Jangan Makyong Hilang di Bumi

Sanggar Tari Pantai Basri dari Pulau Panjang, Bulang, merupakan satu-satunya sanggar yang menyajikan opera Makyong di Batam. Setelah eksis hampir 40 tahun, sanggar itu terancam hilang. Kesulitan ekonomi, minimnya perhatian, membuat Makyong Pulau Panjang itu kehilangan nyawa.

Normah duduk bersandar di dinding. Tatapannya jauh menembus jendela kaca kusam di depannya. Perumahan Cipta Asri, Sagulung, akhir Juni sore itu sepi. Angannya melayang. Terbayang pesisir Pulau Panjang, Bulang, bermil-mil di sana. Terbayang wajah Basri. Lelaki bersahaja yang bertahun-tahun mendampinginya.

Lalu, tangan Normah bergerak. Jarinya mengetuk-ngetuk lututnya. Tanpa sadar, ia menyanyi. “Dari Jauh Terpandang Awang, Terpandang Awang Seorang Diri, Apa Kabar Awang, Berkabar Bilang.”

Lagu itu mengalun merdu. Hampir enam menit ia bernyanyi. Setelah itu ia berhenti. Normah mengambil napas. Dadanya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Kesedihan membuncah. Rabiah, 40, putrinya, membiarkan perempuan berumur 62 tahun itu melelehkan perasaannya.

“Ibu sering kangen sama bapak,” kata Rabiah, sore itu.

Normah adalah seniman Makyong dari Pulau Panjang. Ia satu-satunya penyanyi, pelakon, sekaligus penari Makyong, yang dipunyai Batam saat ini. Normah sudah bermain Makyong sejak tahun 1970. Saat itu ia kebagian peran sebagai dayang. Peran Raja, tokoh utama dalam opera Mak Yong, diperankan Mak Mumun. Basri, suaminya, pengiring musik di opera itu. Basri mahir menggesek biola.

Setelah Mak Mumun meninggal, peran Raja beralih ke tangan Normah. Basri bermain sebagai Awang, tokoh kedua dalam opera itu. Lagu yang Normah nyanyikan sore itu, lagu yang biasa ia bawakan ketika bermain Makyong. Ia memanggil-manggil Awang, tokoh yang identik dengan Basri. Basri meninggal awal tahun 2000 silam.

Basri dan Normah banyak mendapat undangan tampil di acara-acara pernikahan. Mereka tampil dari satu pulau ke pulau lain. Tahun itu, jembatan Barelang, yang menghubungkan pulau-pulau di kawasan Galang, Galangbaru, dan Batam, belum dibangun. Basri dan Normah memenuhi undangan naik perahu layar. Sesekali naik perahu bermesin tempel.

Dua atau empat hari sebelum tampil, Basri dan Normah berlatih dulu. Mereka mengumpulkan para pemain musik dari Bintan, Batam, dan pulau sekitarnya, di rumah mereka di Pulau Panjang. Ada 25 orang yang berkumpul. Mereka berbagi peran. Ada yang menjadi dayang, raja, pemain musik, prajurit, dan lainnya.

Tempat latihannya sebuah panggung yang ditopang tiang-tiang kayu bakau.
Mereka berlatih tekun. Menghafal dialog, lagu, dan tarian. Sekali tampil, biasanya mereka membawakan dua atau tiga cerita tradisional Melayu.

Makyong Sanggar Tari Pantai Basri tak bisa ditampilkan sekali seminggu. Selain perlu latihan, juga karena tak setiap minggu mereka dapat undangan. Di sela-sela kosongnya undangan, Basri dan Normah biasa tampil berdua. Mereka membawakan orkes Melayu. Basri menggesek biola, Normah menyanyi.

Di tahun 1980-an Basri dan Normah sering mewakili Batam tampil di acara-acara seni dan festival. Mereka tampil di Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan kota lain. Sesekali mereka diundang ke Melaka, Malaysia.

Sejumlah piagam penghargaan untuk Basri dan Normah disimpan oleh Dorani, 42, putra sulung mereka, di Pulau Panjang. Piagam-piagam itu dilapisi plastik. Disimpan di koper tua, peninggalan Basri. Ada sekitar sebelas penghargaan. “Terakhir bapak dapat penghargaan saat tampil di Yogyakarta. Itu tiga bulan sebelum bapak meninggal,” kata Dorani, di Pulau Panjang.

