Mendayung Sampan Menuju Masa Depan

anak-anak hinterland pulang sekolah, jepretan cpi cikandina

Anak-anak pesisir atau hinterland berangkat sekolah menempuh perjalanan laut dan darat. Mereka ingin pintar, namun kondisi sekolah beda jauh dengan sekolah-sekolah di kawasan kota.

 

Subuh baru menjelang. Ammar, 13, masih tidur meringkuk berselimut sarung saat tubuhnya terguncang. Ernawati, 17, kakaknya, membangunkannya. Ammar melirik sebentar, lalu menutup matanya lagi. Rasa kantuk masih menyergapnya.

“Bangun-bangun. Mau sekolah gak,” kata Erna. Erna kembali menguncang-guncang tubuh Ammar. Mendengar kata sekolah, mata Ammar terbuka. Mulutnya menguap. Lalu dengan langkah malas dia beranjak menuju bagian belakang rumahnya.

Suasana Tanjung Colem, Galang, Senin (1/11) subuh itu masih sepi. Hari belum terang tanah. Belum banyak penduduk yang beraktivitas. Listrik sudah lama padam, sejak tengah malam. Pagi itu, hanya lampu-lampu minyak yang menerangi rumah mereka. Termasuk rumah Jamaluddin, 40-an, yang tiga anaknya, bergantian mandi hendak berangkat sekolah.

Ernawati, 18, anak tertua Jamaluddin, duduk di kelas 3 di SMAN 10 Batam di Seijantung, Galang. Imran, 15, kelas dua di SMPN 22 di Tanjungkertang, Galang. Ammar yang dibangunkan terakhir kelas 6 di SDN 24, juga di Tanjungkertang.

Selesai mandi, ketiganya bergeges mengenakan baju. Di meja belakang, sepoci teh tersaji di meja. Hanya teh, tak ada nasi, atau gorengan sebagai teman minum. Ammar meneguk teh hangat itu sekaligus. Hangatnya terasa sampai ke perut. Di luar rumah, Imran meneriakinya. “Cepat nanti terlambat.”

Rumah Jamaluddin tak jauh dari pelantar. Sebuah sampan kecil berdayung ganda diikat di tiang kayu. Imran naik duluan, disusul Erna dan Ammar. Tujuan perjalanan tiga anak itu adalah Tanjung Kertang, di sekitar jembatan IV Barelang. Di sanalah lokasi SDN 24 Galang dan SMPN 22 Batam berada.

Ombak berdebur pelan. Imran mendayung perlahan. Arah arus rupanya tak memihak mereka. Perjalanan menuju jembatan IV melawan arus. Padahal tujuan mereka cukup jauh. Hampir satu jam mendayung, ketiganya tak kunjung sampai. Imran kelelahan. Dayung diambil alih Ammar. Siswa kelas 6 SD itu menggerakkan dua tangannya maju mundur, mendorong sampan terus melaju ke Tanjung Kertang. Ammar keringatan. Tapi tangannya terus bergerak, terampil mengendalikan sampan buatan ayahnya.

Dulu sebelum mereka memiliki sampan, mereka pergi ke sekolah melewati jalan darat. Perjalanannya cukup jauh, sekitar delapan kilometer. Jalannya berliku, naik turun bukit, melewati perkebunan buah naga. “Sampai sekolah, baju basah semua,” kata Ammar. Agar tak terlalu capek, Jamaluddin kemudian membuatkan anak-anaknya sampan. Sampan itulah yang kini tiap hari menjadi alat transportasi utama Ammar, Imran dan Erna.

Pukul tujuh pagi, sampan itu menepi di pelantar. Di belakang rumah warga, di samping sejumlah restoran sea food di jembatan IV Barelang itu. Restoran sea food di sana cukup terkenal, menjadi langganan para pejabat Batam. Usai menautkan tali sampan, ketiganya melompat ke pelantar. Naik ke atas menuju jalan raya.

