Jatuh Hati kepada Waktu

Waktu. Tiba-tiba saya ingin menulis tentang waktu. Tentang masa, tentang tempo. Tentang apa yang tak akan pernah kembali lagi. Saya jatuh hati kepada waktu.
Waktu punya banyak arti. Sejak kecil saya sudah mendengar ungkapan, waktu adalah uang. Juga sudah kudengar, waktu adalah sesuatu yang paling jauh, sesuatu yang tak akan bisa kamu datangi lagi. Tuhan juga bersumpah demi masa.
Bagi saya, waktu juga punya banyak makna. Setiap kali bepergian, mengunjungi banyak tempat dalam satu hari, saya pasti tertegun sebentar, merasa betapa misteriusnya waktu. Saya tak pernah bisa, untuk sejenak menghentikan waktu. Tak bisa untuk, misalnya kembali lagi ke masa lalu, atau meluncur ke masa depan.
Saya pakai kata, saya tak bisa menghentikan waktu, bukan “kita”, karena saya percaya, ada sebagian orang yang bisa melakukannya. Nabi agung, Muhammad, termasuk yang melintasi ruang dan waktu. Dalam kisah-kisah sufi, saya juga mendapati, banyak orang-orang “arif” yang bisa melakukannya.
Waktu berhubungan dengan ruang. Berhubungan dengan kefanaan, berhubungan dengan sesuatu yang akan hancur, sesuatu yang tak akan bisa kembali lagi. Namun, waktu sungguh sangat unik. Waktu juga menempatkan dirinya dalam keabadian, dalam kenangan banyak orang.
Dejavu membuktikan soal misteriusnya waktu. Saya seperti dipaksa mengulang lagi, apa yang saya lakukan dulu, dipaksa untuk menerima lagi apa yang saya alami dulu.
Banyak kisah cinta yang tak lekang dimakan waktu. Dan kadang-kadang, saya merasa waktu mengulang kisah itu, dalam diri orang lain, bahkan dalam diri kita.
Waktu menguji hati, menguji ketabahan kita. Banyak yang tak bisa mempertahankan prinsip-prinsip hidupnya seiring dengan berlalunya waktu. Mereka yang hari ini berbicara, bersikap selalu A, bisa jadi besok atau lusa akan berubah, akan melakukan B atau C.
Waktu juga menguji kesetiaan, menguji mana yang sejati dan mana yang palsu. Dan sejarah membuktikan, hanya mereka yang mampu melewati ujian waktu, yang selamanya akan dikenang sejarah. Dalam diri kita pun begitu, hanya mereka yang setia yang tersimpan lekat dalam ingatan dan kenangan kita.
Karena waktu adalah ujian, dia membongkar kebohongan, membongkar kepalsuan. Mereka yang hari ini berbohong, suatu hari nanti akan terbuka kebohongannya. Waktu punya cara sendiri membuka segalanya. Dan bagi saya, waktu juga bijak, dia membuka apa yang harus dibuka, menutupi apa yang harus ditutupi. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s