Basri dan Normah tak hanya tampil di panggung. Mereka juga melatih siswa-siswa sekolah dan orang-orang yang ingin belajar tari. Sebagian anak-anak pesisir, sebagian lagi datang dari Batam. Dari Jakarta dan Eropa juga ada.

Normah ingat, ada gadis Jerman yang tiba-tiba datang ke rumahnya di akhir tahun 1990. “Namanya Brigitte. Dia anaknya serius, ingin bisa nari,” tuturnya.

Brigitte, kata Normah, datang diantar pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam ke Pulau Panjang. Pertama kali datang, Brigitte langsung minta ditunjukin tarian jogi. Tari ini khas Batam, gerakannya mirip joget poco-poco. Namun, gerakannya lebih luwes.

Setelah itu, Brigitte rajin datang. Sekali seminggu ia belajar nari. Di rumah Normah, Bergitte bisa menginap dua atau tiga malam. Dalam sebulan, gerakan Brigitte sudah terbentuk. Dia hafal satu tari Melayu.

Saat hendak kembali ke Jerman, Brigitte menawari Normah ikut serta. Brigitte ingin mengenalkan Normah ke publik Jerman. “Katanya orang seperti saya itu langka,” kata Normah.

Namun, Normah menolak. Dia tak ingin pergi meninggalkan Pulau Panjang. Tak ingin meninggalkan anak-anaknya, juga kenangannya bersama Basri. Keluarga dan tanah kelahiran, katanya, lebih berharga dibanding harta melimpah di negeri orang. “Saya lebih baik di sini. Miskin tak apa-apa,” ujarnya.

Artis senior Trie Utami, juga termasuk yang pernah belajar menari di rumah Normah. Trie Utami, katanya, hanya belajar sehari. Dia minta diajari gerakan dasar tari Melayu. Dari siang sampai sore Normah mengajari Trie Utami.

Saat tampil di Jakarta, Normah kaget namanya dipanggil-panggil seorang wanita. “Mak Normah mana, Mak Normah mana,” kata Normah mengulang panggilan itu. Saat itu ia sedang di kamar hias. Ia kaget. Setelah pintu dibuka, ternyata di depan pintu sudah berdiri Trie Utami.

“Trie Utami bilang ke orang-orang, saya itu guru menari dia,” katanya.

Totalitas Mak Normah mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Tahun 2011, ia mendapatkan Anugerah Batam Madani sebagai tokoh yang berjasa di bidang Seni Budaya. Di ulang tahun Kota Batam ke-182, Wali Kota Batam menyematkan pin emas ke dada Normah.

Pin emas itu kini disimpan Normah di balik tumpukan baju di lemarinya. “Akan selalu saya simpan,” tukasnya.

Namun, segala penghargaan itu tak menjamin hidup Normah. Seperti seniman-seniman lain, ia hidup dalam keprihatinan. Akhir Juni itu, ia mengaku cuma memegang uang Rp20 ribu. “Ini untuk beli lauk buat besok,” katanya.

Normah tak lagi banyak manggung. Pagelaran Makyong sudah jarang muncul di depan publik. Tak tampil, berarti tak ada uang belanja. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia menjual jagung bakar. Di kios milik Dorani, di ujung jembatan I Barelang, Normah bisa ditemui saban sore.

Sejak tiga bulan lalu, ia tak lagi menjual jagung. Ia memilih merawat Rabiah. Rabiah mengidap kanker. Rabiah tinggal bersama putrinya, Putri Pertiwi, 12. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu. “Kini, sayalah yang merawat anak saya itu,” tukasnya.

Di rumah Rabiah itu keprihatinan hidup Normah bisa dilihat. Rumah itu tipe 28. Ada dua kamar dan satu ruang tamu berukuran 2,5 x 3 meter. Dapur menyatu dengan kamar mandi. Sebagian dinding rumah itu plasternya sudah rusak. Catnya terkelupas.

Normah sore itu sedang sakit perut. Ia mengusap-usapkan minyak angin ke perutnya. Sepanjang wawancara, ia beberapa kali bersandar di dinding. Sesekali minyak angin di botol kecil di tangannya itu ia cium.