Ammar dan Imran menuju sekolahnya masing-masing berjalan kaki. Tapi Erna masih harus menunggu Bus Sekolah Kota Batam. Bus warna orange, yang mengangkut anak-anak sekolah hingga ke SMAN 10 di Sijantung, tak jauh dari tempat wisata Camp Vietnam. Setiap hari, usai naik sampan, Erna bergelantungan di bus sekolah yang penuh sesak.

Pukul delapan pagi, proses belajar-mengajar di SDN 24 Galang, tempat Ammar sekolah, baru dimulai. Menurut Muhtar, Kepala Sekolah SDN 24 Galang, jam belajar sengaja dimundurkan untuk menyesuaikan dengan kedatangan murid-muridnya. Rata-rata, mereka yang sekolah di SDN 24 anak-anak pulau dan mereka yang tinggal di pesisir atau biasa disebut hinterland. Ada juga yang tinggal di perkebunan-perkebunan sepanjang pulau Galang dan Rempang.

Siswa SDN 24 Galang berjumlah 177 siswa. Ruang belajarnya enam lokal, dengan tujuh rombongan belajar. Dari 177 siswa itu, 22 anak di antaranya tinggal di pulau-pulau sekitar Galang, seperti di pulau Sencalung, Tanjung Colem, dan Teluk Air. Mereka berangkat ke sekolah dengan naik sampan, dan pompong atau sampan bermesin tempel.

“Anak-anak hinterland itu mendapatkan bantuan transportasi Rp3 ribu per hari atau Rp78 ribu per bulan dari pemerintah,” kata Muhtar.

Namun bukan anak-anak hinterland itu yang membuat proses belajar-mengajar di sekolah itu dimundurkan. Tapi anak-anak dari pesisir dan perkebunan yang tinggal berkilo meter-kilo meter dari jalan raya. Seperti yang tinggal di pantai Melayu atau perkampungan Tenda Biru. Sebelum naik bus sekolah gratis, mereka harus berjalan kaki hingga lima kilometer.

Seperti Sumiyati, 11, siswa kelas IV SDN 24, misalnya. Dia dan kakaknya, Sukayati, 12, tinggal bersama orang tua mereka di pantai Melayu. Setiap hari mereka berangkat sekolah pukul enam pagi, berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju simpang jalan raya di kawasan jembatan V Barelang. Sambil menahan lelah dan panas, kakak-adik itu menunggu bus sekolah. Bus sekolah yang selalu sesak. Tak pernah ada kursi kosong buat anak-anak yang menunggu di pinggir jalan. Sumiyati dan Sukayati, selalu berdiri, berhimpitan dengan anak-anak lainnya.

Pukul delapan pagi, Sumiyati baru sampai di sekolah. Peluhnya mengucur. Baju seragamnya lusuh. “Capek, tapi saya ingin pintar. Makanya sekolah terus,” tutur Sumiyati, Senin (1/11).

Perjuangan Nursairah, 12, lebih berat lagi. Dari kampung Tenda Biru, sejak pukul setengah enam pagi dia sudah berangkat. Berjalan kaki menyusuri jalan setapak, berbukit-bukit, menuju simpang jalan raya. Sambil menahan nafasnya yang tersengal-sengal dia menunggu bus yang selalu terlambat menjemput. Sampai di sekolah, jam belajar sudah dimulai.

Pulang sekolah, Nursairah kembali harus berjalan kaki. Di bawah sengat terik matahari, peluhnya mengucur. Kakinya penat. Lapar karena di sekolah perutnya hanya diisi nasi bungkus ikan teri seharga seribu rupiah. Tapi semua itu dia tahan, karena cita-citanya. “Saya ingin jadi guru,” tukasnya.

Malam harinya, Nursairah belajar dengan lampu minyak. Tak seperti perkampungan di kawasan pesisir, di kampung Tenda Biru tak ada genset. Satu-satunya penerangan hanya lampu minyak. Nursairah tak setiap malam belajar. Keterbatasan penerangan, jadi alasannya. “Belajar itu kalau ingin baca buku atau kalau ada PR dari sekolah,” katanya.

