murah dan bus gratis buat para pekerja, dan mengontrol harga. “Bila perlu mari bikin koperasi pekerja. Apindo siap membantu,” tuturnya.

Batam, kata Cahya, kini bersaing dengan kawasan industri negeri tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Jika upah naik setiap tahun, dia khawatir Batam tak lagi kompetitif. Padahal salah satu nilai lebih Batam dibandingkan negara lain adalah tenaga kerja yang lebih murah.

”Kepada serikat pekerja saya selalu minta pengertian mereka. Bahkan saya pernah bilang ke mereka, untuk sama-sama mengontrol harga. Karena mereka punya power,” tukasnya.

***

Biaya hidup di Batam memang cukup tinggi dibandingkan dengan kota lain. Survei lembaga survei terkemuka Mercer Indonesia, di 25 kota terkemuka di Indonesia, dua tahun lalu, Batam berada di urutan ke sembilan sebagai kota termahal di Indonesia. Batam mengalahkan Medan, Padang, Manado, Makassar, Yogyakarta dan kota besar lain seperti Surabaya sebagai kota termahal.

Survei itu mencerminkan, secara umum warga Batam mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk kebutuhan hidup sehari-hari dibandingkan warga dari 16 kota-kota besar lain di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Harga-harga di pasar setidaknya mencerminkan itu. Harga sayur dan bumbu dapur misanya, rata-rata naik Rp1 – Rp 2 ribu per kilogram. Seperti harga cabe rawit dari Rp21 ribu menjadi Rp22 ribu, harga bawang putih Rp25 jadi Rp26 ribu. Namun ada juga yang turun seribu rupiah seperti harga cabe merah, kentang dan tomat.

“Tapi tetap tak menentu. Minggu ini naik, besok turun, besoknya lagi bisa naik lagi,” kata Jordan Situmorang, 37, pedagang di pasar Mega Legenda, Batam Centre.

Harga beras naiknya gila-gilaan. Dalam satu hari, Ramlan, 23, pedagang di toko Aras di pasar Mega Legenda, harga beras bisa naik dua kali. Dia mencontohkan beras cap Ayam Bola 25 kg. Dari sebelumnya Rp250 ribu per sak, naik jadi Rp260 ribu per sak hanya dalam waktu satu hari. Bulan lalu, beras Ayam Bola harganya hanya Rp225 ribu per sak. Beras cap Rambutan naik dari Rp175 menjadi Rp178 ribu per sak. Bulan lalu harganya di kisaran Rp171 ribu per sak.

“Kadang harga jual kita hari ini, lebih murah dibandingkan harga beli kita besoknya,” katanya.

Harga minyak goreng curah naik dari Rp220 ribu menjadi Rp230 ribu per dirigen. Gula naik dari Rp10 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram. Harga ayam potong turun seribu rupiah per kilogram, namun harga ayam beku naik. “Ayam beku naik dari Rp26 ribu jadi Rp27 ribu,” kata Andi Mallarangeng, pedagang ayam di Mega Legenda.

Kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah pasar tradisional di Batam. Seperti di Tiban, Penuin Baloi maupun di pasar Mitra Raya Batam Kota. Ini membuat Batam terus mengalami inflasi sepanjang tahun, kadang naik kadang turun. Misalnya di bulan Januari 2010, Batam mengalami inflasi 1,26 persen. Di September bulan lalu, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi turun jadi 0,03 persen.

Mengapa pemerintah tak mampu mengontrol nilai KHL? Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Batam, Ahmad Hijazi, punya jawaban berliku. Menurut Hijazi, kita ini hidup di sistem perekonomian yang membatasi peran pemerintah dalam mengintervensi pasar. “Regulasi membatasi kita mengintervensi pasar selain pola subsidi,” katanya, Rabu (20/10).

Pemerintah, kata Hijazi, saat ini hanya mampu memberikan subsidi untuk beras miskin. “Sementara kemampuan APBD kita juga tak mungkin menyubsidi. Untuk beras saja misalnya, Batam membutuhkan 12 ribu ton beras. Jika per ton kita subsidi Rp2 ribu saja, kita membutuhkan Rp24 miliar. Dari mana duitnya,” tukasnya.

Di sektor pengawasan, kata Hijazi, dia sudah bekerja. “Kami tak menemukan ada permainan harga mulai dari tingkat distributor, agen sampai ke pengecer,” katanya.

Tingginya biaya hidup di Batam, kata Hijazi, tak lepas dari kondisi Batam sebagai kota konsumen. Hampir seluruh kebutuhan bahan makanan, sandang, makanan jadi, rokok dan tembakau didatangkan dari luar Batam. Begitu juga dengan harga air dan listrik juga lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia.

”Kalau harga di daerah pemasok tinggi, tentu harga jualnya juga tinggi. Yang kita jaga adalah bagaimana suplai itu lancar, dan aman. Bahkan saya juga memonitor harga-harga di daerah asal,” ucapnya.Lagi pula, kata Hijazi, KHL tak hanya berdasarkan harga-harga makanan dan minuman. “Ada komponen lain yang lebih besar, seperti perumahan, transportasi dan entertainment,” tukasnya.

Menurut Hijazi, ada dua pola jika ingin UMK sama dengan KHL. Pertama UMK naik mengikuti KHL, yang kedua upah stabil, tapi KHL juga terkendali. “Tapi dengan sistem seperti sekarang, jangan bermimpi KHL bisa terkendali. Diperlukan perubahan menyeluruh agar KHL bisa terkontrol, dan itu tak bisa dilakukan seorang Kadisperindag,” katanya.***

3 responses to “Gaji Hanya Cukup untuk 20 Hari

  1. waduh setelah membaca artikel diatas, jadi keinget pengalaman kerja saya, baru 3 minggu gajian besoknya udah kas bon lagi,

  2. Berbeda dengan pabrik pengolahan kelapa sawit. Operatornya masih ada “kelebihan”. Jd mereka bs nabung. Tp ya itu… Tenaga kerja tdk terlalu banyak. 90 org, 2 shift sdh termasuk manager & staff.

  3. Benar sekali, karena itu, selain pendapatan gaji, kita harus membangun sumber pendapatan lainnya. Zaman sekarang, banyak kesempatan terbuka lebar kepada siapa saja untuk membangun bisnis dengan resiko kecil dan ganjaran besar, misalnya usaha kami ini:
    http://www.jibo-store.com/id/cara-jitu-jadi-kaya

    Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami di
    https://www.facebook.com/Jibo.Store

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s