Normah mengenakan kemeja kembang-kembang. Sebuah kemeja lama yang kusut. Ikat kepalanya berdaki. Ia beberapa kali menolak dipotret. “Baju saya jelek, tak usah difoto-foto dulu,” katanya.

Meski sakit perut, ia tetap mau diminta bercerita tentang Makyong. Gairahnya bangkit. Ia lupa besok pagi tak punya uang belanja. Tutur katanya lancar. Bahasanya polos. “Makyong itu warisan leluhur. Kalau jual jagung itu ya buat makan. Kalau hidup dari Makyong sekarang susah,” katanya.

Semua keprihatinan itu tak membuat Normah sedih. Ia tak menyesal meski kini hidupnya miskin. Membawakan Makyong menurutnya adalah tugas luhur. Ia menyimpan semua penghargaan dari penampilannya sebagai penari dan pemain Makyong, sebaik ia menyimpan kenangan-kenangannya.

Tak berniat menjual pin emas Anugerah Batam Madani itu? “Taklah. Meski tak punya uang, tak akan saya jual. Itu kenang-kenangan,” katanya.

***
Telepon itu datang menjelang senja. Dorani, 42, sedang mengisi bensin eceran ke botol-botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya. Ditekannya tombol ponselnya. Dari seberang seseorang menyapa.

“Pak, kami mau mengundang bapak tampil di Tanjungpinang.” Yang menelpon ternyata seorang mahasiswa dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Mahasiswa itu mengundang Dorani dan sanggarnya tampil di acara mereka.

“Kami sudah tak tampil lagi. Mohon maaf, tak bisa datang,” ujar Dorani.

“Tolonglah pak. Ada Pak Gubernur yang datang di acara kami,” si mahasiswa memohon. “Bukan tak mau, tapi memang sanggarnya sudah tak tampil lagi. Dah vakum,” Dorani tetap menolak.

Obrolah setahun lalu itu masih diingat betul oleh Dorani, putra sulung pasangan Basri dan Normah. Ia diminta menampilkan Mak Yong. Namun, ia menolak. Alasannya pelik, biaya yang harus ia keluarkan, lebih besar dari bayaran yang ia terima.

“Terakhir kali tampil, itu sudah dua tahun lalu. Habis itu kami tak pernah tampil lagi,” kata Dorani.

Dorani mewarisi Sanggar Tari Pantai Basri. Sejak ayahnya meninggal, ialah pemimpin sanggar itu. Padahal, awalnya Dorani menolak. Sejak remaja, ia tak mau lagi berkesenian. Ia memilih berdagang, berjualan bensin, membuka kios kecil di rumahnya.

Dorani remaja sering merasa sedih melihat hidup orang tuanya. Basri, disebutnya orang yang total berkesenian. Tak pernah menolak undangan tampil. Berapapun bayarannya, Basri pasti datang.

“Habis manggung biasanya bapak langsung melaut. Bayarannya tak cukup buat makan sehari-hari,” ujarnya. Itu yang bikin Dorani enggan mengikuti jejak ayahnya. Ia tak ingin bernasib seperti bapaknya. Dipuji-puji di atas panggung, tapi setelah itu dilupakan.

Tapi Basri tak pernah mengeluh. Dorani yang gregetan. Ia pernah meminta ayahnya berhenti bermain musik. “Tapi bapak tak mau. Katanya, melestarikan budaya Melayu tugas suci. Kalau bukan kita, siapa lagi,” kata Dorani.

Kata-kata ayahnya itu terngiang-ngiang terus di telinga Dorani. Ketika ayahnya meninggal, Dorani mau tak mau memimpin sanggar warisan ayahnya itu. Ia sempat bingung karena selama ini enggan latihan. Tangannya tak mahir menggesek biola atau menabuh gendang.

Bermalam-malam ia tidur di samping biola peninggalan ayahnya. Bermalam-malam pula ia berdoa. Harapannya satu, diberi keahlian menggesek biola. “Habis gitu saya bismillah aja, memohon agar bisa main biola,” katanya.

Berminggu-minggu Dorani berlatih. Tangannya pegal. Lehernya kaku. Namun ia mencoba terus. Ia tak mau mengecewakan orang tuanya. Dan kerja kerasnya terbayar. “Sekarang kalau ada yang minta main, saya cuma minta didengerin dulu nadanya. Setelah itu pasti bisa,” tukasnya.