Mayang Sari,11, beda lagi. Siswa kelas V SD itu, bersama Suzana, kakaknya, setiap hari naik sampan dari Tanjung Colem. Suzana, meski hanya seorang gadis, terampil mendayung sampan. Berdua, saban hari mereka membelah laut. Suzana sekolah di SMAN 10 di Sijantung, Galang. Usai mengantar adiknya, Suzana menunggu bus sekolah yang akan mengantarnya menuju Sijantung.

Di sekolah, Mayang Sari makan siang dengan nasi bungkus seribu rupiah. Isinya, cuma nasi putih dan ikan bilis dicampur sambal. Ammar yang cuma sempat minum teh di rumahnya juga melahap nasi yang sama. Dimakan saat lapar, rasanya nikmat. “Habis mau beli apa lagi. Dari rumah, uang jajannya cuma seribu,” kata Ammar.

Delapan siswa tadi hanya sedikit dari ratusan anak hinterland yang berangkat ke sekolah menempuh jarak berkilometer-kilometer dan melintasi pulau-pulau kecil. Bahaya tak hanya mengancam mereka di laut, tapi juga di darat. Dua siswa SDN 24 Galang, misalnya, tewas tertabrak saat menyeberang jalan usai turun dari bus sekolah.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Muslim Bidin, anak-anak hinterland itu harusnya tak mendayung sampan sendiri. Pemko Batam sudah memberi bantuan uang transportasi yang bisa mereka gunakan untuk menyewa pompong atau sampan bermesin tempel. “Sehingga begitu sampai di sekolah, mereka tak terlalu capek. Tapi begitulah anak pulau,” tukasnya, Rabu (3/11).

Orang tua mereka rata-rata nelayan, dengan penghasilan yang pas-pasan. Banyak yang sepulang sekolah ikut melaut bersama orang tuanya, tak sempat belajar. Lalu setelah lulus SMP atau SMA ikut-ikutan jadi nelayan. Namun ada juga yang kuliah di kota atau mendapatkan bea siswa kuliah di Jawa.

Data di Dinas Pendidikan Kota Batam, dari 806 sekolah di Batam, 82 di antaranya berada di kawasan hinterland. Ke-82 sekolah itu tersebar di Galang, Bulang dan Belakang Padang. Di Galang misalnya, ada 25 SD, 24 sekolah negeri dan satu sekolah swasta. Juga ada delapan SMP dan 3 SMA dan satu MA. Di Belakang Padang, ada 16 SD, tujuh SMP dan 2 SMA. Di Bulang ada 12 SD, enam SMP dan satu SMA.

Sekolah-sekolah itu lokasinya berjauhan. Ada yang berdiri di pulau kecil, ada juga yang berada di kawasan ibu kota kecamatan. Di Galang misalnya, dari 25 SD, hanya sekitar sepuluh sekolah yang berada di ibu kota kecamatan, menyatu dengan Batam yang dihubungkan dengan enam jembatan. Selebihnya berdiri di pulau-pulau kecil dengan fasilitas yang memprihatinkan.

Masih di Galang, dari 37 sekolah, hanya SDN 24 Galang dan SMPN 22 Batam yang teraliri listrik dari PT Perusahaan Listrik Nasional (PLN) Batam. Di dua sekolah ini listrik menyala 24 jam. Namun di 35 sekolah lain, listriknya dialiri genset, yang kadang hanya menyala di malam hari.

***

Anasri Heriansyah, 17, berpegangan erat pada gagang pintu masuk bus sekolah. Satu kakinya menginjak tangga, satu kakinya lagi dia biarkan menggantung. Di sampingnya, M Syaifi, 17, dan Ricky Rahmat, 18, melakukan hal yang sama, berdiri di pinggir pintu masuk bus sekolah.