Dorani melanjutkan Sanggar Tari Pulau Basri bersama adik-adiknya. Selain Dotani, ada lima anak Basri dan Normah yang semuanya mewarisi darah seni. Mereka Abdullah, 41, Rabiah, 40, Anda, 39, Zamri, 38, dan Zulkifli alias Igo, 37. “Dari semua saudara saya, yang paling mahir itu Igo. Dialah pewaris bapak,” kata Dorani.

Sepeninggal Basri, Sanggar Tari Pulau Basri masih sering memainkan Makyong. Pelakon dan pemusiknya sebagian besar saudara dan kawan-kawan Dorani di Pulau Panjang. Mereka tetap patuh aturan, selalu menampilkan cerita-cerita tradisional Melayu. Ada cerita Putri Siput Gondang, Raja Sang Nyaya, Raja Berna Sakti, Raja Sang Kiwi, dan Kijang Emas Tanduk Kencana.

Dari semua cerita itu, Mak Normah tetap memainkan peran utama sebagai Raja. Peran ini paling sulit. Pemain harus bisa menari, menyanyi, dan berdialog. Dialognya runtut. Kata-katanya tak boleh terputus antara satu dengan yang lain. Seperti lagu yang dinyanyikan Normah sore itu, kalimat kedua dan seterusnya harus berhubungan. Hal itulah yang membuat Mak Normah tak tergantikan. Tak ada pemain yang bisa menari, menyanyi, dan menghafal dialog panjang-panjang sekaligus.

Dorani dan Normah bahkan pernah berbulan-bulan jadi “dosen terbang” di Akademi Melayu Riau, di Pekanbaru. Di kampus itu, mereka mengajar Makyong dan tari.

Di sela-sela mengurusi sanggar, Dorani juga melatih anak-anak Pulau Panjang. Saban sore, mereka latihan menari. Dorani membentuk grup Makyong kecil. Makyong ini tak dimainkan 25 orang seperti yang biasa dilakukan Sanggar Tari Pulau Basri, tapi cukup dimainkan belasa anak-anak Pulau Panjang. Dua kali setahun mereka tampil, penontonnya para turis Singapura yang berkunjung ke Pulau Panjang.

Sore itu, Batam Pos sempat meminta Dorani memanggil anak-anak Pulau Panjang. Diiringi gesekan biola, dan tabuhan gendang, anak-anak Pulau Panjang itu menari jogi. Mereka masih lincah dan luwes, meski berbulan-bulan tak lagi latihan.

Kini, semua kegemerlapan Makyong jadi kenangan. Setidaknya itu yang dirasakan Dorani. Sejak dua tahun yang lalu, Dorani tak lagi mementaskan Makyong. “Bukan sepi undangan, tapi sudah tak sanggup,” tukasnya.

Mementaskan Makyong, kata Dorani, beda dengan menampilkan orkes Melayu biasa. Makyong menggabungkan seni peran yang dibalut iringan musik, syair, dan tarian topeng. Sekali tampil, Makyong membutuhkan minimal 25 pemain.

Dulu, para pemain itu bisa dengan mudah dikumpulkan. Mereka masih mau tampil tanpa berpikir bayaran. Namun, ketika para pemain berumah tangga, punya anak, mulailah faktor ekonomi jadi persoalan. Bayaran manggung kadang tak cukup membiayai latihan dan ongkos jalan ke lokasi manggung. Banyak pemain yang akhirnya memilih melaut.

Sekali tampil, kata Dorani, biasanya yang mengundang membayar mereka Rp5 juta. Bayaran itu, kata Dorani, tak cukup membiayai 25 pemain, ongkos perahu dari Pulau Panjang dan maupun ongkos kendaraan di darat. “Kadang kalau kawan-kawan kubilang ada undangan, mereka sudah menolak duluan. Mereka bilang, ‘sudahlah bang, tak usah lagi tampil. Anak-anak kita mau dikasih makan apa.’ Kalau sudah begitu, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Dorani.