Senin (1/11) siang itu mereka hendak pulang bersama puluhan siswa SMAN 10 lain yang menyesaki bus sekolah itu. Kapasita bus hanya 32 tempat duduk. Namun penumpangnya tiga kali lipat. Banyak yang berdiri di sela-sela kursi, berhimpitan seperti sate. Tak ada pendingan ruangan. Semua penumpangnya terpaksa menahan rasa pengap. Yang tak kebagian berdiri di dalam, bergelantungan di pintu masuk.

Bus sekolah warna orange itu disopiri Asep Supena, 50, dari Damri. Setiap hari Asep membawa penumpang dari tempat pemberhentian bus di Tanjunguncang menuju Sijantung, Galang. Lalu dari Sijantung kembali ke Tanjunguncang. Jarak tempuhnya kira-kira 80 kilometer.

Bus Sekolah Kota Batam ada empat unit, melayani para siswa dan guru yang sekolah di kawasan Rempang-Galang. Bus-bus itu memiliki jalur tersendiri. Ada yang melayani Rempang Cate, ada yang ke Sijantung, ada yang melayani Kampung Baru-Air Lingka, ada yang melewati Air Lingka ke Tanjunguncang.

“Kapasitasnya hanya 32 kursi, tapi kadang kami mengangkut dua hingga tiga kali lipatnya,” kata Asep, Senin (1/11).

Bus-bus itu gratis buat para siswa dan guru. Anggaran operasionalnya dibiayai Pemko Batam. Setahun sekitar Rp1,2 miliar. Bus-bus itu mengangkut dan menurunkan siswa sepanjang perjalanan. Ada sekitar sepuluh sekolah yang dilewati. Tak hanya mengangkut siswa dari pulau-pulau kecil, tapi juga siswa dari kawasan kota yang bersekolah di hinterland.

Bus yang disopiri Asep, misalnya. Sudah mengangkut siswa dan guru sejak di Simpang Barelang, membawa mereka ke Tanjung Kertang. Di sini ada SDN 24 Galang dan SMPN 22 Batam. Ada yang turun, namun banyak juga yang baru naik menuju Sijantung, Galang atau sekolah-sekolah di sepanjang jembatan V Barelang.

Penumpangnya selalu penuh. Banyak siswa yang menunggu di pinggir-pinggir jalan. Asep tak berani mengebut. “Jalannya pelan karena penumpangnya banyak,” katanya.

Anasri Heriansyah tadi termasuk yang setiap hari naik bus sekolah. Dia tinggal di Pulau Munggak, Galang. Dari rumahnya, Asep naik pompong ke pelabuhan. Dari pelabuhan dia naik sepeda motor ke Simpang Munggak. Lalu setelah menitipkan sepeda motor, dia naik bus ke Sijantung.

Anasri bisa saja langsung naik sepeda motor ke Sijantung, tak perlu berdesak-desakan di dalam bus. Namun karena ingin mengirit bensin, dia memilih naik bus. “Kalau naik sepeda motor jauh, bensin bisa habis. Kalau naik bus kan hemat,” katanya.

Ada juga yang jalan kaki dari rumahnya seperti M Syafii. Dari rumahnya di pulau Blongkeng dia naik pompong, lalu jalan kaki menuju jalan raya menunggu bus sekolah. “Dari simpang jalan itu naik bus ke sekolah tiap hari, pergi-pulang,” tukas siswa kelas 2 IPS SMAN 10 Batam, itu.

***
Ranjang tiga tingkat itu tinggi menjulang, hampir mencapai langit-langit kamar. Dicat tiga warna, biru, merah dan kuning, terlihat seperti ranjang anak-anak. Di atasnya kasur tipis tanpa seprai menumpuk. Itulah ranjang di asrama siswa di SMAN 10 Batam di Sijantung, Galang.

Asrama itu kira-kira berukuran 18 kali 6 meter. Ruangannya disekat dua, dipisahkan lorong tempat penghuninya menonton televisi. Ada meja belajar, dapur dan lemari-lemari kecil. Dua lampu terpasang di langit-langit. Listrik menyala pukul enam sore hingga tengah malam. Lalu saat subuh hingga pukul enam pagi, listrik menyala kembali.