Bisa saja, kata Dorani, ia menaikkan bayaran. Namun, Makyong bukan seperti orkes dangdut atau band terkenal yang bisa bernegosiasi. Para pengundangnya rata-rata hanyalah orang menikahkan anaknya, atau instansi pemerintah yang hanya memerlukan mereka di acara-acara kesenian dan budaya. “Mungkin kalau di atas Rp10 juta kawan-kawan masih mau tampil,” ujarnya.

Faktor inilah yang membuat Dorani menolak banyak undangan yang datang, termasuk dari mahasiswa tadi. Ia sungkan meminta bayaran. “Setiap kali diundang, saya selalu beralasan tak ada pemain,” ucapnya.

Selain soal biaya, faktor kesulitan mencari pengganti Normah juga jadi masalah. Sampai sekarang, Dorani belum menemukan pemain yang bisa bernyanyi, menari, sekaligus berperan seperti Normah. Dorani sudah melatih banyak orang, tapi belum menemukan pengganti. “Sementara emak (Normah) sudah tua. Sudah sering sakit, tak mungkin terus main Makyong,” katanya.

Rabiah, kata Dorani, pernah disiapkan untuk menggantikan Normah. Namun, adiknya itu menderita kanker. Sering masuk rumah sakit. “Andai dia sehat, mungkin dia yang bisa menggantikan emak,” tuturnya.

Faktor ekonomi, sulitnya mencari pemain, hal-hal inilah yang menurut Dorani menjadi akhir kesenian Makyong. “Makyong akan hilang dari tanah Melayu ini. Kalau ingat pesan bapak, saya sedih. Tapi tak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

***
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Nyat Kadir mengatakan keluhan Dorani dan para pemain Makyong wajar. Harusnya, kata Nyat, Pemerintah Kota Batam memperhatikan nasib mereka. “Saya prihatin. Wajar jika mereka merasa begitu karena perhatian pemerintah minim,” kata Nyat Kadir.

Jika Pemerintah Kota Batam tak memperhatikan masalah Makyong dan kesejahteraan pemainnya, Nyat khawatir Makyong akan benar-benar hilang di Batam. “Tragis kalau Makyong, kesenian Melayu, itu hilang di tanah Melayu,” ujarnya.

Mumpung para pemain Makyong masih ada, kata Nyat, belum terlambat jika Pemko Batam ingin menyelamatkan kesenian khas Melayu itu. Caranya, dengan mengalokasikan dana khusus di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menyelamatkan nasib Makyong.

Pemerintah, kata Nyat, bisa membiayai pementasan Makyong, dan melakukan revitalisasi kesenian itu. “Makyong juga bisa diajarkan di sekolah-sekolah,” katanya.

LAM, kata Nyat, tak bisa berbuat banyak. Selain karena tak punya dana, fokus LAM lebih ke pelestarian adat istiadat. “Ini persoalan bersama yang harus dicari solusinya bersama-sama,” ujarnya. LAM, kata Nyat, akan berkunjung ke Pulau Panjang, melihat langsung Sanggar Tari Pantai Basri.

Nyat mengusulkan agar Makyong disuguhkan dengan cara berbeda. Misalnya, mencontoh Opera Van Java, yang saban malam muncul di televisi. “Ini untuk menyiasati selera penonton. Keseniannya tetap lestari, begitu juga pesan-pesannya tetap sampai. Hanya penyajiannya saja yang beda,” tukasnya.

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengaku Pemko Batam sudah membantu sanggar-sanggar di Batam. Di APBD Batam ada alokasi bantuan untuk sanggar-sanggar itu. “Saya lupa jumlahnya, cuma ada alokasi dananya,” tukasnya.

Soal usulan Nyat, Dahlan mengatakan akan memperhatikannya. “Masukan itu akan kami perhatikan,” tuturnya.

Bila ukurannya bantuan, bisa jadi Pemko Batam sudah membantu Dorani. Tiga tahun lalu, Dorani pernah menerima bantuan biola dari Ahmad Dahlan. Seperti Normah yang menyimpan pin emas pemberian Dahlan, Dorani juga menyimpan biola itu. ***

One response to “Jangan Makyong Hilang di Bumi

  1. Pertama kali saya baca blog awak… saya kurang bersetuju dengan idea2 awak… tapi setelah baca berulang kali… saya dah faham… saya minta maaf sbb buruk sangka dengan awak selama nie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s