Dua tahun lalu, asrama itu diisi sekitar 20 siswa. Senin (1/11) lalu, tinggal sepuluh siswa. Yang lain memilih tinggal bersama orang tuanya atau tak betah. Asrama siswa itu diperuntukkan bagi siswa hinterland yang ingin menetap di area sekolah. Terutama untuk siswa yang tinggal di pulau-pulau kecil sekitar Rempang-Galang. Dengan begitu, mereka tak harus pulang pergi ke sekolah berjam-jam menempuh perjalanan laut dan darat.

Junaidi, 17, misalnya, sejak kelas satu hingga kini kelas dua SMA tinggal di asrama itu. Tempat tidurnya paling atas, di ranjang tingkat tiga itu. Selain Junaidi, asrama siswa itu dihuni Matheus Maruli, Sukri, Amri, Zamri, dan lima rekannya yang lain. Rata-rata mereka berasal dari pulau-pulau sekitar Galang seperti dari Tanjung Banun, pulau Abang, dan Sembulang.

Karena jarak dari rumah ke sekolah yang jauh, mereka memilih tinggal di asrama. Seperti Zamri yang berasal dari pulau Munggak. Dia pulang ke rumahnya sebulan sekali. “Kalau tiap hari pulang pergi, bisa dua jam di perjalanan,” kata Zamri.

Tiap hari mereka beraktivitas di area asrama dan sekolah. Aktivitas mereka terjadwal, ada piket yang harus mereka patuhi. Usai sekolah, mereka makan siang lalu istirahat tidur. Begitu magrib menjelang, mereka salat jamaah dilanjutkan dengan mengaji dan belajar. Anak-anak itu hanya diperkenankan nonton televisi sekali seminggu, tiap malam minggu.

Lemari dan ranjang ditanggung Pemko Batam. Begitu juga biaya operasional asrama dan makan mereka, tiga kali sehari. Semua gratis. Senin (1/11) siang, makan siang anak-anak asrama itu sepotong ikan tongkol dan sayur bening. “Biasanya makan ayam dan telur seminggu sekali,” kata Matheus.

Di sela-sela sekolah, mereka juga berolahraga atau menanam bunga. Sukri, misalnya, rajin menanam bunga beragam jenis. Mulai dari bunga dahlia, lidah mertua, keladi, mawar dan lainnya tumbuh subur di dalam pot. “Kebetulan saya suka tanaman. Semua bunga di asrama dan seolah ini saya yang tanam,” katanya.

Kadis Pendidikan Kota Batam Muslim Bidin, mengungkapkan, ada lima asrama siswa di Batam. Dua di kawasan kota, tiga di kawasan hinterland. “Tapi semuanya diperuntukkan bagi anak-anak hinterland agar tak capek pulang pergi sekolah,” kata Muslim.

Lima asrama itu berada di SMKN I di Batujai sebanyak tiga unit, di SMAN 5 di Sagulung dua unit, di SMAN 2 di Belakang Padang satu unit, di SMAN 11 di pulau Bulang dua unit dan di SMAN 10 di Sijantung satu unit. Siswa yang ditampung di lima asrama itu sekitar 255 siswa. Pemko Batam menganggarkan sekitar Rp1,5 miliar per tahun untuk asrama itu. Oktober lalu, Pemko juga menanggung 23 siswa SMP Anni’mah yang tadinya sekolah swasta, kemudian diambil alih Pemko Batam menjadi sekolah negeri berbasis pesantren.

“Semua gratis, termasuk makan siang ditanggung pemerintah,” kata Muslim, Rabu (3/11).

Menurut Muslim, tak ada persyaratan khusus bagi siswa yang ingin tinggal di asrama. Siapapun, asalkan anak hinterland, bisa tinggal di sana. “Tapi banyak juga yang tak mau dengan alasan tak bebas atau ingin membantu orang tuanya melaut,” katanya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s